KabarNusantaraku
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Harga Minyak Mentah Naik 2,65 Persen, Pasar Khawatir Trump Serang Oman

Published Agustus 18, 2026 · Updated Agustus 18, 2026 · By Daniel Lopez - kabarnusantaraku.com

Foto : Daniel Lopez - kabarnusantaraku.com

Harga Minyak Mentah Naik 2,65 Persen: Ancaman Trump ke Oman Guncang Pasar Energi

Kabarnusantaraku.com – Pasar energi global bergetar pada perdagangan Senin (17/8) setelah harga minyak mentah naik 2,65 persen dalam satu sesi, melampaui USD 2 per barel. Pemicu utamanya bukan data makro, melainkan retorika keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mendesak Iran menyerah tanpa syarat dan mengancam akan menyerang Oman apabila negara Teluk itu menghalangi langkah Washington. Ketakutan akan gangguan pasokan mendominasi sentimen pelaku pasar sepanjang hari.

Pergerakan Harga di Penutupan

Kontrak berjangka Brent, acuan internasional, ditutup menguat USD 2,35 atau 2,65 persen ke USD 90,87 per barel. Di pasar domestik AS, West Texas Intermediate (WTI) mencatat kenaikan USD 2,10, setara 2,55 persen, ke USD 84,50 per barel. Kedua acuan tersebut mencatat lonjakan terbesar dalam beberapa pekan terakhir, dipicu langsung oleh pernyataan Gedung Putih yang dikutip Reuters.

Retorika Trump dan Peran Oman sebagai Perantara

Trump menegaskan bahwa Washington tidak berniat memperpanjang nota kesepahaman dengan Teheran dan menilai Iran tidak akan memenuhi syarat yang diminta. Dalam pernyataan Selasa (18/8), ia menyampaikan pesan tanpa ambiguitas:

"Iran harus mengibarkan bendera putih tanda menyerah."

Lebih tajam lagi, Trump menargetkan Oman yang tengah berperan sebagai mediator diplomatik antara kedua negara:

"Jika Oman menghalangi, kami akan menghancurkan mereka."

Pernyataan tersebut langsung mengubah ekspektasi pelaku pasar dari optimisme negosiasi menjadi skenario terburuk gangguan pasokan di kawasan Teluk.

Respons Teheran dan Ketegangan di Selat Hormuz

Pejabat senior Iran merespons dengan menyatakan kesiapan meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya. Teheran juga memperingatkan bahwa serangan militer akan dilancarkan apabila AS gagal menerapkan kesepakatan perdamaian sementara secara penuh dalam hitungan pekan. Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menyampaikan pada akhir pekan bahwa keputusan untuk kembali membuka jalur perundingan belum diambil. Juru bicara Kemlu, Esmaeil Baghaei, menambahkan bahwa pembicaraan dengan Oman terkait pengelolaan Selat Hormuz masih berlangsung namun memerlukan waktu karena kompleksitas isu dan keterlibatan banyak pemangku kepentingan.

Data Pelayaran dan Pandangan Analis

Pelacakan kapal dari Kpler memperlihatkan kontraksi dramatis aktivitas di Selat Hormuz: hanya lima kapal komoditas melintas pada Sabtu, dan nol pada Minggu, anjlok dari 31 pada pekan sebelumnya. Menteri Energi AS Chris Wright menilai Trump memiliki ruang strategis menunggu hingga sanksi ekonomi menekan Iran, seraya meminta masyarakat menerima kenaikan harga bensin sementara konflik berlangsung. Frank Walbaum dari Naga.com menambahkan bahwa kebuntuan negosiasi ditambah perlambatan pelayaran membatasi ruang penurunan harga, sehingga crude diperkirakan berkonsolidasi di level saat ini tanpa katalis baru.

FAQ: Hal yang Perlu Dipahami

Berapa kenaikan harga minyak mentah pada Senin (17/8)? Brent menguat 2,65 persen ke USD 90,87 per barel; WTI naik 2,55 persen ke USD 84,50 per barel.

Apa pemicu utama lonjakan tersebut? Pernyataan Trump yang mengancam menyerang Oman dan mendesak Iran menyerah total, yang memicu ketakutan pasar akan gangguan pasokan dari kawasan Teluk.

Apakah Selat Hormuz benar-benar ditutup? Belum ditutup secara resmi, namun volume pelayaran anjlok tajam—dari 31 kapal menjadi hanya lima dalam satu akhir pekan—menunjukkan perlambatan signifikan arus komoditas.

Bagaimana prospek jangka pendek harga energi? Para analis memperkirakan konsolidasi di level tinggi selama tidak ada katalis baru, baik dari sisi negosiasi maupun gangguan fisik terhadap jalur pelayaran.

Related Reading