Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparannews

Visit Agenda: ASN Nias Lompat dari Lantai 12 Apartemen di Medan, Kakinya Putus Kena Tembok

Christopher Wilson - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Visit Agenda: ASN Nias Jatuh dari Lantai 12 Apartemen, Kakinya Putus Kena Tembok Visit Agenda – Seorang pegawai negeri sipil (PNS) dari Badan Pertanahan

Visit Agenda: ASN Nias Lompat dari Lantai 12 Apartemen di Medan, Kakinya Putus Kena Tembok

Visit Agenda: ASN Nias Jatuh dari Lantai 12 Apartemen, Kakinya Putus Kena Tembok

Visit Agenda – Seorang pegawai negeri sipil (PNS) dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Nias, berinisial AL, meninggal setelah melompat dari lantai 12 apartemen di Kota Medan. Menurut Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Adrian Risky Lubis, korban mengalami cedera serius akibat tabrakan dengan dinding setelah melakukan lompatan tersebut. Insiden ini menjadi perhatian publik karena menggambarkan situasi yang menimbulkan kejutan dan emosi.

“Loncat ke bawah dan menyentuh dinding yang menonjol sekitar dua meter. Di situ kaki korban putus, lepas di situ kemudian sampai ke bawah,” kata Adrian dalam konferensi pers di Polrestabes Medan, Rabu (15/7).

Proses Pertemuan dan Pemicu Kejadian

Korban berinisial AL melompat dari balkon Apartemen Skyview di Jalan Abdul Hakim, Kecamatan Medan, pada Jumat (10/7) dini hari. Pemicu kejadian ini adalah dua wanita, FR (31) dan JS (29), yang memaksa korban membayar Rp 4.500.000 untuk layanan khusus. Pertemuan antara korban dan FR berawal dari janji janji melalui aplikasi kencan Michat, tetapi korban beralih ke JS setelah melihat perbedaan penampilan.

“Jadi di sini awalnya korban itu janjian sama tersangka FR. Korban kemudian memilih tersangka JS. Ini kok enggak sesuai foto gitu. Karena enggak sesuai foto, korban maunya sama si JS,” ujar Adrian.

Dalam proses pertemuan, korban memberikan uang Rp 400.000 untuk FR setelah membatalkan janji bersamanya, sementara JS meminta biaya Rp 850.000 untuk layanan yang diberikan. Uang tersebut ditransfer korban ke rekening yang diberikan FR, menunjukkan kesepakatan yang terbentuk sebelum kejadian.

Peristiwa Tak Terduga di Balkon

Korban tidak puas dengan layanan yang diberikan dan meminta adegan tambahan. Namun, tidak ada kesepakatan antara korban dan JS. Setelah adegan kedua selesai, JS meminta uang tambahan Rp 4.500.000 untuk agenda ekstra. Korban terus ditekan hingga menanyakan saldo rekeningnya, yang menjadi titik kritis.

“Setelah selesai adegan yang kedua, tersangka JS yang di dalam kamar memanggil temannya yang menunggu di lorong hotel tersebut. Selanjutnya kedua tersangka berada di dalam kamar bersama korban,” imbuh Adrian.

Saat melompat dari balkon, korban mengatakan tidak memiliki uang lagi, menunjukkan kondisi tekanan emosional yang tinggi. Pernyataan ini menjadi faktor yang mempercepat keputusannya untuk melompat, dengan tindakan tersebut dianggap sebagai perlawanan terhadap pemerasan.

“Korban berkata ‘Kalau terus kalian minta, nanti aku loncat’, kata si korbannya gitu. Karena korban ini sudah terdesak oleh dua orang tersangka ini yang melakukan pemerasan. Kemudian dari kedua tersangka ini ‘Ya sudah, loncat saja, kalau berani kamu loncat saja’. Jadi mereka itu ‘Ya sudah kalau kau enggak mau bayar, loncat saja’,” jelas Adrian.

Korban akhirnya melompat dari lantai 12 dan tewas, menggambarkan situasi darurat yang terjadi. Proses penyelidikan terus berjalan untuk memastikan detail kejadian yang terjadi, termasuk peran Visit Agenda dalam memicu situasi ini. Polisi juga mengevaluasi faktor-faktor lain yang mungkin memperparah kondisi korban.

Kejadian ini menarik perhatian masyarakat dan media, karena menyajikan cerita yang menggambarkan konflik antara pihak yang memeras dan korban yang terjebak dalam situasi tekanan. Dengan keterlibatan Visit Agenda, berita ini tidak hanya mengenai kecelakaan, tetapi juga menjadi kasus kriminal yang menimbulkan diskusi lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *