Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparannews

What Happened During: Terjebak dan Alami Kram, Pria Seberat 200 Kg di Banyuwangi Dievakuasi Damkar

Christopher Wilson - kabarnusantaraku.com 3 mins read

evakuasi Tim Damkar What Happened During: Seorang pria berusia 35 tahun yang tinggal di Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi, terjebak di kamar mandi karena

What Happened During: Terjebak dan Alami Kram, Pria Seberat 200 Kg di Banyuwangi Dievakuasi Damkar

Terjebak dan Mengalami Kram, Pria Berat 200 Kg Dievakuasi Tim Damkar

What Happened During: Seorang pria berusia 35 tahun yang tinggal di Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi, terjebak di kamar mandi karena mengalami kram parah dan kesulitan bergerak. Kejadian ini terjadi pada Kamis (9/7) malam, saat korban mengeluhkan rasa pusing yang hebat hingga tubuhnya melemah. Meski sempat berusaha mengangkat diri sendiri, pria yang dikenal dengan nama ADS ini tidak mampu berdiri lagi. Setelah upaya keluarga gagal karena berat badan mencapai 200 kilogram, mereka memutuskan menelepon Tim Pemadam Kebakaran (Damkar) pada Jumat (10/7) pagi.

Perkembangan Kondisi Korban

Sebelum kejadian, ADS sempat menjalani kehidupan normal. Namun, pada Kamis malam, ia merasa lemah dan mengalami kram yang semakin menguat. Berusaha duduk di bangku kecil, korban akhirnya jatuh ke lantai dalam posisi miring. Saat ini, kondisi kram mengakibatkan pusing hebat dan kelelahan ekstrem, sehingga memaksa keluarga menyerahkan penanganan darurat kepada pihak Damkar. Apa yang terjadi selama proses evakuasi menjadi sorotan utama dalam What Happened During.

“Kami menerima laporan pada pukul 10.30 WIB dan segera bergerak ke lokasi. Tidak mudah untuk mengevakuasi korban karena kondisi kram dan ruang terbatas,” ujar Anggota Tim Rescue Damkar Banyuwangi, Ribut Hendriyanto, kepada wartawan. Petugas menyebutkan bahwa mereka harus merancang strategi khusus agar tidak menyakiti korban selama proses.

Proses Evakuasi yang Rumit

Tim Damkar mempersiapkan alat seperti tali mantel, webbing, katrol, serta kain sarung untuk memudahkan evakuasi. Dalam What Happened During, proses ini memakan waktu sekitar 30 hingga 40 menit. Selama waktu tersebut, petugas bekerja sama dengan tim medis Palang Merah Indonesia (PMI) Banyuwangi dan warga setempat untuk memastikan keamanan korban. Karena berat badan ADS mencapai 200 kg, setiap langkah evakuasi harus dilakukan dengan hati-hati dan terencana.

“Kami menemukan bahwa korban terjebak di kamar mandi yang sempit. Kram parah menyebabkan tubuhnya melemah, sehingga perlu pemanasan dan pengaturan posisi yang tepat sebelum dipindahkan,” jelas Hendri. Peralatan yang digunakan dirancang untuk mengurangi tekanan pada tubuh korban, terutama di bagian punggung dan leher.

Dalam What Happened During, kondisi kram korban dijelaskan sebagai gejala awal yang berubah menjadi keadaan darurat. Setelah dipindahkan ke kamar tidur yang lebih luas, ADS diberikan perawatan medis lanjut oleh PMI. Tim medis mengungkapkan bahwa korban mengalami dehidrasi dan kelelahan akut yang memicu kram. Evakuasi berhasil dilakukan setelah semua langkah persiapan selesai, termasuk pemanasan tubuh dan penyesuaian posisi.

Koordinasi Tim dan Warga Sebagai Penyelamat

Proses evakuasi tidak hanya bergantung pada peralatan Damkar, tetapi juga koordinasi antar tim dan masyarakat sekitar. Dalam What Happened During, petugas menyebutkan bahwa warga membantu merapatkan posisi bangku kecil untuk mencegah korban terjatuh lagi. Sementara itu, tim medis menempatkan korban di tempat tidur yang nyaman agar bisa istirahat dan pulih. Dalam beberapa jam setelah What Happened During, korban stabil dan diperbolehkan pulang setelah memperoleh penanganan awal.

“Warga sangat berperan dalam membantu stabilisasi korban sebelum pihak Damkar tiba. Mereka juga memberikan informasi tentang kondisi kram yang terjadi,” tambah Hendri. Selama What Happened During, kesabaran dan kolaborasi menjadi kunci keberhasilan evakuasi.

Penyebab Kram dan Proses Penanganan

Kram yang dialami ADS disebutkan terkait dengan kelelahan dan dehidrasi. Sebelum jatuh, korban sempat mengeluhkan rasa pusing dan lemas, yang kemudian memicu kram parah. Dalam What Happened During, dokter menyatakan bahwa kondisi kram ini bisa terjadi karena kurangnya asupan cairan atau kelebihan beban fisik. Evakuasi tidak hanya fokus pada pemindahan fisik, tetapi juga melibatkan pengaturan posisi tubuh korban untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

“Kram ini menyebabkan otot-otot korban melemah, sehingga kesulitan untuk bergerak. Kami mengutamakan kenyamanan korban selama proses evakuasi,” kata Hendri. Dalam What Happened During, keseluruhan proses berlangsung terstruktur dan berkoordinasi dengan baik.

Dalam What Happened During, kisah ADS menjadi contoh bagaimana kejadian yang tampak sederhana bisa berubah menjadi situasi kritis. Evakuasi berlangsung tanpa cedera, berkat persiapan yang matang dan kerja sama antar tim. Setelah dipulangkan, korban dianjurkan untuk istirahat dan menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut. Apa yang terjadi selama What Happened During menunjukkan pentingnya respons cepat dan keterlibatan masyarakat dalam keadaan darurat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *