Anggota DPRD TTU Buka Suara soal Dugaan Intimidasi Dokter Icha
Topics Covered: Kasus kematian dokter muda dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha menjadi sorotan publik setelah keluarga menyebut almarhumah mengalami tekanan psikologis setelah bertugas di IGD RS Leona Kefamenanu. Anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), Veronika Lake, memberikan pernyataan untuk menjelaskan peran dan niatnya dalam kejadian tersebut. Menurut Veronika, semua tindakan yang dilakukan tidak bertujuan memperparah situasi, melainkan untuk menjelaskan kronologi kejadian secara jelas. Pernyataan ini diberikan sebagai tanggapan terhadap berita yang menyebutkan dugaan intimidasi terhadap almarhumah.
Veronika Lake: Tidak Ada Niat Intimidasi dalam Kunjungan ke RS Leona
Veronika menegaskan bahwa ucapan “panggil wartawan saja” yang sempat viral tidak ditujukan secara langsung kepada dr. Icha, melainkan sebagai usulan untuk meningkatkan transparansi dalam layanan kesehatan. “Kalimat itu diucapkan saat saya dan rekan-rekan anggota DPRD sedang membicarakan prosedur penanganan pasien di RS Leona,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa semua langkah yang diambil diambil dalam rangka memastikan kualitas pelayanan kesehatan tetap terjaga.
“Saya kemudian menegaskan bahwa kunjungan ke rumah sakit tersebut bukanlah tindakan terencana, melainkan kebetulan. Tujuan kami adalah memastikan prosedur medis dijalani sesuai standar, bukan mengintimidasi siapa pun,” ujar Veronika.
Menurut Veronika, dalam perjalanan pulang dari arisan di Kecamatan Insana, ia bersama dua anggota DPRD lainnya dan seorang istri anggota dewan singgah ke RS Leona. Ini terjadi karena salah satu anggota DPRD, Therensius Lazakar, mengajak rombongan untuk menjenguk keponakannya yang dirawat akibat gigitan ular berbisa. “Saya hadir di rumah sakit hanya sebagai tamu, dan tidak ada niat untuk menekan atau memengaruhi tim medis,” tambahnya.
Keluarga dr. Icha: Peristiwa Terjadi karena Tekanan Psikologis
Keluarga dr. Icha menyebutkan bahwa almarhumah mengalami kecemasan setelah terjadi pertukaran pihak saat menjalani tugas medis di RS Leona. Victor Manbait, paman dr. Icha, mengatakan situasi memanas saat pasien meminta vaksin tertentu yang belum direkomendasikan oleh dokter spesialis. “Dr. Icha menjalankan prosedur sesuai SOP, tetapi beliau mengaku merasa ketakutan karena bentakan yang diterimanya,” tutur Victor.
“Kami menilai tekanan psikologis tersebut menjadi faktor utama dalam kejadian kematian dr. Icha. Meski demikian, kami juga mengapresiasi upaya DPRD TTU untuk menyelidiki lebih lanjut,” jelas Victor.
Menurut keluarga, peristiwa ini menggambarkan masalah transparansi dan komunikasi yang kurang baik antara pihak rumah sakit dan anggota dewan. Mereka berharap penjelasan lebih lengkap bisa diberikan oleh pihak terkait, termasuk hasil evaluasi terhadap prosedur penanganan pasien. “Kami ingin kejadian ini menjadi pelajaran bagi rumah sakit untuk memperbaiki layanan,” imbuh Victor.
Proses Evaluasi dan Respons Manajemen RS Leona
Setelah beredarnya berita mengenai dugaan intimidasi, manajemen RS Leona mengeluarkan pernyataan untuk menjelaskan prosedur penanganan pasien yang dilakukan oleh tim medis. Dalam statement tersebut, RS Leona menyebutkan bahwa almarhumah memang menemui tantangan selama menjalani tugas, tetapi tidak ada indikasi kekerasan atau tekanan psikologis yang dilakukan secara sengaja.
“Kami sudah melakukan evaluasi terhadap situasi tersebut, dan hasilnya menunjukkan bahwa seluruh prosedur dijalani dengan baik. Tidak ada tindakan intimidasi dari pihak luar,” kata manajemen RS Leona.
Veronika menegaskan bahwa diskusi dengan pihak rumah sakit dan keluarga dr. Icha telah selesai dengan baik. Ia juga menyampaikan permohonan maaf dari dua anggota DPRD TTU yang terlibat. “Kami ingin menegaskan bahwa tidak ada niat jahat dalam semua tindakan yang kami ambil. Tujuannya hanya untuk menyelidiki dan memperbaiki pelayanan kesehatan,” jelas Veronika.
Transparansi sebagai Kunci Penyelesaian Masalah
Sebagai bagian dari Topics Covered dalam kasus ini, transparansi menjadi faktor penting dalam memperjelas peran anggota DPRD. Veronika mengungkapkan bahwa kunjungan ke RS Leona dilakukan secara spontan dan tidak ada upaya untuk menyembunyikan fakta. “Kami ingin memberikan dukungan ke arah yang benar, bukan mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap lay
