Dinamika Muktamar ke-35 NU: Mekanisme Ketum Sempat Alot, Dugaan Pemukulan
Muktamar ke-35 NU Tetapkan AHWA sebagai Jalur Pemilihan Ketua Umum, Usai Persidangan Penuh Ketegangan
Kabarnusantaraku.com – Pondok Pesantren Bahrul Ulum di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menjadi saksi keputusan krusial pada Minggu (30/8) ketika ribuan muktamirin Nahdlatul Ulama menyepakati perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar NU. Melalui Sidang Pleno III, forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia itu memilih jalur Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) sebagai cara menentukan pemimpin tertinggi NU periode berikutnya. Keputusan ini diambil setelah proses persidangan yang berlangsung alot dan diwarnai sejumlah dinamika internal, mulai dari perdebatan soal jumlah calon hingga dugaan insiden pemukulan terhadap salah satu peserta muktamirin.
Hasil pemungutan suara menunjukkan dominasi kuat opsi AHWA. Dari total 552 nama dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang terdiri atas Ketua Umum Pengurus Wilayah (PW) dan Pengurus Cabang (PC), sebanyak 401 suara mendukung pemilihan melalui AHWA. Sebaliknya, 150 suara memilih mempertahankan sistem one man one vote, sementara satu suara dinyatakan tidak sah. Presidium Sidang Pleno Muktamar ke-35 NU, Muhammad Nuh, mengumumkan penetapan opsi perubahan tersebut dengan pengucapan bismillah dan hamdalah di hadapan para peserta.
"Dengan mengucapkan bismilahirrahmanirrahin seraya mengucapkan Alhamdulillahirabbilalamin, pemilihan opsi telah kita tetapkan yaitu opsi perubahan," ujar Muhammad Nuh di lokasi sidang.
Mekanisme AHWA: Sembilan Kiai Sepuh Menentukan Pucuk Pimpinan
Ahlul Halli wal Aqdi merupakan tradisi lama dalam khittah NU yang menempatkan sembilan orang kiai sepuh sebagai penentu akhir pemilihan pemimpin organisasi. Dalam praktiknya, seluruh nama calon yang lolos dari proses musyawarah muktamar akan diserahkan kepada sembilan kiai tersebut untuk dipilih satu sebagai Ketua Umum. Mekanisme ini berbeda secara fundamental dari voting langsung satu orang satu suara yang selama ini menjadi alternatif. Pemilihan AHWA pada Muktamar ke-35 ini menandai kembalinya tradisi musyawarah terbatas ke dalam tata kelola tertinggi NU, sebuah keputusan yang memiliki implikasi besar terhadap arah kebijakan organisasi di masa mendatang.
Enam Nama di Bursa Caketum, Lima Sepakat Jalur AHWA
Sebelum keputusan final diambil, dinamika internal muktamar sudah terasa sejak Sabtu (29/8). Calon Ketua Umum PBNU yang masuk bursa berjumlah enam orang. Namun, hanya lima nama yang secara eksplisit disebutkan oleh salah satu kandidat, KH Zulfa Mustofa, di hadapan media di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Kelima nama tersebut adalah KH Zulfa Mustofa sendiri, Gus Kikin, Gus Yusuf, Gus Rozin, dan Gus Salam. Zulfa menegaskan bahwa kelima tokoh itu sepakat bahwa apabila musyawarah mufakat tidak tercapai, maka pemilihan harus dilakukan melalui jalur AHWA dengan tetap mengirim lima nama ke sembilan kiai.
"Saya, Gus Kikin, ya kan. Saya Zulfa Mustafa, Gus Kikin, lalu siapa tadi? Gus Yusuf, lalu Gus Rozin, lalu Gus Salam. Kami lima bersepakat pemilihan Ketua Umum itu jika tidak bisa dipilih secara musyawarah mufakat, maka sistemnya adalah lewat AHWA, gitu ya. Ya. Artinya tetap mengirim lima nama," kata Zulfa di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8).
Satu nama calon keenam tidak diungkap oleh Zulfa. Ketika ditanya langsung, ia memilih diam dan justru menyatakan bahwa publik sudah mengetahui siapa sosok tersebut.
"Saya pikir kita tahu semua lah. Gak perlu, gak perlu ditanya, Anda tahu lah calonnya siapa," jawabnya.
Bantahan Waketum: Gus Rozin Tak Pernah Setuju
Klaim Zulfa soal kesepahaman lima calon segera mendapat tanggapan. Wakil Ketua Umum PBNU Amin Said Husni membantah bahwa Gus Rozin termasuk dalam kelompok yang sepakat dengan mekanisme AHWA. Amin menyatakan bahwa berdasarkan konfirmasi yang diterimanya, Gus Rozin tidak pernah menyatakan persetujuan semacam itu. Ia menyebut pernyataan Zulfa sebagai klaim sepihak yang tidak melalui verifikasi terlebih dahulu.
"Saya justru dapat konfirmasi dari, bukan caketum ya, bakal calon ketum yang lain itu tidak seperti yang diomongin oleh Pak Zulfa itu," kata Amin saat dikonfirmasi, Sabtu (29/8).
"Ya Gus Rozin misalnya. Gus Rozin itu dikonfirmasi dia gak ngaku kalau.. artinya pak Zulfa bicara seperti itu tidak konfirmasi dulu ke Pak Rozin," ujarnya.
"Iya, itu klaim aja. Klaim aja itu," tegas Amin.
Bantahan ini menambah lapisan ketegangan dalam proses muktamar, mengingat isu kesepahaman antarcalon menjadi salah satu parameter penting dalam menentukan apakah jalur AHWA dapat dijalankan secara sah dan tanpa keberatan dari pihak-pihak terkait.
Jadwal Persidangan dan Target Penyelesaian
Ketua Organizing Committee (OC) Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, menargetkan seluruh rangkaian persidangan rampung pada Minggu (30/8). Pada Sabtu malam, ia menyampaikan harapan agar persidangan komisi dapat diselesaikan dalam waktu singkat, kemudian dilanjutkan dengan sidang pleno pada Minggu pagi yang mencakup rekapitulasi, pembacaan hasil, serta pembahasan tata tertib.
"Kita targetkan besok udah selesai semua ya. Mudah-mudahan malam ini juga nanti udah bisa selesai pleno komisi ini, besok pagi dilanjutkan dengan pleno berikutnya, rekapitulasi dan pembacaan, pembahasan tatib. Insyaallah lah, mudah-mudahan besok udah tuntas," ujar Gus Ipul di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Sabtu (29/8).
Target waktu tersebut pada akhirnya tercapai, meskipun prosesnya tidak berjalan mulus. Persidangan komisi yang seharusnya singkat justru memakan waktu lebih lama dari perkiraan, memaksa panitia menyesuaikan jadwal hingga larut malam sebelum pleno penentuan mekanisme dilaksanakan.
Dugaan Pemukulan Muktamirin
Di tengah hiruk-pikuk politik internal muktamar, muncul pula kabar dugaan pemukulan terhadap salah satu muktamirin selama proses berlangsung. Informasi ini disampaikan oleh salah satu calon Ketua Umum PBNU, menambah daftar dinamika yang menyelimuti forum tertinggi NU tersebut. Insiden ini menjadi pengingat bahwa di balik prosesi formal pemilihan pemimpin organisasi, gesekan personal dan ketegangan emosional tetap dapat terjadi, terutama ketika ratusan tokoh berkumpul dalam ruang terbatas dengan kepentingan yang saling bertabrakan.
Muktamar ke-35 NU sendiri merupakan forum tertinggi Nahdlatul Ulama yang digelar secara berkala untuk memilih kepemimpinan organisasi, menetapkan kebijakan strategis, serta mengevaluasi kinerja periode sebelumnya. Dengan lebih dari 552 pemilih dari seluruh Indonesia yang hadir di Jombang, forum ini menjadi salah satu pertemuan terbesar komunitas Muslim Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Keputusan soal mekanisme AHWA yang diambil pada Muktamar ke-35 ini akan membentuk lanskap kepemimpinan NU untuk periode berikutnya dan berpotensi mengubah dinamika internal organisasi secara signifikan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Dinamika Muktamar ke 35 NU?Dinamika Muktamar ke 35 NU is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Dinamika Muktamar ke 35 NU matter?Dinamika Muktamar ke 35 NU matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.