KabarNusantaraku
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Perusahaan Game Idol Jepang Bangkrut, Biaya Pengembangan yang Tinggi Jadi Sebab

Published Agustus 19, 2026 · Updated Agustus 19, 2026 · By Robert Hernandez - kabarnusantaraku.com

Foto : Robert Hernandez - kabarnusantaraku.com

Perusahaan Game Idol Jepang Bangkrut

Kabarnusantaraku.com – ODD No. Inc., studio pengembang berbasis di Tokyo yang dikenal lewat aplikasi game interaktif bertema idola virtual remaja, resmi mengajukan permohonan kebangkrutan pada Agustus 2025. Kabar tersebut dikonfirmasi oleh firma hukum Linuma & Partners dan dikutip Bloomberg pada Selasa (18/8). Dengan total kewajiban utang mencapai 10,7 miliar yen, kasus ini menjadi kebangkrutan bernilai terbesar di Jepang sepanjang tahun berjalan menurut data Tokyo Shoko Research Ltd.

Angka 10,7 miliar yen setara dengan sekitar Rp 1,19 triliun pada kurs saat berita dirilis. Bagi sebuah entitas yang beroperasi di segmen hiburan digital, beban finansial sebesar itu mencerminkan skala investasi yang sangat besar pada fase produksi konten. Hingga berita ini diturunkan, pihak ODD No. belum memberikan tanggapan resmi atas permohonan tersebut.

Akhir dari Link! Like! Lovelive! dan Beban Biaya Pengembangan

Produk unggulan ODD No. adalah aplikasi *Link! Like! Lovelive!*, sebuah game interaktif yang memungkinkan pengguna berinteraksi dengan karakter idola virtual remaja. Aplikasi ini sempat menarik basis pengguna yang cukup luas dan menjadi sumber pendapatan utama studio. Namun, laporan Tokyo Shoko Research tertanggal 13 Agustus mengidentifikasi biaya pengembangan yang sangat tinggi sebagai faktor utama yang mencegah perusahaan mencapai titik impas. Setiap pembaruan konten, produksi animasi, serta pemeliharaan server memerlukan pengeluaran berulang yang sulit diimbangi oleh pendapatan langganan pengguna.

Kegagalan mencapai profitabilitas dalam jangka panjang membuat struktur utang perusahaan terus membengkak. Ketika arus kas tidak mampu menutupi kewajiban jangka pendek, langkah hukum berupa permohonan kebangkrutan menjadi satu-satunya opsi yang tersisa bagi manajemen.

Konteks Makro: Lonjakan Kasus Kegagalan Korporasi di Jepang

Kasus ODD No. tidak berdiri sendiri. Pada semester pertama tahun berjalan, total kasus kegagalan korporasi di Jepang melonjak 7 persen secara tahunan menjadi 5.346 kasus, angka tertinggi sejak 2013. Sekitar 77 persen dari keseluruhan kasus melibatkan perusahaan dengan utang di bawah 100 juta yen, menandakan bahwa tekanan terbesar menimpa entitas berskala kecil.

Segmen penyedia layanan informasi, tempat ODD No. beroperasi, mencatat kenaikan yang jauh lebih tajam: naik 18,5 persen dari tahun sebelumnya menjadi 166 kasus. Persaingan yang kian ketat, biaya infrastruktur teknologi yang terus merangkak naik, serta pesatnya adopsi kecerdasan buatan yang mengubah lanskap industri hiburan memperparah tekanan pada pelaku usaha di sektor ini.

Guncangan serupa juga terasa setelah Zentoshin Co., perusahaan pembayaran kartu kredit bermarkas di Osaka, tumbang pada bulan sebelumnya. Bank-bank daerah dan restoran yang bergantung pada infrastruktur pembayarannya langsung merasakan dampak operasional. Di sisi lain, indeks saham domestik justru menembus level tertinggi baru berkat lonjakan laba korporasi besar, menciptakan paradoks di mana sektor kecil dan menengah menanggung beban inflasi biaya bahan baku serta kelangkaan tenaga kerja akibat menyusutnya populasi produktif.

"Kami memperkirakan angka kebangkrutan akan tetap tinggi," ujar Hiroki Sakurai, peneliti di Tokyo Shoko Research, merujuk pada tren semester kedua yang diproyeksikan melanjutkan pola semester pertama.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Kasus Ini

Apakah aplikasi Link! Like! Lovelive! masih dapat diakses pengguna? Tidak ada pengumuman resmi dari ODD No. mengenai penghentian layanan. Biasanya, dalam proses kebangkrutan Jepang, operasional harian dapat berlanjut sementara di bawah pengawasan kurator hingga aset dan kewajiban diselesaikan.

Berapa besar utang yang menjadi pemicu kebangkrutan? Total kewajiban tercatat sebesar 10,7 miliar yen (sekitar Rp 1,19 triliun), menjadikannya kasus kebangkrutan bernilai terbesar di Jepang pada tahun berjalan menurut Tokyo Shoko Research.

Apakah tren kebangkrutan di sektor hiburan digital akan berlanjut? Berdasarkan proyeksi Tokyo Shoko Research, angka kegagalan korporasi diperkirakan tetap tinggi di semester kedua, terutama di segmen layanan informasi yang telah mencatat kenaikan 18,5 persen secara tahunan.

Related Reading