Satu Pelukan Nenek Katarina yang Menyelamatkan Nyawa Cucunya di Tengah Runtuhan Gempa NTT
Kabarnusantaraku.com – Guncangan dahsyat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang menghantam Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8) meninggalkan luka fisik sekaligus trauma mendalam bagi para korban. Di antara kisah-kisah pilu itu, satu momen menjadi simbol keberanian seorang nenek: Katarina Dadona yang memeluk erat cucunya, Karolin Selomita, berusia tiga tahun, ketika tembok rumah mereka ambruk.
Kondisi Sebelum Gempa: Batuk, Kurang Tidur, dan Niat Memberi Makan
Karolin tinggal bersama neneknya di Gongger, Kabupaten Manggarai Timur, karena kedua orang tuanya bekerja di Bali. Malam sebelum gempa, anak kecil itu sudah tampak tidak sehat — batuk keras dan nyaris tidak tidur. Menjelang subuh, Katarina berniat menyiapkan makanan untuk cucunya.
“Ini batuk, batuk keras, dia kurang tidur. Sehingga pas waktu subuh itu, pas dia bangun, saya mau kasih makan, dia bangun pipis, saya mau kasih makan, dia tidak mau. Akhirnya dia tidur lagi sambil nonton HP. Pas jam 5 subuh, guncang sudah.”
Pintu Terkunci, Tembok Runtuh, dan Pelukan yang Menjadi Perisai
Saat getaran pertama menghantam sekitar pukul lima pagi, Katarina segera menggendong Karolin menuju pintu keluar. Namun, pintu masih terkunci dan sulit dibuka di tengah bangunan yang bergoncang hebat. Ia dan anggota keluarga lain terpaksa mendobrak jendela agar bisa keluar lebih dulu.
“Langsung saya ini bawa gendong cucu saya ini mau keluar. Apa nih, mau buka pintu, pintunya tidak terbuka, terkunci masih. Langsung kami dobrak, ini bapaknya dobrak ini jendela. Langsung mereka keluar duluan, bapaknya sama cucu ini keluar duluan, kami dengan ini dari belakang.”
Baru saja Katarina hendak menyusul keluar, tembok bagian depan rumah tiba-tiba roboh. Tanpa berpikir panjang, sang nenek memeluk Karolin rapat-rapat. Tubuhnya sendiri menjadi tameng ketika puing-puing beton dan batu menghantam dari atas.
“Akhirnya ini tembok nih ketindih sama aku, saya ini sama ini.”
“Luka semua, kepala sama ini bagian belakang. Ini cucu saya di bawah ini, di bawah pelukan. Mungkin pecahan batu, pecahan tembok itu melenting ke kepalanya. Posisi dia di bagian bawah. Saya yang peluk dia, tertahan dengan tembok.”
Luka Karolin: Empat Jahitan di Dahi dan Serpihan di Sekitar Mata
Karolin mengalami luka robek di bagian dahi yang cukup serius hingga memerlukan empat jahitan. Selain itu, serpihan bangunan juga melukai area sekitar pelipis matanya.
“Terbelahnya di dahi. Dijahit empat kali.”
“Ada ini, ada ini Pelipis matanya, mungkin pecahan apa, tembok-tembok tuh.”
Penyelamatan oleh Anak Katarina dan Evakuasi ke Rumah Sakit
Anak perempuan Katarina yang lebih muda kemudian mendorong tembok yang menimpa keduanya hingga mereka berhasil keluar melalui jendela. Keduanya langsung dilarikan ke Rumah Sakit Pratama.
“Untung anak saya yang itu, yang muda itu, yang tolak temboknya sehingga kami bisa keluar dari jendela. langsung kami dibawa lari ke rumah sakit Pratama.”
Namun, karena gempa susulan kembali mengguncang dengan kekuatan keras, perawatan di rumah sakit tidak dapat dilanjutkan. Mereka dibawa pulang terlebih dahulu. Seorang anggota TNI kemudian menjemput keduanya dan mengantar ke posko pengungsian di Kecamatan Mata Air Barang Kolong, Reo, Manggarai, NTT.
“Sampai di sana karena guncangannya keras lagi, akhirnya kami tidak bisa rawat di di sana, langsung kami bawa pulang ke rumah. Sampai di rumah ini nanti ada pak tentara itu yang pergi kunjung kami itu, langsung bawa ke sini, ke posko sini.”
Rumah Rata Tanah, Tiga Hari di Tenda Terbuka, dan Luka yang Masih Perih
Rumah keluarga Katarina di Gongger, Lambaleda Utara, kini sudah rata dengan tanah. Selama tiga hari di pengungsian, mereka terpaksa tidur di tenda terbuka. Kondisi itu membuat Karolin masih mengeluh sakit di kepalanya.
“Hancur rumahnya rata, rata tanah.”
“Ngeluhnya perih kepalanya. Masih perih di kepalanya katanya gitu. Kena angin flu. Memang kami-kami tidurnya posisi terbuka begitu.”
Untuk sementara, Karolin hanya mampu menelan makanan dalam jumlah sangat sedikit — sekadar sesendok bubur atau nasi, ditambah susu agar obatnya tetap bisa ditelan.
“Ini untuk sementara dia makan bubur atau nasinya hanya sesendok saja, sama susu.”
Orang Tua di Bali Menangis; Katarina Trauma tapi Bersyukur
Kabar luka Karolin sampai ke kedua orang tuanya di Bali. Mereka menangis dan berencana segera pulang begitu jadwal kapal tersedia.
“Kalau kapalnya sudah jalan ada jadwal jalan, mungkin kembali ke sini mereka.”
Bagi Katarina, pengalaman itu mengubah cara ia memandang bencana. Selama ini gempa hanya ia saksikan lewat layar televisi. Kali ini, dahsyatnya getaran ia rasakan langsung di tubuh dan di sekitar dirinya.
“Traumanya luar biasa. Selama ini kan kami hanya lihat di TV itu, tapi ini yang kami rasakan luar biasa, sungguh luar biasa.”
Walaupun rumahnya hancur total dan dirinya bersama cucu terluka, Katarina memilih bersyukur karena masih diberi keselamatan oleh Tuhan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Pelukan Nenek Katarina Lindungi Cucunya?
Pelukan Nenek Katarina Lindungi Cucunya is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Pelukan Nenek Katarina Lindungi Cucunya matter?
Pelukan Nenek Katarina Lindungi Cucunya matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

