KabarNusantaraku
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Nepal Butuh Rp 88 T untuk Pulih, Buka Donasi & Bantuan Asing Cari Korban Hilang

Published Agustus 30, 2026 · Updated Agustus 30, 2026 · By Sandra Davis - kabarnusantaraku.com

Foto : Sandra Davis - kabarnusantaraku.com

Nepal Butuh Rp 88 T untuk Pulih dari Banjir Bandang

Kabarnusantaraku.com – Banjir bandang dan longsor raksasa yang menghantam kawasan pegunungan Nepal pada Rabu malam, 26 Agustus, telah memicu tagihan pemulihan yang luar biasa besar. Pemerintah Kathmandu memperkirakan biaya rekonstruksi infrastruktur dan permukiman warga berada di kisaran USD 4–5 miliar, atau setara Rp 70,4–88 triliun pada kurs Rp 17.600 per dolar. Dengan kata lain, Nepal Butuh Rp 88 T untuk memulihkan diri dari satu malam bencana—angka yang menguras hampir sepersepuluh produk domestik bruto negara itu dalam sekali guncangan.

Estimasi yang Masih Terbuka

Menteri Keuangan Nepal, Swarnim Wagle, menegaskan bahwa angka tersebut masih bersifat sementara. Tim penilaian kerugian dan kerusakan belum menyelesaikan survei di lapangan, sehingga proyeksi final dapat bergeser. Ia menambahkan bahwa kebutuhan kali ini diproyeksikan jauh lebih rendah dibanding tagihan pasca-gempa 2015, meskipun tidak merinci alasan spesifik di balik perbedaan skala itu.

"Perkiraan awalnya adalah USD 4–5 miliar. Ini baru perkiraan. Kami akan membutuhkan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kebutuhan setelah gempa bumi 2015. Kerugian dan kerusakan masih dalam proses penilaian."

Sebagai pembanding, gempa 7,8 magnitudo tahun 2015 menewaskan hampir 9.000 orang, menghancurkan lebih dari 500.000 rumah, dan menimbulkan kerugian sekitar sepertiga perekonomian nasional. Saat itu pemerintah mengalokasikan USD 9 miliar—sekitar Rp 159,8 triliun—untuk program pembangunan kembali, menjadikannya peristiwa paling mematikan dalam sejarah modern Nepal.

Malam yang Mengubah Peta Wilayah

Arus air dan material longsor menenggelamkan desa-desa di perbatasan Nepal–Tiongkok, meratakan permukiman, menghanyutkan jembatan serta jalan akses, dan merusak sejumlah pembangkit listrik tenaga air utama. Investigasi awal mengindikasikan bahwa mencairnya gletser di ketinggian menjadi pemicu utama longsor tersebut.

Sedikitnya 469 orang telah dikonfirmasi meninggal oleh kepolisian, sementara sekitar 1.200 orang masih dinyatakan hilang, termasuk ratusan wisatawan asing. Operasi pencarian dan penyelamatan terus berlangsung di medan yang sangat sulit dan belum menunjukkan tanda-tanda segera berakhir.

Pukulan pada Tulang Punggung Ekonomi

Sektor hidroelektrik, salah satu pilar ekonomi nasional, menerima dampak langsung. Pembangkit-pembangkit yang rusak menyumbang lebih dari 12 persen total kapasitas pembangkitan listrik negara itu. Gangguan pasokan listrik melumpuhkan aktivitas ekonomi di wilayah terdampak dan berpotensi berkepanjangan selama perbaikan berlangsung.

Infrastruktur jalan dan jembatan yang hanyut memutus akses logistik, menghambat distribusi barang, serta mengisolasi komunitas pegunungan. Pariwisata—sumber devisa penting—juga lumpuh karena jalur pendakian dan destinasi utama tidak dapat diakses dalam waktu dekat. Dalam konteks inilah Nepal Butuh Rp 88 T bukan sekadar angka makro, melainkan biaya nyata untuk menambal retakan yang membentang dari jaringan listrik hingga jalur wisata.

Suara dari Satu-satunya Miliarder Nepal

Binod Chaudhary, Chairman Chaudhary Group dan satu-satunya miliarder di Nepal, memperkirakan biaya rekonstruksi bisa mencapai setidaknya USD 5 miliar atau sekitar Rp 88,8 triliun—setara 11 persen dari perekonomian Nepal yang tercatat USD 45,5 miliar (sekitar Rp 807,9 triliun) pada tahun sebelumnya.

"Saya tidak akan terkejut jika biaya akhirnya mencapai tingkat tersebut. Ini bukan hanya soal uang, tetapi juga waktu yang dibutuhkan dan kondisi geografis yang sulit. Ini adalah persoalan yang sangat besar yang ada di depan kita."

Chaudhary menekankan bahwa topografi Nepal—pegunungan curam, medan terjal, akses terbatas—menjadikan setiap tahap pembangunan kembali jauh lebih lambat dan mahal dibanding negara ber-topografi datar. Chaudhary Group, yang mengelola 12 lini bisnis dari makanan hingga perbankan, kini bekerja sama dengan pemerintah, mitra lokal, dan militer dalam penanganan dampak bencana di lapangan.

Kanal Bantuan dan Respons Pemerintah

Pemerintah Nepal membuka kanal donasi resmi untuk korban banjir. Dana yang terkumpul telah melampaui Rs 5 miliar sejak operasi penyelamatan dimulai. Selain itu, pemerintah juga membuka pintu bagi bantuan asing, termasuk dukungan logistik dan tim SAR dari negara-negara tetangga, guna mempercepat pencarian korban hilang di medan pegunungan yang ekstrem.

FAQ: Hal yang Perlu Diketahui

Berapa estimasi biaya pemulihan Nepal setelah banjir bandang Agustus 2026? Perkiraan awal pemerintah berada di kisaran USD 4–5 miliar (Rp 70,4–88 triliun). Angka final masih menunggu hasil survei lapangan dan dapat berubah.

Apakah bantuan asing sudah diterima? Pemerintah telah membuka kanal donasi resmi dan menerima dukungan logistik serta tim SAR dari negara tetangga. Dana domestik yang terkumpul sudah melampaui Rs 5 miliar.

Berapa jumlah korban hingga saat ini? Sedikitnya 469 orang dikonfirmasi meninggal dan sekitar 1.200 orang masih hilang, termasuk ratusan wisatawan asing. Operasi pencarian masih berlangsung.

Bagaimana dampak terhadap ekonomi Nepal? Lebih dari 12 persen kapasitas pembangkit listrik rusak, jalur logistik terputus, dan pariwisata lumpuh. Kombinasi faktor ini membuat pemulihan membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Related Reading