Eks Ketua MK Hamdan Zoelva Dukung PPP di 2029: “Harus Tetap Eksis”
Kabarnusantaraku.com – Di tengah suasana Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Partai Persatuan Pembangunan yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (20/8), Eks Ketua MK Hamdan Zoelva tampil bukan sebagai kader partai, melainkan sebagai pemimpin organisasi keagamaan yang memiliki ikatan historis langsung dengan PPP. Kehadirannya memicu perhatian karena ia menyampaikan pesan tegas: partai berakar pada tradisi ulama itu wajib mempertahankan eksistensinya di panggung politik nasional menjelang kontestasi Pemilu 2029.
Akar Historis Syarikat Islam dan Tanggung Jawab terhadap PPP
Ketua Umum PPP Muhamad Mardiono menjelaskan bahwa kehadiran Hamdan Zoelva dalam forum internal partai bukan sekadar kehormatan protokol, melainkan konsekuensi logis dari relasi struktural antara Syarikat Islam (SI) dan PPP. Dalam analogi yang ia kemukakan di hadapan para pengurus, SI menempati posisi setara dengan pemegang saham di sebuah perseroan terbatas.
“Jadi saya tambahin, Syarikat Islam itu adalah pemegang sahamnya PPP,” ujar Mardiono.
Dengan kerangka berpikir tersebut, Mardiono menegaskan bahwa siapa pun yang memimpin SI otomatis memikul tanggung jawab organisatoris terhadap keberlangsungan PPP. Hamdan, selaku ketua SI, berada tepat di posisi itu. Mardiono menutup penjelasannya dengan kalimat yang menegaskan dimensi personal sekaligus institusional dari keterlibatan Hamdan.
“Nah sehingga tentu Prof Hamdan sebagai pemimpin dari Syarikat Islam, ya tentu otomatis punya tanggung jawab terhadap kepengurusan Partai PPP,” pungkasnya.
Relasi ini bukan sekadar simbolis. PPP lahir dari rahim gerakan keagamaan yang sama dengan SI, sehingga setiap dinamika di tubuh SI berimbas langsung pada arah kebijakan dan legitimasi sosial partai. Dalam konteks itu, dukungan Hamdan Zoelva terhadap PPP bukan pilihan politik biasa, melainkan pengakuan atas warisan ideologis yang telah mengakar selama puluhan tahun.
Dukungan Personal Tanpa Afiliasi Partai
Yang membedakan posisi Hamdan dari tokoh-tokoh publik lain yang kerap merapat ke partai tertentu adalah ketegasannya bahwa ia tidak terikat pada afiliasi politik mana pun. Di hadapan ratusan kader dan pengurus PPP, ia menyatakan dukungan secara eksplisit kepada Mardiono secara pribadi sekaligus kepada PPP sebagai institusi.
“Saya mau memberikan dukungan, dukungan kuat kepada Pak Mar, dan dukungan kepada PPP sekaligus. Saya tidak berpartai,” kata Hamdan.
Pernyataan ini penting karena menempatkan Hamdan sebagai figur independen yang memberikan legitimasi moral tanpa mengorbankan independensi organisasinya. Bagi PPP, dukungan semacam itu memiliki bobot simbolis yang sulit diukur dengan hitungan kursi DPR, mengingat Hamdan Zoelva pernah memimpin lembaga peradilan tertinggi dan kini memimpin organisasi keagamaan dengan jutaan anggota.
Jendela Waktu Tiga Tahun Menuju Pemilu 2029
Inti pesan Hamdan dalam pidato pembukaannya berpusat pada satu kesadaran waktu: PPP masih memiliki sekitar tiga tahun untuk melakukan konsolidasi internal sebelum menghadapi arena elektoral 2029. Ia menolak narasi bahwa partai bersejarah itu telah kehilangan relevansi, dan justru menekankan bahwa akar panjangnya sebagai warisan para ulama merupakan modal sosial yang belum sepenuhnya tergarap.
“Masih ada waktu 3 tahun, 3 tahun lagi PPP. Dan saya merasa PPP ini penting harus tetap eksis karena ini partai warisan para ulama,” kata Hamdan.
Peran Hamdan dalam Rakornas tersebut dibatasi pada penyampaian ceramah dan pembekalan bagi kader serta pengurus. Ia tidak mengambil posisi struktural di kepengurusan partai, melainkan hadir sebagai pemikir yang menyumbangkan perspektif strategis. Harapan yang ia nyatakan secara terbuka adalah agar sumbangsih pemikirannya turut mendorong PPP kembali menempati posisi sebagai kekuatan politik utama di kancah nasional.
“Saya kira karena itu saya hadir di sini memberikan sekedar ceramah dan pembekalan. Sebagai sumbangsih ikut memikirkan tentang kembalinya PPP menjadi partai besar,” ujarnya.
Bagi pengamat politik, pesan tiga tahun ini berfungsi sebagai pengingat bahwa konsolidasi organisasi, pembaruan basis pemilih, dan penguatan narasi ideologis harus berjalan paralel. Tanpa langkah konkret dalam rentang waktu tersebut, dukungan moral dari figur seperti Hamdan akan tetap berhenti pada retorika tanpa dampak elektoral.
FAQ
Siapa Hamdan Zoelva dan apa perannya dalam Rakornas PPP?
Hamdan Zoelva adalah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi yang kini memimpin organisasi Syarikat Islam. Dalam Rakornas PPP di Jakarta (20/8), ia hadir sebagai pembicara tamu untuk memberikan ceramah dan pembekalan bagi kader serta pengurus partai, tanpa mengambil posisi di kepengurusan.
Bagaimana hubungan antara Syarikat Islam dan PPP?
Ketua Umum PPP Muhamad Mardiono menggambarkan SI sebagai “pemegang saham” PPP, merujuk pada ikatan historis dan organisatoris yang menjadikan SI entitas pendiri sekaligus penopang ideologis partai. Setiap pemimpin SI, termasuk Hamdan Zoelva, secara otomatis memikul tanggung jawab terhadap keberlangsungan PPP.
Apakah Hamdan Zoelva berafiliasi dengan partai politik?
Tidak. Dalam pernyataannya di hadapan pengurus PPP, Hamdan secara eksplisit menegaskan bahwa ia tidak berpartai. Dukungannya kepada PPP dan kepada Mardiono bersifat personal dan moral, bukan konsekuensi dari keanggotaan partai.
Apa pesan utama Hamdan terkait Pemilu 2029?
Hamdan menekankan bahwa PPP masih memiliki jendela waktu sekitar tiga tahun untuk berbenah diri. Ia menilai eksistensi partai sebagai warisan para ulama tidak boleh diabaikan dan harus dipertahankan melalui konsolidasi internal yang serius sebelum kontestasi elektoral 2029.
