KabarNusantaraku
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Momen Sri Sultan Bagikan Udhik-Udhik kepada Warga saat Kondur Gangsa

Published Agustus 26, 2026 · Updated Agustus 26, 2026 · By Emily Davis - kabarnusantaraku.com

Foto : Emily Davis - kabarnusantaraku.com

Momen Sri Sultan Bagikan Udhik dalam Tradisi Kondur Gangsa di Masjid Gedhe

Kabarnusantaraku.com – Momen Sri Sultan Bagikan Udhik menjadi salah satu sorotan utama Hajad Dalem Sekaten yang digelar pada Selasa (25/8) malam di Kagungan Dalem Masjid Gedhe Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono X, Raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, menyerahkan sedekah berupa beras kuning, koin logam, dan bunga kepada masyarakat yang hadir. Prosesi ini merupakan bagian dari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan telah menjadi warisan budaya Keraton Yogyakarta selama berabad-abad.

Tradisi pembagian sedekah tersebut berakar pada masa Sultan Agung Hanyakrakrusuma dan terus diwariskan turun-temurun. Carik Kaprajuritan, Jajar Yuda Kawindra, menjelaskan bahwa isi sedekah—beras kuning, uang logam, dan bunga—melambangkan berkah serta kasih sayang Sultan kepada kawula Dalem.

"Udhik-udhik itu merupakan simbol sedekah dari Ngarsa Dalem kepada masyarakat atau kepada kawula Dalem. Isinya berupa beras kuning, lalu ada uang logam, koin logam itu, dan ada bunga. Itu melambangkan suatu sedekah dan berkah bagi rakyat dari Sultan."

Dampingan dan Penutup Rangkaian Sekaten

Saat prosesi berlangsung, Sri Sultan didampingi oleh putri keraton beserta para mantu, antara lain GKR Mangkubumi, GKR Bendara, KPH Wironegara, dan KPH Purbodiningrat. Setelah pembagian sedekah selesai, pembacaan risalah Nabi Muhammad SAW menjadi penutup rangkaian puncak Sekaten. Mendengarkan risalah tersebut, Sultan kemudian kembali menuju Keraton.

Kondur Gangsa: Kembalinya Gamelan Sekati

Bersamaan dengan kepulangan Sultan, kedua Gamelan Sekati—Kangjeng Kyai Guntur Madu dan Kangjeng Kyai Nagawilaga—diusung kembali ke Keraton dalam prosesi yang dikenal sebagai Kondur Gangsa. Tahun ini, kedua gamelan tersebut langsung dibawa kondur segera setelah Ingkang Sinuwun meninggalkan Kagungan Dalem Masjid Gedhe, berbeda dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya.

"Setelah Ngarsa Dalem kembali ke Kedhaton, gamelan diusung oleh para konco Gladhag dan prajurit juga mengantarkan kembalinya Gamelan Sekati ke Bangsal Trajumas."

Kondur Gangsa sendiri merupakan simbol kembalinya harmoni dan keseimbangan kosmis setelah gamelan dipergelarkan di luar Keraton. Prosesi ini menegaskan bahwa setiap instrumen gamelan memiliki kedudukan sakral dalam tata kehidupan keraton dan tidak boleh dibiarkan berada di luar batas yang telah ditetapkan oleh adat istiadat.

Kebijakan Penyederhanaan Prosesi

Pelaksanaan acara kali ini mengikuti arahan Sri Sultan yang telah disampaikan saat momen Garebeg Besar pada 27 Mei lalu. Oleh sebab itu, Garebeg Mulud Be 1960 juga diselenggarakan secara sederhana. KRT Kusumanegara, abdi dalem senior berpangkat Bupati Nayaka di Keraton Yogyakarta, menegaskan bahwa kebijakan penyederhanaan tersebut tetap berlaku untuk seluruh rangkaian hajad dalem yang tersisa.

"Dhawuh Dalem terkait penyelenggaraan Garebeg masih sama. Kami menerima dhawuh untuk menyederhanakan prosesi Garebeg, dimulai dari Garebeg Besar kemarin sampai sekarang Mulud juga masih dengan konsep pembagian ubarampe pareden. Meski begitu, karena ini bulan Mulud, ada beberapa rangkaian Hajad Dalem Sekaten yang tetap akan digelar sebelumnya."

Penyederhanaan ini tidak mengurangi makna spiritual dari setiap prosesi. Justru dengan memangkas

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Momen Sri Sultan Bagikan Udhik Udhik?

Momen Sri Sultan Bagikan Udhik Udhik is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Momen Sri Sultan Bagikan Udhik Udhik matter?

Momen Sri Sultan Bagikan Udhik Udhik matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.