Pesan Terakhir Dokter Icha dan Kondisi sebelum Meninggal
Key Strategy menjadi pusat perhatian setelah kematian dr. Eliza Princila Utami Pakaenonoi, yang dikenal sebagai Dokter Icha, yang terjadi di RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur. Keluarga korban mengungkap pesan singkat yang ia kirim sebelum meninggal, yang menunjukkan tekanan psikologis berat dan rasa takut yang menghantui kehidupannya terakhir. Pihak keluarga berencana mengambil langkah hukum strategis untuk menindaklanjuti dugaan intimidasi terhadap dokter tersebut.
Insiden Intimidasi yang Mengguncang Dunia Medis
Kematian Dokter Icha terjadi setelah insiden menegangkan saat ia menangani pasien anak korban gigitan ular hijau. Dalam sebuah wawancara, Fabi Banase, paman korban, menjelaskan bahwa Dokter Icha merasa terbebani karena tekanan yang diterimanya dari beberapa anggota DPRD TTU. “Dia bilang punya niat meninggal dunia untuk menghindari trauma. Bapa, saya stres. Kalau saya pulang ke sana, saya takut. Biar saya mati saja supaya jangan ada korban nakes yang lain,” kata Fabi, menirukan ucapan adiknya.
“Dia bilang punya niat meninggal dunia untuk menghindari trauma. Bapa, saya stres. Kalau saya pulang ke sana, saya takut. Biar saya mati saja supaya jangan ada korban nakes yang lain.”
Menurut Fabi, dua dari tiga anggota DPRD TTU, yakni Veronika Lake (PDI Perjuangan), Therensius Lazakar (Partai Golkar), dan Norbertus Tubani (PKB), terlibat dalam intimidasi terhadap Dokter Icha. Ia mengatakan mereka masuk ke ruang UGD dalam keadaan mabuk dan menambahkan rasa takut yang menghantui korban. “Mereka dalam keadaan mabuk saat masuk ke ruang UGD,” tegasnya.
Proses Hukum dan Upaya Keluarga untuk Keadilan
Keluarga Dokter Icha memutuskan untuk mengambil key strategy hukum dalam menuntut tindakan yang diduga menimbulkan tekanan psikologis berat. “Kalau dalam tujuh hari tidak ada titik temu, baru mereka bentuk laporan itu. Tapi karena internal belum selesai, kita tunggu. Yang pasti kami akan kawal,” jelas Fabi. Proses ini akan dilakukan bersamaan dengan penanganan etik oleh Badan Kehormatan (BK) DPRD TTU.
“Mereka dalam keadaan mabuk saat masuk ke ruang UGD.”
Sebagai bagian dari key strategy keluarga, mereka juga berharap masyarakat dan organisasi kemasyarakatan dapat berperan dalam mendukung proses hukum ini. “Bila perlu kita duduki DPR kalau prosesnya tidak berjalan sebagaimana mestinya,” tambah Fabi. Langkah ini bertujuan untuk memastikan keadilan dan mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan.
Dukungan dari Profesional Kedokteran
dr. Trimaharani, rekan kerja Dokter Icha sekaligus dokter konsultan, memberikan pernyataan yang mendukung alasan kematian korban. “Dia takut sekali. Tindakan medisnya sudah sesuai standar ilmu kedokteran,” ujarnya. Dalam pemeriksaan kejiwaan, Dokter Icha dinyatakan mengalami episode depresi berat tanpa gejala psikotik, yang berdampak langsung pada kesehatannya mental.
“Dia takut sekali.”
Kejadian ini juga menarik perhatian Ikatan Dokter Indonesia (IDI) NTT, yang berencana mengambil langkah strategis untuk menginvestigasi lebih lanjut. “Kasus ini sangat krusial karena menunjukkan keterlibatan politik dalam dunia medis,” kata perwakilan IDI. Selain itu, keluarga Dokter Icha menyerukan dukungan lebih besar dari masyarakat untuk meningkatkan perlindungan terhadap para tenaga kesehatan.
Langkah-Langkah untuk Mencegah Kematian Serupa
Sebagai bagian dari key strategy yang lebih luas, keluarga Dokter Icha berharap kejadian ini menjadi peringatan bagi para anggota DPRD dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam penekanan terhadap profesi medis. “Kita perlu sistem yang lebih adil dan transparan agar nakes tidak merasa terancam,” imbuh Fabi. Proses ini juga dilihat sebagai langkah untuk memperkuat keterlibatan komunitas dalam menegakkan hukum.
Keluarga sedang menyusun strategi lebih lanjut untuk memastikan kejelasan dalam insiden ini. Mereka menargetkan proses hukum yang cepat dan efektif, serta mendorong pembentukan aturan baru yang melindungi para dokter dari tekanan tidak sehat. “Kami tidak hanya mencari keadilan untuk Icha, tetapi juga untuk seluruh profesi yang terancam,” tutur Fabi. Dengan key strategy ini, mereka berharap masyarakat lebih peduli pada kondisi nakes yang seringkali diabaikan.
