Riset ITB: Jakarta Nol Emisi, Polusi Tetap Ada
Kabarnusantaraku.com – Riset ITB yang dipublikasikan pada Agustus 2025 mengungkap fakta mengejutkan: meskipun seluruh sumber emisi di Jakarta dihilangkan secara total, ibu kota tidak akan pernah benar-benar bebas dari polusi udara. Simulasi pemodelan dispersi atmosfer menunjukkan bahwa partikel pencemar dari wilayah sekitar—Bogor, Bekasi, Depok, dan Tangerang—akan terus mengalir masuk ke udara Jakarta. Artinya, upaya pembersihan udara ibu kota tidak bisa berdiri sendiri tanpa kolaborasi lintas daerah.
Temuan Utama Riset ITB tentang Dispersi Polusi Lintas Batas
Puji Lestari, Guru Besar Teknik Lingkungan sekaligus Kepala Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, menjelaskan bahwa konsentrasi PM2.5 yang diterima Jakarta dari luar wilayahnya berkisar antara 26 hingga 54 persen, dengan rata-rata 38,5 persen, bahkan dalam skenario nol emisi lokal. Penelitian berjudul Inventarisasi Emisi Wilayah Jabodetabek dan Source Apportionment PM2.5 di Jakarta ini didukung oleh Yayasan Visi Indonesia Raya Emisi Nol Bersih (ViriyaENB) dan dipresentasikan di sebuah hotel kawasan Jakarta Selatan pada Kamis, 20 Agustus.
“Hasil dispersi menunjukkan adanya transboundary air pollution. Bahkan jika emisi di Jakarta dinolkan, Jakarta masih menerima konsentrasi PM2.5 dari daerah luar sekitar 26–54 persen atau rata-rata 38,5 persen,” ujar Puji Lestari.
PM2.5 merujuk pada partikel udara berdiameter 2,5 mikrometer atau kurang—sekitar 30 kali lebih kecil dari sehelai rambut manusia. Partikel ini tak terlihat oleh mata telanjang dan berasal dari asap kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembakaran sampah, hingga kebakaran hutan. Proses dispersi yang membawa partikel tersebut sangat bergantung pada arah angin dan kondisi meteorologi setempat, sehingga konsentrasi polutan menurun seiring jarak dari sumbernya.
Profil Sumber Emisi di Jabodetabek
Analisis sampel PM2.5 yang dikumpulkan di Jakarta Barat selama Februari–Desember 2025 mencatat rata-rata konsentrasi 34,1 μg/m³. Angka ini melampaui baku mutu tahunan PP Nomor 22/2021 (15 μg/m³), pedoman US-EPA (9 μg/m³), serta sekitar 6,8 kali lipat nilai rekomendasi tahunan WHO (5 μg/m³). Dari sisi sumber, kendaraan diesel menyumbang porsi terbesar emisi Jakarta sebesar 33,1 persen, diikuti kendaraan bensin (26,2 persen), sulfat sekunder (20,4 persen), dan pembakaran batubara (5,5 persen).
Pola sumber emisi berbeda-beda di tiap wilayah Jabodetabek. Di Tangerang Selatan, transportasi mendominasi dengan kontribusi 63 persen. Kota Bekasi dan Kota Depok mencatat angka serupa, yakni 62 persen dari sektor transportasi. Sebaliknya, Kabupaten Bogor didominasi emisi industri hingga 94 persen, sementara Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bekasi masing-masing mencatat kontribusi sektor pembangkit sebesar 86 persen dan 60 persen.
Dampak Kesehatan PM2.5 terhadap Warga Jakarta
Berdasarkan data BPJS Kesehatan periode 2018–2023, Budi Haryanto, Guru Besar Kesehatan Lingkungan Universitas Indonesia, memproyeksikan bahwa penyakit jantung iskemik akan menjadi ancaman terbesar dengan persentase 37 persen apabila paparan PM2.5 terus meningkat. Disusul penyakit paru obstruktif kronis (27 persen), pneumonia (20 persen), dan infeksi saluran pernapasan akut/ISPA (18 persen).
“Jantung iskemik dan gangguan pembuluh darah berdampak ke susunan saraf pusat yang sangat peka, memicu tekanan darah tinggi, stroke, Alzheimer, bahkan gangguan kesehatan mental. Polusi udara berdampak sangat luas ke organ tubuh manusia,” tegas Budi Haryanto.
Puji Lestari menekankan bahwa polusi udara tidak mengenal batas administrasi. Ia menyerukan kerja sama antardaerah di Jabodetabek untuk pengelolaan emisi secara terpadu. Budi Haryanto menambahkan bahwa pengendalian emisi harus disertai langkah radikal mengurangi paparan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis.
FAQ
Apakah Jakarta bisa bebas polusi jika semua kendaraan bermotor dihapus?
Tidak. Riset ITB membuktikan bahwa bahkan dalam skenario nol emisi lokal, Jakarta tetap menerima 26–54 persen PM2.5 dari wilayah tetangga melalui proses dispersi atmosfer. Pengendalian polusi udara ibu kota memerlukan koordinasi emisi lintas batas Jabodetabek.
Apa itu PM2.5 dan mengapa berbahaya bagi kesehatan?
PM2.5 adalah partikel udara berdiameter ≤ 2,5 mikrometer yang berasal dari asap kendaraan, industri, pembakaran sampah, dan kebakaran hutan. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat menembus jauh ke dalam paru-paru, masuk ke aliran darah, dan memengaruhi jantung, otak, serta organ vital lainnya.
Bagaimana peran Riset ITB dalam perumusan kebijakan lingkungan?
Riset ITB menyediakan data kuantitatif tentang besaran dan arah dispersi polusi lintas batas, serta profil sumber emisi per wilayah. Data tersebut menjadi dasar ilmiah bagi pemerintah daerah dalam merancang strategi pengendalian emisi yang terpadu dan berbasis bukti, bukan sekadar asumsi.
