KabarNusantaraku
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

BK DPD Akan Panggil Arya Wedakarna soal Hadir di Acara LGBT Thailand

Published September 4, 2026 · Updated September 4, 2026 · By Linda Brown - kabarnusantaraku.com

Foto : Linda Brown - kabarnusantaraku.com

Badan Kehormatan DPD RI Akan Panggil Arya Wedakarna: Klarifikasi Kehadiran di Bangkok Jadi Sorotan

Kabarnusantaraku.com – Sebuah kontes bertajuk Miss Equality World 2026 yang berlangsung di Bangkok, Thailand, memicu gelombang reaksi publik di Indonesia setelah foto-foto kegiatan tersebut menyebar luas di media sosial. Di antara nama-nama yang muncul dalam pemberitaan adalah I Gusti Ngurah Arya Wedakarna, Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dari daerah pemilihan Bali. Kehadirannya dalam acara itu langsung menjadi perbincangan hangat, terutama karena kegiatan tersebut dinilai secara tidak langsung mempromosikan komunitas LGBT.

Menanggapi dinamika publik yang terus membesar, Badan Kehormatan (BK) DPD RI mengambil langkah formal: memanggil Arya Wedakarna untuk memberikan klarifikasi langsung. Pemanggilan ini bukan tindakan spontan, melainkan hasil keputusan internal BK setelah menilai bahwa persoalan tersebut memerlukan penjelasan utuh dari yang bersangkutan.

Posisi BK: Status Anggota DPD Tidak Bisa Dilepaskan

Sebelum pemanggilan dilakukan, Arya telah menyampaikan penjelasan bahwa kehadirannya di Bangkok bukan dalam kapasitas sebagai Anggota DPD RI. Ia menegaskan bahwa dirinya hadir sebagai pribadi, sekaligus sebagai tokoh budaya, pariwisata, dan Hindu Bali. Namun, BK DPD memiliki pandangan berbeda. Lembaga pengawas etik itu menilai bahwa status keanggotaan DPD tetap melekat pada diri Arya Wedakarna, sehingga setiap aktivitas publik yang ia lakukan—meskipun diklaim bersifat pribadi—tetap perlu mempertimbangkan kepatutan, kehormatan jabatan, serta dampaknya terhadap citra lembaga.

Ketua Badan Kehormatan DPD, Hasby Yusuf, menegaskan posisi tersebut dalam keterangan pers pada Kamis (3/9):

"Menjadi Anggota DPD RI berarti membawa standar kehormatan jabatan dalam every ruang publik. Tetapi Badan Kehormatan juga tidak boleh mengambil kesimpulan hanya berdasarkan foto, video, atau pemberitaan. Yang harus dilihat adalah fakta, kapasitas kehadiran, konteks kegiatan, dan apakah terdapat ketentuan etik yang dilanggar."

Aspek yang Akan Digali dalam Proses Klarifikasi

BK DPD telah merumuskan sejumlah aspek yang akan diperiksa secara mendalam saat klarifikasi berlangsung. Di antaranya mencakup tujuan Arya menghadiri acara, kapasitas spesifik kehadirannya, pihak yang mengundang serta penyelenggara kegiatan, bentuk keterlibatannya dalam rangkaian acara, hingga penggunaan atribut atau fasilitas yang berkaitan dengan jabatan anggota DPD.

Aspek lain yang turut dikaji adalah apakah kehadiran Arya dalam kegiatan tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan pelaksanaan tugas kedewanan sebagai Anggota DPD RI. Pertanyaan ini menjadi krusial karena menentukan apakah kegiatan tersebut berada di ranah tugas resmi atau murni aktivitas personal.

Pendampingan TNI Jadi Titik Perhatian Tambahan

Di luar persoalan kapasitas kehadiran, BK DPD juga menyoroti pemberitaan mengenai adanya pendampingan anggota Tentara Nasional Indonesia selama Arya berada di Thailand. Menurut BK, hal tersebut perlu ditelaah berdasarkan fakta dan ketentuan yang berlaku mengenai penugasan maupun pengamanan pejabat negara.

Aspek pendampingan TNI ini akan dikaji dengan mengacu pada beberapa dasar hukum, yaitu Undang-Undang MD3, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang TNI, Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan, serta Peraturan DPD RI Nomor 1 Tahun 2024 tentang Tata Tertib. Kerangka hukum tersebut menjadi acuan bagi BK dalam menilai apakah prosedur pendampingan telah sesuai ketentuan atau justru menimbulkan pertanyaan tambahan.

Pernyataan Arya Wedakarna

Menyikapi sorotan publik, Arya Wedakarna memberikan keterangan pada Rabu (2/9) ketika dihubungi. Ia menjelaskan bahwa kehadirannya di acara Bangkok adalah sebagai tokoh Bali dan tidak terkait dengan jabatannya di mana pun dalam struktur pemerintahan.

"Saya yang kemarin acara di Thailand, saya datang mewakili lembaga Hindu. Jadi sebagai tokoh Bali dan tidak ada kaitannya sama jabatan saya di mana pun."

Arya merinci bahwa rangkaian kegiatan dalam acara tersebut meliputi peluncuran pariwisata ASEAN, pemberian penghargaan, pameran, serta sesi diskusi. Kehadirannya secara spesifik berada pada sesi pemberian penghargaan dan peluncuran video promosi pariwisata Bali Barat. Dalam kesempatan itu, Arya menerima penghargaan sebagai tokoh budaya Bali, yang menurutnya menjadi alasan ia mengenakan pakaian adat Bali saat menerima penghargaan tersebut.

Ia menambahkan bahwa perjalanannya di Thailand selama tiga hari berfokus pada dimensi budaya, termasuk kesempatan mempromosikan kekayaan budaya Bali ke panggung internasional.

Pemanggilan Bukan Vonis

BK DPD menegaskan secara eksplisit bahwa pemanggilan Arya Wedakarna belum berarti ia dinyatakan melakukan pelanggaran etik. Proses klarifikasi masih akan berlangsung, dan BK akan memeriksa fakta serta meminta penjelasan langsung dari yang bersangkutan sebelum menarik kesimpulan apa pun.

Hasby Yusuf menutup keterangan persnya dengan menegaskan prinsip kerja BK:

"Prinsip BK sederhana: tidak mencari-cari kesalahan Anggota, tetapi juga tidak menutup mata terhadap persoalan yang menyangkut kehormatan lembaga. Setiap Anggota memiliki hak untuk beraktivitas sebagai warga negara, tetapi kebebasan tersebut tetap harus berjalan seiring dengan tanggung jawab etik sebagai pejabat publik."

Jika hasil pemeriksaan menemukan tindakan yang bertentangan dengan Kode Etik, kepatutan, kehormatan jabatan, atau ketentuan lain yang berlaku bagi Anggota DPD RI, BK akan mengambil langkah sesuai kewenangannya. Sebaliknya, apabila klarifikasi menunjukkan tidak ada pelanggaran, proses akan ditutup tanpa sanksi.

Persoalan ini menyoroti batas tipis antara hak individu seorang pejabat publik untuk beraktivitas di ruang budaya internasional dan tanggung jawab etik yang melekat pada jabatan representatif negara. Bagi publik, kasus ini juga menjadi pengingat bahwa setiap langkah seorang anggota lembaga negara—sekalipun diklaim bersifat personal—selalu dibaca dalam kerangka institusional yang lebih luas.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is BK DPD Akan Panggil Arya Wedakarna?

BK DPD Akan Panggil Arya Wedakarna is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BK DPD Akan Panggil Arya Wedakarna matter?

BK DPD Akan Panggil Arya Wedakarna matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.