KabarNusantaraku
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Iran-AS Belum Sepakat soal Hormuz, Syarat Buka Selat Makin Lama

Published Agustus 9, 2026 · Updated Agustus 9, 2026 · By Robert Hernandez - kabarnusantaraku.com

Foto : Robert Hernandez - kabarnusantaraku.com

Negosiasi Pembukaan Selat Hormuz Masih Berjalan, Iran dan AS Belum Capai Kesepakatan

Kabarnusantaraku.com – Proses perundingan antara Iran dan Oman guna membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz terus berlanjut tanpa kepastian waktu penyelesaian. Teheran menegaskan bahwa dialog langsung dengan Washington belum dapat dilaksanakan pada tahap ini. Menurut laporan Bloomberg yang diterbitkan Minggu (9/8), Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa kesepakatan pembentukan jalur pelayaran sementara di perairan strategis tersebut hampir tercapai.

Meskipun demikian, Araghchi pada hari yang sama menuduh Amerika Serikat telah melanggar perjanjian perdamaian sementara yang disepakati pada bulan Juni. Pernyataan resmi dari televisi pemerintah Iran mengutip Araghchi yang mengatakan bahwa selama pelanggaran terhadap Memorandum of Understanding (MoU) oleh pihak Amerika tidak segera diperbaiki, maka kemungkinan untuk melanjutkan negosiasi menjadi sangat kecil.

Tuntutan Teheran dan Posisi Washington

Sabtu (8/8) lalu, pemerintah Iran kembali menyampaikan sejumlah persyaratan kepada Washington sebagai prasyarat untuk membuka sepenuhnya jalur Selat Hormuz. Situasi ini memberikan indikasi bahwa pasokan minyak dan gas alam kemungkinan besar belum akan kembali ke kondisi normal dalam waktu dekat.

Selat Hormuz telah menjadi salah satu titik konflik utama antara AS dan Israel di satu sisi, serta Iran di sisi lain, sejak pecahnya ketegangan pada akhir Februari. Hingga saat ini, belum jelas bagaimana respons Washington jika kesepakatan akhirnya tercapai.

Presiden AS Donald Trump secara berulang kali menuntut agar pelayaran melalui Selat Hormuz segera dibuka kembali. Trump juga tidak ragu untuk mengancam akan melancarkan serangan militer baru terhadap Iran apabila jalur tersebut tetap ditutup.

Peran Perantara dan Negosiasi Tidak Langsung

Di tengah belum tercapainya kesepakatan langsung, Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan Amerika Serikat. Araghchi menjelaskan bahwa beberapa negara perantara sedang berupaya membangun kembali fondasi untuk negosiasi. Saat ini, pertukaran pesan dilakukan melalui jalur perantara, bukan secara langsung.

Oman, yang wilayah perairannya mencakup sebagian dari Selat Hormuz, menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran berlangsung dalam suasana yang positif dan konstruktif. Melalui unggahan di platform X, pemerintah Oman juga menyerukan penghentian tindakan-tindakan di selat tersebut agar upaya diplomatik dapat berjalan lancar.

Ketegangan Regional dan Serangan Houthi

Sementara negosiasi berlangsung, situasi di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah menyerang kilang minyak Jizan milik Saudi Aramco di Arab Saudi. Sebelumnya, otoritas Saudi melaporkan terjadi kebakaran di fasilitas tersebut.

Vice President AS JD Vance sehari sebelumnya mengatakan bahwa terdapat kemajuan dalam negosiasi. Namun, dia belum dapat memastikan apakah hasil pembicaraan tersebut akan memenuhi kepentingan Washington. "Pertanyaannya adalah apakah Iran akan mampu memberikan hal-hal yang diperlukan agar kami merasa senang, agar kami merasa telah mendapatkan apa yang kami butuhkan dari keterlibatan khusus ini," kata Vance kepada Fox News.

Syarat-Syarat Iran untuk Pembukaan Selat

Iran mengajukan beberapa tuntutan utama kepada AS. Selain kompensasi, Teheran meminta Washington mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, menarik pasukannya dari sekitar Iran, mencabut sanksi, serta mencairkan aset Iran yang dibekukan. Tuntutan tersebut disampaikan oleh Mohammad Bagher Zolghadr, tokoh garis keras yang memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Sementara itu, Iran dan salah satu kelompok angkatan laut utama negara-negara Barat telah mengusulkan koridor transit masing-masing untuk memungkinkan kapal melintasi Selat Hormuz. Sebagian besar lalu lintas kapal melalui selat tersebut terhenti sejak perang dimulai. Meski begitu, sejumlah kapal masih mengangkut kargo dalam program pengiriman ulang yang melibatkan bantuan militer AS.

Dampak Terhadap Harga Minyak

Kapal yang mencoba melewati Selat Hormuz juga masih menghadapi risiko keamanan. Abu Dhabi National Oil Co. mengatakan sebuah rudalnya menjadi sasaran saat melintas pada Sabtu pagi, menurut kantor berita pemerintah Uni Emirat Arab, WAM. Serangan tersebut tidak menimbulkan korban dan situasi telah dikendalikan. Tiga kapal lain milik produsen minyak terbesar UEA itu juga diserang pada pekan sebelumnya.

Ketidakpastian terkait Selat Hormuz turut memengaruhi pergerakan harga minyak. Harga Brent sempat bergerak fluktuatif sepanjang pekan lalu dan akhirnya ditutup di atas USD 83 per barel. Pelaku pasar mempertimbangkan peluang tercapainya kesepakatan yang dapat membuka jalan bagi kembalinya jutaan barel pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia.

Ketegangan juga meningkat di bagian selatan Laut Merah dalam beberapa pekan terakhir. Houthi di Yaman mengumumkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi yang menjadi salah satu jalur ekspor alternatif bagi minyak negara tersebut. Pada Minggu, Houthi mengeklaim menyerang kilang Jizan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Iran AS Belum Sepakat soal Hormuz?

Iran AS Belum Sepakat soal Hormuz is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Iran AS Belum Sepakat soal Hormuz matter?

Iran AS Belum Sepakat soal Hormuz matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.