Rehabilitasi Tambak Aceh Dipercepat KKP Pasca Bencana
Kabarnusantaraku.com – Indikator pemulihan mulai terlihat pada sektor tambak di Aceh yang sebelumnya terganggu oleh bencana hidrologi. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sedang melakukan akselerasi pemulihan kawasan budidaya perairan untuk mendukung aktivitas petambak serta menggerakkan kembali perekonomian wilayah pesisir.
Target Operasional dan Tahapan Rehabilitasi
Sekretaris Jenderal KKP, Andy Artha, menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan 15.000 hektare lahan tambak di Aceh kembali berfungsi penuh menjelang akhir tahun 2026. Pada fase pertama, sekitar 5.200 hektare dijadwalkan beroperasi paling lambat September 2026.
Menurut Andy, proses pemulihan tidak hanya mencakup perbaikan fisik tambak. Setelah tahap rehabilitasi rampung, pemerintah segera mendistribusikan benih dan pakan kepada para petambak agar mereka dapat memulai kembali kegiatan budidaya secara langsung.
“Tujuan kami bukan sekadar memperbaiki tambak, tetapi memastikan masyarakat kembali berproduksi. Karena itu setelah rehabilitasi selesai, kami juga menyiapkan bantuan benih dan pakan sehingga petambak dapat langsung memulai budidaya,” ujar Andy saat meninjau tambak di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, Jumat (24/7).
Realisasi dan Dukungan Infrastruktur
Sampai saat ini, tercatat 694 hektare tambak telah kembali beroperasi melalui penebaran benih udang, bandeng, kakap, dan nila salin. Pemerintah optimistis angka tersebut akan terus meningkat seiring percepatan rehabilitasi di berbagai daerah terdampak.
Untuk mendukung percepatan pemulihan, KKP menyalurkan 12 unit excavator ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Delapan unit di antaranya difokuskan untuk mempercepat rehabilitasi tambak di sejumlah kabupaten di Aceh.
Selain memperbaiki infrastruktur tambak, pemerintah juga memperkuat sektor perikanan tangkap dengan memberikan bantuan mesin kapal serta 100 unit coolbox berkapasitas 300 liter kepada nelayan di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara.
Proyeksi Ekonomi dan Refocusing Anggaran
Andy menjelaskan bahwa berdasarkan teknologi tradisional yang diterapkan masyarakat, setiap hektare tambak yang dioperasionalkan kembali diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 600 kilogram udang per hektare dalam satu siklus budidaya. Dengan harga jual rata-rata Rp50 ribu per kilogram, potensi omzet mencapai sekitar Rp30 juta per hektare dalam 3 bulan.
“Keberhasilan program ini tidak hanya dilihat dari selesainya rehabilitasi, tetapi dari kemampuan petambak kembali bekerja dan memperoleh pendapatan,” katanya.
Percepatan rehabilitasi dilakukan melalui refocusing anggaran internal KKP agar masyarakat tidak perlu menunggu proses administrasi anggaran rehabilitasi yang masih berjalan. Pemerintah juga memastikan seluruh bantuan diberikan tanpa dipungut biaya.
Anggota Komisi IV DPR RI, TA Khalid, mengapresiasi langkah cepat KKP yang dinilai mampu mempercepat kebangkitan sektor budidaya di Aceh. Menurutnya, apabila hanya mengandalkan anggaran rehabilitasi yang masih dalam proses administrasi, pemulihan tambak berpotensi mengalami keterlambatan.
“KKP mengambil langkah yang sangat cepat dengan melakukan refocusing anggaran internal, ini menunjukkan keberpihakan pemerintah kepada masyarakat Aceh yang terdampak bencana,” kata TA Khalid.
Respons Petambak dan Harapan ke Depan
Di sisi lain, para petambak mulai merasakan manfaat program tersebut. Fazil, petambak asal Pidie Jaya, mengaku bantuan benih dan pakan menjadi modal penting untuk kembali menjalankan usaha setelah tambaknya terdampak bencana.
“Bantuan benih dan pakan ini sangat membantu kami untuk kembali beroperasi. Saya yakin tiga bulan ke depan sudah bisa panen,” ujarnya.
Melalui rehabilitasi yang dilakukan secara bertahap, KKP berharap produktivitas tambak di Aceh dapat kembali meningkat, sekaligus menghidupkan lagi roda ekonomi masyarakat pesisir yang sempat terpuruk akibat bencana.
