Bank Indonesia: Sistem Pembayaran Digital dan Tunai Saling Mendukung, Bukan Menggantikan
Kabarnusantaraku.com – BI – Bank Indonesia menegaskan bahwa metode pembayaran digital dan uang tunai bukanlah dua sistem yang saling bertukar peran. Kedua bentuk transaksi ini tetap dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia dan akan terus berjalan berdampingan, disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi geografis di setiap daerah.
Anwar Bashori, yang menjabat sebagai Asisten Gubernur Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI, menjelaskan bahwa meskipun digitalisasi terus berkembang pesat, uang fisik masih memegang peranan penting. Hal ini terutama terlihat di wilayah-wilayah yang belum memiliki akses jaringan telekomunikasi maupun infrastruktur digital yang memadai.
Digitalisasi sama cash itu bukan sesuatu yang saling menggantikan, tapi saling melengkapi ke depan, dan kita juga punya strategi masing-masing di belahan masing-masing.
Ungkapan tersebut disampaikan Anwar saat menghadiri Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) di Istora Senayan, Jakarta Pusat, pada hari Jumat tanggal 14 Agustus. Menurutnya, kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari sekitar 17 ribu pulau menyebabkan tingkat adopsi pembayaran digital berbeda-beda di setiap wilayah.
Perbedaan Adopsi Digital di Setiap Wilayah
Di daerah dengan tingkat edukasi dan akses digital yang lebih tinggi, seperti Jakarta dan Pulau Jawa, penggunaan QRIS terus mengalami pertumbuhan signifikan. Anwar menyebutkan bahwa semakin besar tingkat edukasi di Jakarta, maka pertumbuhan digitalisasi dan QRIS juga luar biasa.
Sementara itu, di daerah-daerah yang mungkin tingkat edukasinya kurang atau jaringan komunikasinya belum optimal, masyarakat masih sangat membutuhkan uang tunai sebagai alat transaksi sehari-hari.
Ketersediaan Uang Tunai di Daerah Terpencil
Anwar menjelaskan bahwa uang tunai tetap harus tersedia di wilayah terpencil dan daerah 3T yang belum terjangkau oleh jaringan telekomunikasi maupun layanan pembayaran digital seperti QRIS. Penurunan ketersediaan rupiah di wilayah tersebut perlu diantisipasi agar masyarakat tetap dapat melakukan transaksi dengan lancar.
Selain uang tunai secara umum, BI juga memastikan kebutuhan masyarakat terhadap pecahan uang kecil masih tetap terpenuhi. Pecahan kecil diperlukan untuk mempermudah penukaran dan transaksi, terutama di pasar tradisional. Selain itu, uang pecahan kecil masih dibutuhkan di berbagai daerah yang belum sepenuhnya terjangkau pembayaran digital.
Indonesia itu punya musim namanya Ramadan dan Lebaran. Semua orang nggak bisa lagi ngomong itu punya yang digital.
Kebutuhan uang pecahan kecil juga meningkat pada momen tertentu, salah satunya saat Ramadan dan Lebaran tiba. Anwar menyebut tradisi masyarakat Indonesia untuk membagikan uang kepada keluarga, terutama anak-anak dan keponakan, membuat kebutuhan uang pecahan kecil tetap ada.
Posisi Uang Kartal dalam Sistem Pembayaran Modern
Menurut Anwar, uang kartal tetap diperlukan karena belum ada negara yang sepenuhnya meninggalkan uang tunai. Pembayaran digital dan uang tunai memiliki fungsi masing-masing dan tidak dapat dipandang sebagai metode yang harus saling menggantikan.
Dia menambahkan, porsi uang non-tunai dalam transaksi saat ini memang sudah lebih besar dibandingkan uang tunai. Namun, keberadaan uang tunai tetap penting karena masih digunakan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Uang beredar kita itu memang sebagian besar itu adalah non-tunai. Jadi, tunai itu sekitar 20 persen dari uang beredar, ujar Anwar.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is BI?
BI is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does BI matter?
BI matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
