KabarNusantaraku
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Harga Minyak Turun USD 2, Investor Ambil Untung di Tengah Sanksi Iran

Published Agustus 25, 2026 · Updated Agustus 25, 2026 · By Mary Davis - kabarnusantaraku.com

Foto : Mary Davis - kabarnusantaraku.com

Investor Realisasi Keuntungan, Harga Minyak Anjlok Lebih dari USD 2 per Barel

Kabarnusantaraku.com – Pasar minyak global mengalami koreksi tajam pada perdagangan Senin (24/8), ketika kontrak berjangka Brent dan WTI kompak merosot lebih dari USD 2 per barel. Berdasarkan laporan Reuters yang dikutip Selasa (25/8), kontrak Brent ditutup di level USD 92,17 per barel setelah melemah USD 2,22 atau 2,35 persen. Di sisi lain, minyak mentah WTI Amerika Serikat turun USD 2,05 atau 2,35 persen ke USD 85,01 per barel.

Aksi jual ini dipicu oleh keputusan investor untuk merealisasikan keuntungan setelah kedua kontrak mencatat reli selama dua pekan beruntun. Pada pekan sebelumnya, Brent maupun WTI bahkan melonjak lebih dari 5 persen secara mingguan, menciptakan ruang bagi pelaku pasar untuk mengunci laba.

Perluasan Sanksi AS terhadap Iran

Penurunan harga ini terjadi di tengah eskalasi kebijakan Washington terhadap Teheran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan pada Senin perluasan sanksi sekunder yang dapat dikenakan kepada entitas bisnis maupun negara yang tetap menjalin hubungan komersial dengan Iran. Langkah tersebut merupakan bagian dari intensifikasi tekanan ekonomi Amerika Serikat saat konflik dengan Teheran memasuki hampir enam bulan.

Pengumuman Bessent juga datang setelah Presiden Donald Trump mengancam pekan lalu akan menerapkan "perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya" terhadap Iran.

Reaksi Analis Pasar

"Tidak banyak hal baru yang disampaikan Bessent, selain apa yang sebelumnya sudah diperkirakan," ujar Pavel Molchanov, analis strategi investasi di Raymond James.

Molchanov menilai reli harga pada pekan lalu-lah yang memicu aksi ambil untung di perdagangan Senin. Ia juga meragukan kemampuan Gedung Putih untuk menghasilkan dampak ekonomi yang benar-benar baru terhadap Iran.

"Apakah Gedung Putih dapat menghasilkan sesuatu yang belum pernah dicoba sebelumnya dan memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap perekonomian Iran? Kami akan percaya setelah melihatnya," kata Molchanov.

Dari sisi geopolitik, Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di Rystad Energy, menekankan bahwa efektivitas sanksi baru sangat bergantung pada ketegasan penegakan Washington terhadap mitra dagang Iran yang tersisa.

"Pertanyaan sebenarnya sekarang adalah seberapa agresif Washington bersedia menegakkan sanksi sekunder terhadap mitra dagang Iran yang masih tersisa," kata Leon.

"Kecuali China secara signifikan mengurangi pembeliannya lebih jauh, dampak tambahan terhadap pendapatan minyak Iran kemungkinan akan relatif terbatas," tambahnya.

Respons Iran dan Upaya Mediasi

Teheran mengecam rencana penerapan sanksi baru tersebut. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan penyelesaian sengketa melalui jalur diplomasi. Pada hari yang sama, Kepala Angkatan Darat Pakistan melakukan kunjungan ke Teheran untuk pembicaraan mediasi, tepat menjelang pengumuman sanksi oleh Washington.

Gangguan di Selat Hormuz dan Prospek Harga

Jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia, masih mengalami gangguan akibat blokade antara Iran dan AS. Data pengiriman yang terlihat pada Senin menunjukkan hanya kurang dari 20 kapal komoditas yang melintasi selat tersebut selama akhir pekan.

Meski demikian, CEO TotalEnergies Patrick Pouyanne menyatakan perusahaannya masih mampu mengirimkan minyak melalui Selat Hormuz secara menguntungkan, karena kenaikan biaya transportasi masih dapat tertutup oleh diskon besar yang diberikan produsen minyak mentah. SOMO milik Irak serta QatarEnergy juga menawarkan kargo minyak mentah untuk dimuat di wilayah selat melalui mekanisme tender, menurut sejumlah pedagang.

"Harga Brent USD 93 per barel, bukan USD 120–150, menunjukkan kepada kita bahwa cukup banyak minyak masih mengalir melalui Selat Hormuz dan secara umum dari kawasan Teluk Persia," kata Bjarne Schieldrop, analis SEB, kepada Reuters.

Schieldrop memperingatkan bahwa situasi bisa berubah drastis apabila Iran benar-benar mengambil langkah menutup selat menggunakan roket dan drone.

Di tengah ketidakpastian tersebut, analis Morgan Stanley menaikkan proyeksi harga Brent dan memperkirakan kontrak tersebut berpotensi menyentuh USD 100 per barel pada kuartal IV. Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) belum membahas rencana pelepasan minyak tahap kedua dari cadangan strategis, sebagaimana disampaikan Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol pada Senin.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Harga Minyak Turun USD 2 Investor?

Harga Minyak Turun USD 2 Investor is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Harga Minyak Turun USD 2 Investor matter?

Harga Minyak Turun USD 2 Investor matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.