Juru Kunci Akui Rusak Makam Mertua Seniman Djaduk: Nggak Pernah Dikasih Duit
Juru Kunci Akui Rusak Makam Mertua Djaduk Ferianto
Kabarnusantaraku.com – Ibu berinisial S, yang dikenal sebagai juru kunci di Makam Kuncen Lama Pakuncen Yogyakarta, akhirnya memberikan keterangan resmi. Pertemuan dengan wartawan berlangsung di Kantor Kelurahan Pakuncen pada Rabu, 12 Agustus. Awalnya perempuan ini enggan diwawancara dan tidak ingin tampil di kamera. Namun setelah menunggu, ia bersedia mengungkapkan alasan di balik perusakan nisan makam mertua.
S memilih tetap anonim dan hanya meminta wartawan menuliskan "juru kunci" sebagai identitasnya. Ia mengakui telah mengambil kepala nisan makam mertua dengan satu tujuan, yaitu agar para ahli waris mau menemuinya. Menurut S, selama ini ia tidak pernah mendapatkan uang dari pihak keluarga mendiang seniman Djaduk Ferianto.
Alasan Perusakan Nisan
"Untuk biar ketemu. Saya selama ini si Ibu enggak berusaha nemoni (menemui) saya. Dengan adanya kejadian itu kan terus nemoni (menemui)," jelas S.
S meyakini tindakannya tidak keliru. Ia menjelaskan bahwa tidak ada bantuan dari Pemkot maupun pihak lain untuk juru kunci. Kerusakan nisan menurutnya wajar mengingat sudah bertahun-tahun ia merasa diabaikan. S mengaku telah berkali-kali berusaha menghubungi pihak keluarga namun tidak pernah berhasil.
Menurut S, Petra Ferianto, istri mendiang seniman Djaduk Ferianto, memang sering datang untuk nyekar. Namun, kunjungan tersebut tidak disertai pemberian uang. S menekankan bahwa waktu yang tepat untuk datang adalah pagi hari. Petra kerap datang pagi-pagi namun tidak pernah bertemu dengan juru kunci.
Sistem Pembayaran dan Tenaga Kerja
"Saya di situ ini Ibu ini (Petra) berkali-kali ngirim (nyekar) tapi tidak pernah ngasih. Karena waktunya mesti pagi-pagi. Padahal kalau pagi itu tahu, soalnya ngirimnya bukan cuma sekali dua kali, udah berkali-kali udah bertahun-tahun pagi. Jadi ndak pernah ketemu sama juru kunci," tuturnya.
S tidak menetapkan jumlah uang tertentu yang harus diberikan ahli waris. Besaran pembayaran sepenuhnya terserah pada kerelaan mereka. Namun, pemberian tersebut disertai konsep tepa salira. S memberikan contoh bahwa meskipun pemberian hanya Rp 2.000 atau Rp 5.000, itu tetap diterima dengan senang hati.
Untuk merawat makam, S memiliki dua orang tenaga kerja. Mereka membersihkan area makam setiap pagi dan sore hari. S menegaskan bahwa tidak ada paksaan bagi para pengunjung. Yang ada hanyalah pemahaman bahwa makam yang rutin dibersihkan memerlukan dukungan finansial.
Klarifikasi Soal Pengancaman
"Gek leh nyapu esok sore (nyapunya pagi sore) tenaga saya dua. Itu, monggo. Tidak ada pengancaman, tidak ada pemaksaan, tidak harus. Tapi ngerti dewe (tapi tahu sendiri). Wong situ tuh tiap hari dibersihkan tempatnya aja Ibue ya ngerti nek resik (bersih). Kok ora tahu (memberi)," ungkapnya.
S juga menjelaskan bahwa seharusnya Petra datang pada siang hari, bukan pagi. Hal ini karena pada pagi hari juru kunci biasanya tidak berada di lokasi. S menyarankan agar Petra mencoba datang lebih siang jika ingin bertemu.
Dalam kesempatan itu, S membantah adanya ancaman kepada Petra. Ia hanya memberikan penjelasan bahwa makam yang tidak ditengok selama tiga tahun berisiko hilang. Pernyataan tersebut bukan ancaman melainkan informasi.
"Tidak ada pengancaman. Cuma saya ngomong, memberi pengertian 'bu, di sini itu memang kalau sudah 3 tahun sama sekali tidak pernah ditengok, itu biasanya hilang.' Saya memberi tahu, bukan mengancam. Kok di situ ditulis mengancam. Saya tidak tahu apa yang ngomong Ibunya apa dari wartawannya, saya enggak tahu ya," katanya.
S juga menceritakan bahwa Petra baru memberikan uang Rp 500.000 sekali saja. Jumlah tersebut kemudian dibagikan kepada para tukang yang membantu memperbaiki nisan. S menegaskan bahwa ia tidak pernah meminta atau mematok jumlah tertentu.
Profesi Turun Temurun
Sebagai juru kunci, S menjalankan profesi yang telah diwariskan dari kakeknya hingga kini. Ia merasa memiliki hak penuh untuk mengelola makam tersebut. Dulu, petunjuk pengelolaan makam berasal dari Kelurahan Pakuncen pada masa lalu.
Sementara itu, Petra sebelumnya menawarkan pembayaran bulanan sebesar Rp 100.000 agar kejadian serupa tidak terulang. Namun, S menilai jumlah tersebut belum cukup. Ia menjelaskan bahwa dengan tiga orang tenaga kerja, Rp 100.000 per bulan terasa minim mengingat pekerjaan pembersihan dilakukan dua kali sehari.
"Saya enggak minta, monggo. Ini ada orangnya. Ya sekarang kalau saya orang tiga, ya toh orang tiga nek sebulan 100 (ribu), coba tiap hari pagi sore disapu, monggo. Seikhlasnya nek kebangetan ya piye (bagaimana)," pungkasnya.
FAQ: Pertanyaan Umum
Siapa itu S? S adalah ibu berinisial S yang dikenal sebagai juru kunci di Makam Kuncen Lama, Pakuncen, Yogyakarta. Ia menjalankan profesi turun-temurun dari kakeknya.
Mengapa nisan makam mertua rusak? S mengakui telah mengambil kepala nisan dengan tujuan agar para ahli waris mau menemuinya. Ia merasa selama ini tidak pernah mendapatkan uang dari pihak keluarga.
Berapa jumlah uang yang diberikan Petra? Petra hanya memberikan uang Rp 500.000 sekali saja. Sebelumnya Petra menawarkan pembayaran bulanan Rp 100.000 namun S menilai jumlah tersebut belum cukup.
Apakah ada pengancaman dari S? S membantah adanya pengancaman. Ia hanya memberikan penjelasan bahwa makam yang tidak ditengok selama tiga tahun berisiko hilang. Pernyataan tersebut bukan ancaman melainkan informasi.
Bagaimana sistem pembayaran di makam tersebut? S tidak menetapkan jumlah uang tertentu. Besaran pembayaran sepenuhnya terserah pada kerelaan ahli waris dengan konsep tepa salira.