KabarNusantaraku
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Purbaya Kejar Perusahaan Baja, Potensi Pajak yang Bocor Capai Rp 5 Triliun

Published Agustus 28, 2026 · Updated Agustus 28, 2026 · By Susan Davis - kabarnusantaraku.com

Foto : Susan Davis - kabarnusantaraku.com

Kemenkeu Telusuri Kebocoran Pajak Rp 4–5 Triliun dari Sektor Baja

Kabarnusantaraku.com – Di gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Jumat (28/8), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa otoritas fiskal sedang menelusuri potensi penerimaan yang hilang dari industri baja. Angka yang dipaparkan mencapai kisaran Rp 4 hingga 5 triliun.

Skala Pemeriksaan: 40 Perusahaan, Satu yang Sudah Dikaji

Purbaya menjelaskan bahwa Kemenkeu telah menyusun daftar sekitar 40 entitas baja yang masuk radar pemeriksaan. Hingga pernyataan tersebut disampaikan, baru satu perusahaan yang menjalani audit langsung, dan indikasi awal dari kasus itu saja sudah menunjukkan kebocoran dalam skala besar.

"Lu mau lihat, kan, perusahaan baja, saya punya list 40. Baru diperiksa satu. Itu aja kita kira mungkin bocor Rp 4-5 triliun."

Komponen kebocoran yang teridentifikasi mencakup selisih pada bahan bangunan serta biaya operasional perusahaan. Temuan tersebut akan ditindaklanjuti melalui mekanisme penagihan dan penyitaan aset sesuai kerangka hukum yang berlaku.

Isu Impor Bermasalah di Luar Sektor Baja

Di samping baja, Purbaya menyoroti maraknya aktivitas impor yang dinilai tidak sesuai prosedur. Barang-barang hasil impor tersebut bahkan telah beredar dan dipasarkan di ruang publik.

"Terus banyak impor-impor yang bodong juga. Yang dijual di tempat umum. Aduh berapa barang, ya? Kalau disebutin ribut lagi."

Menteri Keuangan menilai persoalan impor bermasalah selama ini tidak ditangani secara serius. Ia berjanji akan memperketat pengawasan dalam waktu dekat.

Ekstensifikasi, Bukan Kenaikan Tarif

Purbaya menegaskan bahwa langkah terhadap perusahaan baja merupakan bagian dari strategi ekstensifikasi—upaya memperluas kepatuhan wajib pajak—bukan intensifikasi berupa penyesuaian tarif.

"Enggak, intensifikasi, kan, naikkan tarif. Ini ekstensifikasi biasanya diperbesar dengan memaksa dia comply. Satu perusahaan itu aja sampai 1 triliun lho dapetnya lho sebetulnya. Kemarin saya datang itu. Satu tahun, ya? Tiga tahun. Tiga tahun lah."

Potensi penerimaan yang ditelusuri tidak terbatas pada Pajak Penghasilan (PPh), melainkan juga mencakup Pajak Pertambahan Nilai (PPN) serta persoalan terkait impor.

Tindak Lanjut dan Kendala Internal

Setelah pemeriksaan langsung dilakukan, proses perhitungan utang pajak perusahaan yang bersangkutan sudah berjalan. Kemenkeu kini menghitung besaran kewajiban yang harus disetorkan.

"Ada sudah. Sekarang diberikan terus semuanya dan udah dihitung utang pajaknya berapa."

Akan tetapi, Purbaya mengakui bahwa lambatnya proses perpajakan masih menjadi hambatan signifikan. Terkait kemungkinan adanya keterlibatan pihak internal yang memungkinkan perusahaan beroperasi bertahun-tahun tanpa terdeteksi, ia menyatakan bahwa fakta tersebut memang mengindikasikan persoalan. Pihaknya telah memiliki gambaran mengenai oknum yang diduga terlibat dan memastikan akan ada tindakan tegas.

"Iya dalam waktu dekat dipecatin [pegawai Direktorat Jenderal Pajak]."

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Purbaya Kejar Perusahaan Baja Potensi Pajak?

Purbaya Kejar Perusahaan Baja Potensi Pajak is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Purbaya Kejar Perusahaan Baja Potensi Pajak matter?

Purbaya Kejar Perusahaan Baja Potensi Pajak matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.