Menata Ulang Mobilitas Jakarta Melalui Konsep TOD
Kabarnusantaraku.com – Perkembangan kota Jakarta selama puluhan tahun telah menciptakan jarak yang semakin lebar antara tempat tinggal, ruang kerja, pusat perbelanjaan, dan moda transportasi publik. Warga membayar konsekuensi jarak tersebut dalam bentuk waktu yang terkuras setiap hari. Jalan terus diperlebar, jumlah kendaraan melonjak, dan kawasan permukiman merambat ke pinggiran kota. Desain ruang kota yang cenderung memprioritaskan kendaraan pribadi inilah yang melahirkan kekacauan dalam sistem mobilitas perkotaan.
Data yang Mengkhawatirkan
Kajian Asian Development Bank (ADB) mengenai mobilitas masyarakat perkotaan mencatat bahwa rata-rata pekerja di kota-kota berkembang menghabiskan hingga 1,5 jam untuk perjalanan dari rumah menuju kantor, dan sekitar 2 jam untuk kembali pulang. Jika dikalkulasikan dalam rentang beberapa tahun, durasi commuting tersebut setara dengan waktu yang seharusnya bisa dialokasikan untuk peningkatan kompetensi, pelatihan, atau aktivitas sosial lainnya.
Permasalahan semacam ini bukan hal baru. Kota-kota di Asia Pasifik seperti Kuala Lumpur, Bangkok, hingga Singapura pernah menghadapi dinamika serupa ketika tumbuh dengan sangat cepat. Jakarta, yang kini bertransformasi menjadi salah satu kota modern terdepan di kawasan tersebut, juga tengah melewati fase yang sama.
Peran PT Integrasi Transit Jakarta
Menyadari bahwa kualitas hidup masyarakat perkotaan kian mengkhawatirkan tanpa solusi konkret, PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ)—anak perusahaan PT MRT Jakarta (Perseroda)—mengangkat konsep Transit Oriented Development (TOD) sebagai instrumen untuk merajut kembali berbagai fragmen kota agar lebih dekat dengan kehidupan warganya.
Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta, Ferdiansyah Roestam, menegaskan bahwa membangun kota bukan sekadar mendirikan gedung atau menambah ruas jalan. Ia menyebut bahwa salah satu persoalan mendasar dalam tata kota adalah membuat warganya menghabiskan waktu jauh lebih lama dalam perjalanan harian.
“Ada masalah-masalah di dalam urban design dan urban development, di mana mendorong orang punya lead time yang panjang sekali dan akhirnya menghabiskan kualitas hidup yang sebetulnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang lain.”
Pernyataan tersebut disampaikan Ferdi saat kelas MRTJ Fellowship 2026, dikutip Selasa (25/8).
Prinsip dan Cakupan TOD
Ferdi menjelaskan bahwa kota-kota yang berkembang sangat cepat umumnya memiliki orientasi pada kendaraan bermotor. Konsekuensinya, badan jalan terus diperlebar, sementara pejalan kaki tidak memperoleh kesetaraan maupun keadilan dalam akses ruang kota. Selain itu, masyarakat dipaksa menempuh jarak antar tujuan yang terlalu jauh, dan ketergantungan pada kendaraan bermotor menuntut lahan luas untuk area parkir serta mendorong pelebaran kawasan suburban untuk hunian.
“Masalah yang dihadapi dalam kota-kota dengan perkembangan yang sangat cepat biasanya dia punya orientasi di kendaraan bermotor, jadi badan jalannya diperlebar terus, akhirnya tidak punya kesetaraan, tidak punya keadilan untuk pejalan kaki.”
Sebagai respons, PT Integrasi Transit Jakarta menerapkan pendekatan kawasan campuran (mixed-use) dalam pengembangan TOD. Kawasan ini dapat dikembangkan sebagai residensial, perkantoran, hingga komersial. Bagi PT MRT Jakarta, cakupan kawasan TOD mencakup radius 800 meter dari titik simpul stasiun MRT. Di wilayah padat penduduk, kawasan tersebut harus meningkatkan konektivitas, menciptakan pertumbuhan ekonomi, serta menghidupkan kesetaraan sosial.
“TOD itu punya beberapa prinsip yang dicoba untuk didorong supaya urban development dan re-development di perkotaan itu bisa meningkatkan kualitas hidup warganya.”
Ferdi menambahkan bahwa pola pikir TOD tidak bisa diterapkan secara instan, terutama untuk kota yang sudah mapan seperti Jakarta. Oleh karena itu, perusahaan melakukan pendekatan penataan ulang (re-development) sebagai jalan tengah.
Proyek yang Sudah Berjalan
Sejak didirikan pada tahun 2020, PT Integrasi Transit Jakarta telah membangun dan mengelola setidaknya lima proyek TOD. Proyek-proyek tersebut meliputi Simpang Temu Lebak Bulus, Taman Literasi Martha Tiahahu di Blok M, kawasan Senayan dan Istora, Dukuh Atas, serta Bundaran HI.
Struktur Kepemilikan dan Dampak Anggaran
Sebagai satu-satunya perusahaan properti yang bergerak dalam pengembangan kawasan TOD di Indonesia, PT Integrasi Transit Jakarta menegaskan bahwa mayoritas proyeknya tidak mengandalkan anggaran negara. Saham perusahaan dimiliki 96,99 persen oleh PT MRT Jakarta, sementara 3,01 persen sisanya berada di tangan PT Transportasi Jakarta.
“Bisa Anda bayangkan kalau infrastruktur publik semuanya terbangun tidak membebani APBD. Jadi pemerintah provinsi itu sebetulnya bisa memprioritaskan anggarannya ke tempat-tempat lain, pos-pos lain yan”
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is TOD MRT?
TOD MRT is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does TOD MRT matter?
TOD MRT matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
