Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparannews

What Happened During: Menkes soal Penyakit Kusta: Bisa Diobati, Tak Usah Diberikan Stigma Kutukan

Joseph Garcia - kabarnusantaraku.com 3 mins read

tukan What Happened During konferensi nasional kusta yang diadakan pada Jumat (10/7) di Grand Sahid Hotel, Jakarta, menjadi momen penting dalam upaya mengubah

What Happened During: Menkes soal Penyakit Kusta: Bisa Diobati, Tak Usah Diberikan Stigma Kutukan

Menkes: Penyakit Kusta Bisa Diobati, Bukan Kutukan

What Happened During konferensi nasional kusta yang diadakan pada Jumat (10/7) di Grand Sahid Hotel, Jakarta, menjadi momen penting dalam upaya mengubah persepsi masyarakat terhadap penyakit ini. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin secara tegas menyatakan bahwa kusta bukanlah kutukan yang tak bisa diatasi, melainkan penyakit menular yang bisa sembuh jika diberikan pengobatan tepat waktu. Pernyataan ini menjadi salah satu What Happened During sesi utama konferensi, karena menyoroti perubahan paradigma penanganan penyakit yang selama ini dikenal sebagai “penyakit kutukan” di banyak daerah.

Penyakit Menular yang Bisa Diobati

Kusta, yang secara medis dikenal sebagai lepra, tergolong penyakit menular yang dapat diperbaiki melalui terapi obat. Menurut Budi, setelah pasien memulai pengobatan, penyakit ini tidak lagi menyebar ke orang lain. “Sekali kita minum obat, penyakit ini tidak menularkan lagi,” jelasnya. Hal ini menegaskan bahwa What Happened During proses pengobatan bukan hanya memperbaiki kesehatan pasien, tetapi juga memutus rantai penularan yang selama ini dikhawatirkan oleh masyarakat.

“Kusta bukan kutukan, tapi penyakit yang bisa diatasi. Jadi, What Happened During kehidupan pasien kusta sebenarnya bisa menjadi cerminan keberhasilan kita dalam menangani penyakit menular,” tegas Budi.

Gejala dan Deteksi Dini

Dalam konferensi tersebut, Budi juga memaparkan gejala kusta yang perlu diwaspadai oleh masyarakat. Di antaranya adalah munculnya bercak putih pada kulit yang tidak bereaksi saat disentuh atau ditusuk ringan. Ia menekankan bahwa What Happened During tahap awal deteksi sangat kritis, karena kecepatan pengobatan akan memengaruhi kelancaran proses penyembuhan.

“Kalau ada bintik-bintik putih yang tidak berasa saat ditusuk, itu ciri khas kusta. What Happened During deteksi dini bisa mencegah penyakit ini berkembang menjadi lebih parah,” ujarnya.

Program Penanganan di Sampang

Budi menyebutkan bahwa What Happened During pengujian di puskesmas Sampang menunjukkan peningkatan kasus kusta yang signifikan, mencapai 100% di beberapa lokasi. “Naiknya kasus itu bisa mencapai 30%, 60%, bahkan 100% di beberapa wilayah,” terangnya. Ia menjelaskan bahwa peningkatan ini bukanlah tanda kegagalan program, melainkan bukti bahwa masyarakat mulai lebih waspada terhadap gejala kusta.

What Happened During pemberian insentif di puskesmas Sampang, seperti yang saya lakukan bersama Yohei Sasakawa dari WHO, menunjukkan bahwa motivasi lokal sangat berpengaruh pada hasil penanganan penyakit ini,” tambah Budi.

Kemitraan dengan WHO dan Upaya Penyuluhan

Menurut Budi, What Happened During program penanganan kusta di Sampang menjadi contoh sukses dalam kolaborasi antara pemerintah dengan organisasi kesehatan internasional. Duta Besar WHO Yohei Sasakawa turut hadir dalam acara tersebut, menegaskan pentingnya pendekatan holistik dalam mengatasi penyakit yang disebut sebagai “penyakit kutukan” di masa lalu.

What Happened During kerja sama dengan WHO, kami bisa mempercepat identifikasi kasus dan memberikan obat secara tepat. Ini bukan hanya soal kesehatan, tapi juga soal kesadaran masyarakat bahwa kusta bisa diobati,” kata Budi.

Stigma dan Perubahan Persepsi

Budi menyoroti bahwa stigma yang selama ini melekat pada kusta bisa menghambat kepatuhan pasien dalam pengobatan. “Stigma membuat masyarakat takut mengakui penyakit ini, padahal What Happened During pengobatan justru bisa mengembalikan kualitas hidup pasien,” tuturnya. Ia menekankan bahwa perubahan persepsi ini membutuhkan edukasi yang berkelanjutan, baik melalui program pemerintah maupun kegiatan masyarakat.

“Stigma kusta bisa menular seperti virus, jadi kita harus berupaya What Happened During masa sekarang untuk memutusnya. Masyarakat harus tahu bahwa obat kusta mudah didapat dan tidak menimbulkan rasa malu,” pungkasnya.

Dalam rangkaian What Happened During konferensi, Budi juga mengajak seluruh pihak untuk terus berpartisipasi dalam menangani penyakit ini. Ia menyatakan bahwa pendekatan yang sama perlu diterapkan di seluruh Indonesia, agar stigma kusta tidak lagi menghalangi upaya pengobatan. Dengan keberhasilan di Sampang sebagai contoh, ia berharap What Happened During kegiatan serupa dapat diperluas, sehingga penanganan kusta menjadi lebih efektif dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *