KabarNusantaraku
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Haedar Nashir: Pers Harus Tetap Jadi Penjaga Kebenaran di Tengah Disrupsi Medsos

Published Agustus 13, 2026 · Updated Agustus 13, 2026 · By Lisa Johnson - kabarnusantaraku.com

Foto : Lisa Johnson - kabarnusantaraku.com

Haedar Nashir: Pers Penjaga Kebenaran di Era Medsos

Menegaskan Peran Pers di Era Digital

Kabarnusantaraku.com – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menekankan pentingnya fungsi pers dan literasi dalam menjaga ruang publik yang kondusif. Pernyataan ini disampaikan saat menjadi pembicara dalam Orasi Kebangsaan peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah Tahun 2026. Acara yang diselenggarakan di Auditorium Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Cireundeu, Kota Tangerang Selatan, berlangsung pada Kamis (13/8).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Ketua Dewan Pers, serta para pimpinan organisasi Muhammadiyah. Hadir pula insan pers, akademisi, dan mahasiswa dalam acara tersebut.

Perjalanan Jurnalistik dari Lapangan

Haedar Nashir, yang memulai kariernya sebagai wartawan, menceritakan pengalaman panjangnya di dunia jurnalistik. Ia mengingat masa-masa sulit saat masih menjadi reporter muda, ketika proses belajar menulis terasa sangat berat.

Waktu menjadi wartawan lapangan saya naik bus, jalan kaki, naik kereta biasa dan berbagai kendaraan yang harus dimanfaatkan untuk mencari berita. Kelelahan-kelelahan itu justru membentuk saya betul-betul menjadi wartawan.

Menurut Haedar, ia pernah mengalami penolakan keras dari editor saat masih belajar menulis. Beberapa kali tulisannya tidak digunakan, bahkan disobek di hadapannya. Ada juga editor yang membaca tulisannya sambil mencoret-coret dengan tinta merah.

Ada berita yang saya buat tidak dipakai. Bahkan satu dua kali disobek di depan saya. Ada juga yang membaca tulisan saya sambil mencoret-coret dengan tinta merah. Sakit hati tentu, tetapi dari situ saya belajar menulis lebih baik lagi.

Pengalaman-pengalaman tersebut membentuk sikap ketelitian dan tanggung jawab Haedar dalam menghasilkan karya jurnalistik berkualitas. Ketika kemudian menjadi pemimpin redaksi, ia tidak lagi mentoleransi tulisan yang asal-asalan.

Ketika kemudian saya menjadi pemimpin redaksi, saya tidak toleran terhadap tulisan yang asal-asalan. Karena saya tahu bagaimana proses belajar untuk menghasilkan tulisan yang baik.

Penghargaan dari Dewan Pers

Dalam acara tersebut, Haedar Nashir menerima Kartu Wartawan Utama Kehormatan dari Dewan Pers sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya di bidang jurnalistik dan literasi. Ia menjelaskan bahwa penghargaan ini memiliki makna khusus karena lahir dari perjalanan panjangnya sebagai wartawan, bukan semata-mata karena jabatannya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Saya akhirnya mendapatkan kartu wartawan ini bukan semata karena menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah, tetapi juga karena memiliki jejak dan perjalanan sebagai wartawan.

Transformasi Media dan Kebebasan Berekspresi

Haedar menyoroti perubahan besar dalam dunia media. Dulu, setiap tulisan harus melewati proses seleksi ketat, bahkan kata per kata bisa diperiksa. Kini, hampir semua orang dapat menyebarkan informasi melalui media sosial tanpa proses verifikasi.

Dulu menulis di media itu susah karena diseleksi. Bahkan kata per kata bisa diperiksa. Sekarang siapa saja bisa menulis di media sosial tanpa ada yang menyeleksi.

Ia mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi harus diimbangi dengan tanggung jawab moral dan etika. Sering kali yang dianggap benar langsung disampaikan ke publik, padahal persoalannya tidak hanya benar atau salah, tetapi juga ada dimensi baik dan buruk, pantas dan tidak pantas.

Kalau sekarang, sering kali yang dianggap benar langsung disampaikan ke publik. Padahal persoalannya tidak hanya benar atau salah, tetapi juga ada dimensi baik dan buruk, pantas dan tidak pantas.

Pers sebagai Pilar Demokrasi

Haedar Nashir menegaskan bahwa pers memiliki posisi penting sebagai pilar demokrasi yang bertugas menyampaikan informasi sekaligus mengawasi jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pers ditempatkan sebagai pilar keempat negara. Kekuatan pers ada pada kemampuannya menghadirkan informasi yang menjadi alternatif dari berbagai kekuatan yang ada.

Ia kemudian mengutip teori sosiologi Erving Goffman mengenai front stage dan back stage untuk menjelaskan pentingnya kerja jurnalistik dalam mengungkap realitas yang sesungguhnya.

Dalam kehidupan sosial ada panggung depan dan panggung belakang. Yang di depan sering kali penuh polesan, tetapi yang di belakang itulah realitas yang sesungguhnya. Tugas pers adalah berusaha mencari titik kebenaran di balik panggung depan.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Pernyataan Haedar Nashir

Apa yang dimaksud Haedar Nashir dengan "penjaga kebenaran" dalam konteks pers?

Haedar Nashir menjelaskan bahwa pers harus tetap menjadi penjaga kebenaran di tengah disrupsi media sosial. Artinya, pers harus mampu memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, berbeda dengan media sosial di mana siapa saja bisa menyampaikan informasi tanpa proses seleksi ketat.

Kapan dan di mana Haedar Nashir menyampaikan pernyataan tersebut?

Haedar Nashir menyampaikan pernyataan tersebut pada Kamis (13/8) dalam Orasi Kebangsaan peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah Tahun 2026. Acara berlangsung di Auditorium Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Cireundeu, Kota Tangerang Selatan.

Apa penghargaan yang diterima Haedar Nashir dalam acara tersebut?

Haedar Nashir menerima Kartu Wartawan Utama Kehormatan dari Dewan Pers. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya di bidang jurnalistik dan literasi, serta mengakui perjalanannya sebagai wartawan sebelum menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Bagaimana Haedar Nashir melihat tantangan pers di era media sosial?

Menurut Haedar Nashir, tantangan utama pers di era media sosial adalah menjaga kualitas informasi di tengah kebebasan berekspresi yang luas. Ia menekankan bahwa kebebasan berekspresi harus diimbangi dengan tanggung jawab moral dan etika, serta pentingnya pers sebagai pilar keempat negara yang menghadirkan informasi alternatif.

Related Reading