Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparannews

Selain di FEB – Kasus Pelecehan Seksual Juga Terjadi di Fakultas Kedokteran USU

Susan Davis - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Sebelumnya di FEB, Kasus Pelecehan Seksual Juga Terungkap di FK USU Selain di FEB - Kasus pelecehan seksual di Fakultas Kedokteran USU semakin memperbesar

Selain di FEB – Kasus Pelecehan Seksual Juga Terjadi di Fakultas Kedokteran USU

Sebelumnya di FEB, Kasus Pelecehan Seksual Juga Terungkap di FK USU

Selain di FEB – Kasus pelecehan seksual di Fakultas Kedokteran USU semakin memperbesar skandal kekerasan yang terjadi di kampus. Selain di FEB, penyelidikan menunjukkan bahwa tindakan serupa juga merambah ke Fakultas Kedokteran. Meutia Nauly, Ketua Satgas PPKS USU, mengungkapkan bahwa telah menerima laporan dari korban yang mengalami kejadian serupa. Dalam pemeriksaan awal, dua terduga pelaku dari Fakultas Kedokteran dan FEB terlibat dalam kasus yang bersifat terpisah namun memiliki modus serupa.

Kasus Terpisah, Tapi Sama Modusnya

Meutia menyatakan bahwa Satgas PPKS sedang mengecek laporan terkait dua kasus yang berbeda. “Selain di FEB, kasus serupa juga terjadi di FK USU,” terang Meutia saat ditemui wartawan Senin (13/7). Ia menjelaskan bahwa meskipun kejadian dan korban berbeda, kedua kasus ini menggunakan modus yang sama, yaitu bentuk kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelaku dengan posisi di atas korban. Meutia menegaskan bahwa USU berkomitmen untuk menuntaskan kasus ini secara transparan.

“Kami sedang menunggu hasil investigasi untuk memastikan detail selengkapnya,” tambah Meutia.

Menurut Meutia, USU tidak menoleransi bentuk kekerasan seksual maupun tekanan psikologis terhadap korban. “Selain di FEB, tindakan intimidasi atau upaya mencabut laporan tidak dapat dibenarkan,” ujarnya. Pihak kampus menyatakan siap menindaklanjuti segala bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh anggota masyarakat kampus, baik mahasiswa maupun dosen.

Proses Investigasi dan Korban yang Bertambah

Kasus di Fakultas Kedokteran USU yang mengemuka sebelumnya melalui unggahan video viral di media sosial. Pemilik akun R membagikan tangkapan layar percakapan antara CHS, mahasiswa berinisial yang terlibat dalam pelecehan seksual, dan seorang mahasiswi. Unggahan ini memicu sejumlah korban lain untuk mengungkapkan pengalaman serupa. “Selain di FEB, kasus di FK USU juga menimbulkan respons positif dari mahasiswa,” kata Meutia.

Satgas PPKS USU mulai melakukan investigasi menyeluruh, termasuk memeriksa para pelaku dan saksi. Meutia menjelaskan bahwa sejumlah mahasiswa telah melaporkan kejadian pelecehan seksual, baik melalui surat maupun laporan langsung. “Selain di FEB, kami menemukan kasus baru di FK USU yang menunjukkan tren kekerasan seksual di berbagai fakultas,” tambahnya.

Kasus ini juga menjadi perhatian publik, terutama setelah video viral memperlihatkan sikap pelaku yang tidak menghiraukan korban. “Selain di FEB, kejadian di FK USU mengingatkan kita bahwa masalah ini tidak hanya terbatas pada satu fakultas,” ujar Meutia. Ia menambahkan bahwa pihak kampus terus berupaya mencegah tindakan serupa di masa mendatang.

Pengaruh Kasus di FK USU

Kasus pelecehan seksual di FK USU menciptakan dampak signifikan, terutama terhadap lingkungan akademik. “Selain di FEB, kejadian di FK USU menimbulkan kecemasan di kalangan mahasiswi,” kata Meutia. Ia menekankan bahwa pihak kampus berupaya mengembalikan rasa percaya melalui langkah-langkah transparansi dan pemberdayaan korban. “Selain di FEB, FK USU juga mengambil langkah-langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa,” tambahnya.

Pengakuan korban menunjukkan bahwa kekerasan seksual bisa terjadi di berbagai lingkungan, termasuk di fakultas kedokteran. Meutia menyebutkan bahwa kasus ini menunjukkan bahwa masalah ini tidak hanya berkaitan dengan individu, tetapi juga dengan sistem penegakan hukum di kampus. “Selain di FEB, FK USU menjadi contoh bagaimana kejadian serupa bisa terjadi di berbagai unit akademik,” ujarnya. Dengan adanya dua kasus yang terpisah, USU semakin memperkuat komitmen untuk melindungi korban dan memastikan kesadaran akan kekerasan seksual.

Selain di FEB, kasus di FK USU mengingatkan bahwa pelecehan seksual adalah masalah yang kompleks dan memerlukan penanganan lintas departemen. Meutia menegaskan bahwa pihak kampus akan terus meningkatkan upaya pencegahan dan penegakan hukum. “Selain di FEB, kami berharap kasus ini menjadi momentum untuk mengubah budaya kampus menjadi lebih inklusif dan aman,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *