Skip to content
Yellow Desk
Agustus 29, 2026
Kumparanbisnis

DTSEN Jadi Rujukan Bersama, BPS Jelaskan Arti Desil

Sandra Davis - kabarnusantaraku.com 4 mins read

Istilah "desil" kerap menimbulkan kesalahpahaman di kalangan masyarakat. Padahal, angka desil bukan tolok ukur absolut kemiskinan, bukan pula cerminan nominal

DTSEN Jadi Rujukan Bersama, BPS Jelaskan Arti Desil

Memahami Desil: Posisi Relatif Keluarga dalam DTSEN

Kabarnusantaraku.com – Istilah “desil” kerap menimbulkan kesalahpahaman di kalangan masyarakat. Padahal, angka desil bukan tolok ukur absolut kemiskinan, bukan pula cerminan nominal pendapatan atau kekayaan sebuah rumah tangga. Yang dimaksud adalah pengelompokan keluarga ke dalam sepuluh strata berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraannya terhadap keluarga-keluarga lain. Setiap strata mencakup kurang lebih sepuluh persen dari total keluarga yang terdata.

Strata pertama (desil 1) menandai kelompok dengan posisi kesejahteraan relatif paling rendah, sementara strata kesepuluh (desil 10) menandai kelompok dengan posisi relatif paling tinggi. Seorang keluarga yang tercatat pada desil 3 berarti menempati kelompok ketiga dari sepuluh kelompok dalam pemeringkatan tersebut. Penting dicatat bahwa keluarga-keluarga dalam satu desil yang sama tidak otomatis memiliki profil pendapatan, pola pengeluaran, maupun kondisi sosial ekonomi yang identik.

Pernyataan Resmi Kepala BPS

Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, menegaskan bahwa angka desil harus dibaca sebagai pemeringkatan relatif, bukan sebagai satu-satanya indikator kondisi ekonomi.

“Desil menunjukkan posisi relatif suatu keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi. Karena itu, angka desil perlu dipahami sebagai gambaran posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan, bukan sebagai ukuran tunggal kondisi ekonomi suatu keluarga.”

Pernyataan tersebut disampaikan melalui keterangan tertulis di Jakarta pada Jumat (21/8).

Metodologi di Balik Pemeringkatan

Penetapan posisi desil tidak bertumpu pada satu indikator tunggal seperti besaran penghasilan, kepemilikan satu jenis barang, daya listrik, jenis pekerjaan, maupun parameter spesifik lainnya. Sebaliknya, pemeringkatan mempertimbangkan sejumlah karakteristik sosial ekonomi secara simultan, meliputi kondisi perumahan, akses sumber air minum, bahan bakar dan energi untuk memasak, kepemilikan aset, daya serta konsumsi listrik, komposisi anggota keluarga, tingkat pendidikan, status pekerjaan, kondisi kesehatan, dan disabilitas.

Kombinasi informasi tersebut diproses melalui metode statistik bernama Proxy Means Test (PMT). Pendekatan ini mengestimasi tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan karakteristik yang dapat diamati secara langsung. PMT merupakan pendekatan yang juga diterapkan secara internasional, khususnya ketika data pendapatan atau konsumsi rumah tangga sulit diperoleh maupun diverifikasi secara utuh. Dengan mengandalkan kombinasi banyak variabel, satu kondisi atau satu indikator saja tidak secara otomatis menentukan posisi desil sebuah keluarga.

DTSEN sebagai Rujukan Bersama Pemerintah

Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) kini berfungsi sebagai basis informasi terpadu yang menopang perencanaan, penetapan sasaran, dan evaluasi berbagai program pemerintah. Melalui satu rujukan data yang terintegrasi dan diperbarui secara berkala, kementerian/lembaga dapat bekerja berdasarkan basis informasi yang seragam sehingga kebijakan dan program menjadi lebih tepat sasaran. Kerangka pemanfaatan DTSEN diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025.

Dalam operasionalnya, BPS memegang tanggung jawab penyusunan dan pengelolaan DTSEN. Kementerian/lembaga serta pemerintah daerah berperan sesuai tugas dan kewenangan masing-masing, antara lain sebagai penyedia sumber data sekaligus penopang pemutakhiran berkelanjutan.

Jejak Historis dan Sinkronisasi Data

DTSEN dibangun dengan mengintegrasikan tiga sumber data utama: Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE), dan Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek). Data tersebut kemudian diperkaya dengan berbagai data administratif serta disinkronkan secara berkala dengan data kependudukan yang dikelola Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dirjen Dukcapil) di bawah Kementerian Dalam Negeri.

Fungsi Praktis dan Dinamika Perubahan

Desil berfungsi sebagai instrumen pemeringkatan yang membantu pemerintah mengenali kelompok masyarakat berdasarkan posisi kesejahteraan relatifnya. Kementerian/lembaga dapat menjadikan informasi tersebut sebagai salah satu dasar dalam menentukan sasaran atau prioritas program, sesuai tujuan dan ketentuan masing-masing program. Dengan kata lain, desil bukanlah daftar penerima manfaat suatu program, dan penggunaannya selalu harus dibaca dalam konteks program yang bersangkutan.

Posisi desil bersifat dinamis: ia dapat bergeser seiring perubahan kondisi sosial ekonomi sebuah keluarga serta pergeseran posisi relatifnya terhadap keluarga lain. Oleh karena itu, relevansi DTSEN perlu terus dijaga melalui pemutakhiran data secara berkala. Perlu pula dipahami bahwa perubahan pada satu indikator saja tidak otomatis menggeser posisi desil, mengingat pemeringkatan mempertimbangkan berbagai karakteristik secara bersama-sama.

Frequently Asked Questions

What is DTSEN Jadi Rujukan Bersama BPS Jelaskan?

DTSEN Jadi Rujukan Bersama BPS Jelaskan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does DTSEN Jadi Rujukan Bersama BPS Jelaskan matter?

DTSEN Jadi Rujukan Bersama BPS Jelaskan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *