KabarNusantaraku
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Tak Lagi Berakhir di TPA, BI Ubah Limbah Racik Uang Kertas Jadi Energi

Published Agustus 13, 2026 · Updated Agustus 13, 2026 · By Susan Davis - kabarnusantaraku.com

Foto : Susan Davis - kabarnusantaraku.com

Program Uang Berkelanjutan BI Raih Pengakuan Dunia

Kabarnusantaraku.com – Bank Indonesia kembali menorehkan prestasi di kancah internasional melalui inisiatif pengelolaan mata uang yang ramah lingkungan. Program Pengelolaan Uang Rupiah (PUR) Berkelanjutan berhasil meraih penghargaan The Winner dari International Association of Currency Affairs (IACA) dalam kategori Best New Environmental Sustainability Project tahun 2026. Penghargaan ini diberikan atas program Rupiah Waste to Worth Collaboration yang mengedepankan tiga pilar utama, yaitu kolaborasi, kepemimpinan institusional, serta implementasi Waste to Energy (WtE) dan Waste to Product (WtP).

Anwar Bashori, Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI, menjelaskan bahwa pencapaian ini tidak lepas dari sinergi berbagai pihak, terutama kantor perwakilan BI yang telah menjalankan pemanfaatan limbah racik uang kertas secara inovatif.

"Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat tata kelola, pengawasan, serta kolaborasi guna mendukung terwujudnya ekosistem pengelolaan uang rupiah yang berkelanjutan menuju net zero waste," ujar dia.

Dari TPA Menjadi Sumber Energi

Sebelumnya, limbah racik uang kertas (LRUK) banyak berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kini, melalui program PUR Berkelanjutan, BI mengubah pendekatan tersebut dengan memanfaatkan limbah menjadi energi atau produk bernilai. Program ini merupakan bagian dari komitmen BI terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) dan Paris Agreement, serta telah diintegrasikan ke dalam Blueprint Pengelolaan Uang Rupiah (BPPUR) 2024-2030.

Anwar menegaskan bahwa blueprint tersebut menargetkan implementasi penuh PUR Berkelanjutan di seluruh satuan kerja kas pada tahun 2030.

"DPU telah menyusun Blueprint Pengelolaan Uang Rupiah (BPPUR) 2024-2030 dengan salah satu program utama berupa PUR Berkelanjutan melalui pemanfaatan Limbah Racik Uang Kertas yang ramah lingkungan, yang diharapkan telah terimplementasikan di seluruh satuan kerja kas pada tahun 2030 sebagaimana target BPPUR 2024-2030," jelas Anwar, dalam keterangan tertulis, Senin (10/8).

Hingga tahun 2026, skema WtE dan WtP telah diterapkan di 32 dari 46 Kantor Pusat dan Kantor Perwakilan BI. Angka ini menunjukkan bahwa sekitar 70 persen kantor BI telah mengadopsi pendekatan PUR Berkelanjutan.

Manfaat Lingkungan dan Ekonomi

Pemanfaatan LRUK tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi melalui penghematan biaya. Anwar menjelaskan bahwa pengalihan pengolahan limbah dari landfill ke WtE menghasilkan biaya avoidance yang signifikan.

"Pemanfaatan limbah racik uang kertas (LRUK) secara berkelanjutan memiliki manfaat yang tidak kalah penting berupa biaya avoidance atau biaya yang dapat dihindari karena pengalihan pengolahan LRUK dari landfill menjadi WtE," kata Anwar.

Selain itu, perubahan pengelolaan limbah berpotensi menekan biaya pengolahan LRUK melalui implementasi WtE secara kolaboratif. Program ini pada dasarnya mengubah pola pengelolaan uang rupiah agar tidak berhenti pada tahap pencetakan, pengedaran, dan pemusnahan.

"Oleh karena itu, melalui Blueprint Pengelolaan Uang Rupiah 2024-2030, Bank Indonesia mengembangkan pendekatan PUR Berkelanjutan dengan mendorong pemanfaatan LRUK melalui skema WtE dan WtP, sehingga limbah yang dihasilkan dapat memberikan benefits sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan," tutur Anwar.

Aspek Lain dalam Siklus Hidup Uang

Upaya ramah lingkungan BI juga mencakup aspek lain dalam siklus hidup uang rupiah. Salah satunya adalah penerapan coating pada hasil cetak uang kertas Tahun Emisi 2022 dengan harapan memperpanjang masa edar uang. Selain itu, kendaraan untuk pengiriman uang secara bertahap telah menggunakan standar Euro 4 yang lebih ramah lingkungan.

"Penggunaan kendaraan untuk pengiriman uang terstandar euro 4 yang lebih ramah lingkungan secara bertahap telah diimplementasikan, sehingga diharapkan dapat mengurangi emisi karbon yang ditimbulkan dari aktivitas pengedaran," tutur Anwar.

Di sisi lain, BI juga menempatkan edukasi sebagai komponen penting dalam pengelolaan rupiah. Masyarakat tidak hanya diajak memahami nilai rupiah sebagai alat pembayaran, tetapi juga bagaimana rupiah dikelola sepanjang siklus hidupnya secara bertanggung jawab.

"Edukasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Pengelolaan Uang Rupiah (PUR) karena membangun pemahaman masyarakat mengenai nilai strategis rupiah, termasuk pentingnya pengelolaan uang rupiah yang berkelanjutan," ungkap Anwar.

Sarana edukasi yang digunakan antara lain Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI). BI menjalankan program Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah melalui kunjungan edukatif, kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah, komunitas, serta media.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Tak Lagi Berakhir di TPA BI Ubah?

Tak Lagi Berakhir di TPA BI Ubah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Tak Lagi Berakhir di TPA BI Ubah matter?

Tak Lagi Berakhir di TPA BI Ubah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.