Mengingat Lagi Kasus Bom SMA 72 yang Menginspirasi Pelaku Ledakan MAN 3 Padang
Mengingat Lagi Kasus Bom SMA 72 – Seorang siswa kelas XII di MAN 3 Padang, Sumatera Barat, melakukan peledakan dengan bom rakitan di lingkungan sekolahnya. Kejadian ini terjadi pada Selasa, 14 Juli. Polisi menyebut perundungan atau bullying menjadi alasan utama tindakan tersebut. Informasi itu muncul setelah tim penyelidik memeriksa pihak terkait.
“Setelah kami lakukan pemeriksaan, anak tersebut mengaku melakukan perbuatannya karena menyimpan rasa dendam akibat terus-menerus menjadi korban perundungan oleh teman-temannya,” ujar Kapolresta Padang Kombes Pol Apri Wibowo kepada wartawan di lokasi, Selasa (14/7).
Menurut pengakuan siswa yang berinisial R, aksi nekatnya dipicu oleh insiden serupa di SMA Negeri 72 Jakarta tahun 2025 lalu. Dia juga mempelajari cara membuat bahan peledak melalui internet. “Pelaku juga mengaku mempelajari pembuatan bahan peledak secara daring dan terinspirasi oleh peristiwa bom di SMA Negeri 72 Jakarta pada tahun 2025. Motif tersebut masih dalam proses pendalaman oleh TIM Penyelidik,” tambah Juru Bicara Densus 88 Kombes Mayndra Eka Wardhana dalam keterangannya, Selasa (14/7).
Kasus Bom SMA 72 Jakarta
Kasus serupa sebelumnya pernah terjadi di Jakarta, khususnya di SMAN 72. Jumat, 7 November 2025, sekitar pukul 12.15 WIB, menjelang salat Jumat, menjadi hari penuh ketakutan bagi siswa dan guru. Empat bom meledak, dan pelakunya adalah seorang siswa dari sekolah tersebut.
Insiden ini tidak menewaskan siapa pun, tetapi menyebabkan 98 orang mengalami luka ringan hingga berat. Sebagian besar korban mengalami gangguan pendengaran, luka bakar, serta trauma saluran pencernaan. Dari total tujuh bom yang dibawa pelaku, hanya empat yang meledak. Sisanya berhasil diamankan polisi.
Bom yang meledak di dalam masjid dan taman baca dekat bank sampah menggunakan alat pemantik berbeda. Untuk ledakan di masjid, pelaku menggunakan remote, sementara bom di taman baca mengandalkan sumbu. Setelah aksi, pelaku mengalami luka serius dan dibawa ke RS Islam Cempaka Putih, lalu dirujuk ke RS Polri untuk perawatan intensif.
