Skip to content
Yellow Desk
Agustus 28, 2026
Kumparannews

Ortu di Sidang Daycare Little Aresha: Anak Diikat-Dikurung, Kena Scabies

Mary Davis - kabarnusantaraku.com 4 mins read

Pengadilan Negeri Yogyakarta menggelar sidang pada Rabu (26/8) dengan menghadirkan sepuluh orang tua—semuanya ibu dari anak-anak yang menjadi korban kekerasan

Ortu di Sidang Daycare Little Aresha: Anak Diikat-Dikurung, Kena Scabies

Sepuluh Ibu Saksi Ceritakan Pengalaman Kelam di Daycare Little Aresha Yogyakarta

Kabarnusantaraku.com – Pengadilan Negeri Yogyakarta menggelar sidang pada Rabu (26/8) dengan menghadirkan sepuluh orang tua—semuanya ibu dari anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan penelantaran di Daycare Little Aresha. Majelis hakim yang diketuai Sunaryanto mendengarkan keterangan mereka satu per satu mengenai kronologi pendaftaran hingga penggerebekan.

Kesaksian Imedia Dwi Anjani: Anak ASD yang Diikat dan Dikurung

Saksi pertama yang bersaksi adalah Imedia Dwi Anjani. Ia mendaftarkan putrinya ketika anak itu berusia tiga tahun enam bulan; kini si anak telah menginjak empat tahun enam bulan. Imedia mengungkapkan bahwa putrinya merupakan penyandang Autism Spectrum Disorder (ASD) ringan. Sebelumnya keluarga tinggal di Bekasi, dan di kota itu pula sang anak pernah mengikuti daycare. Setelah pindah kembali ke Yogyakarta, Imedia memutuskan untuk kembali memasukkan anaknya ke daycare demi menjaga stimulasi dan interaksi sosial dengan anak-anak seusianya.

“Kembali ke Yogya saya ingin memasukkan ke daycare dengan tujuan yang sama agar tetap terstimulasi dan bisa bersosialisasi dengan anak-anak seumuran.”

Ia menemukan nama Daycare Little Aresha melalui pencarian di Google, yang kala itu menampilkan rating tinggi. Langkah berikutnya adalah survei langsung ke lokasi. Namun, kunjungan survei hanya dapat dilakukan pada hari Minggu, bukan di hari lain.

Sebagai ibu dari anak berkebutuhan khusus, Imedia selalu menjelaskan kondisi putrinya terlebih dahulu sebelum mendaftar. Ketika ia bertanya apakah daycare menerima anak ASD, pemilik daycare yang menjadi terdakwa, Bu Diyah, menjawab bahwa hal itu tidak masalah karena di sana sudah ada anak berkebutuhan khusus.

“Dari Bu Diyah (terdakwa, pemilik daycare) jawabnya bisa, di sini ada yang berkebutuhan khusus juga.”

Imedia juga menerima penjelasan mengenai berbagai fasilitas yang ditawarkan, termasuk janji bantuan terapi bicara. Namun hingga daycare tersebut digerebek aparat, janji terapi itu tidak pernah direalisasikan.

“Saya positif thinking karena jujur Diyah orangnya sangat halus tutur katanya, kayak ya ngemong banget. Jadi positif waktu itu.”

Biaya, Izin, dan Larangan Masuk Area

Untuk mendaftarkan putrinya, Imedia membayar sejumlah biaya: pendaftaran Rp 250 ribu, biaya lain-lain Rp 500 ribu, seragam Rp 200 ribu, serta SPP bulanan Rp 1,1 juta. Ia juga pernah menanyakan soal izin operasional. Diyah menjawab bahwa izin sudah ada. Setelah penggerebekan, ternyata sekolah yang berizin wajib memajang izinnya secara terbuka—sesuatu yang tidak diketahui Imedia sebelumnya.

“Saya bertanya (soal izin) apakah di sini ada izinnya, ibu (Diyah) jawabnya udah. Tapi setelah penggerebekan ternyata sekolah yang ada izinnya harus terpampang izinnya. Saya nggak tahu tentang itu. (Kalau tahu tak berizin) nggak lanjut.”

Selama mengantar putrinya setiap hari, Imedia tidak diperkenankan masuk ke dalam area daycare. Ia hanya boleh berhenti di pagar.

“Tidak boleh (masuk ke dalam) alasannya area steril anak. Orang tua tidak boleh masuk ke dalam.”

Informasi dari Teman-teman Anak: Diikat, Dikurung, Jatuh dari Tangga

Setelah penggerebekan, Imedia berupaya menggali informasi tentang perlakuan yang dialami putrinya melalui teman-teman si anak yang sudah mampu berkomunikasi, mengingat putrinya masih kesulitan dalam percakapan dua arah. Dari teman-teman itu, ia mendapat kabar bahwa putrinya sering diikat meskipun masih sangat kecil dan hanya ingin bermain, serta kerap dikurung sendirian di sebuah kamar.

“Menurut teman-temannya, Bilang B (anak Imedia) sering diikat padahal B masih kecil dia cuma pengin main. B sering dikurung di kamar sendirian.”

Ada pula informasi bahwa putrinya pernah dikurung bersama satu anak lain di ruangan tertentu, serta pernah terjatuh dari tangga hingga menangis tergeletak di lantai.

“Temannya (Inisial) L juga bilang pernah dikurung bareng B. B diikat.”

Momen Penggerebekan: Anak Ditemukan Terikat di Engsel Pintu

Usai penggerebekan, petugas kepolisian datang ke rumah Imedia. Mereka-lah yang menyelamatkan putrinya yang saat itu sedang terikat. Imedia kemudian diperlihatkan rekaman video penggerebekan. Dalam video tersebut, putrinya tampak diikat pada engsel pintu, lalu diikat lagi ke kakinya. Anak itu hanya mengenakan popok tanpa pakaian, berdiri dengan latar belakang banyak anak lain yang juga tidak berpakaian.

“Saya diperlihatkan video penggerebekan itu saya melihat anak saya sedang diikat di engsel pintu. Diikatkan lagi ke kakinya. Cuma pakai diapers (popok) tidak pakai baju. Berdiri dan background banyak anak-anak lain yang tidak pakai baju.”

Kesaksian Zly Wahyuni: Bayi Tujuh Bulan yang Terjangkit Scabies

Saksi berikutnya adalah Zly Wahyuni. Putrinya masuk ke Little Aresha ketika baru berusia tujuh bulan kurang satu hari, dan saat penggerebekan usianya telah mencapai 17 bulan. Selama berada di daycare, sang anak mengalami gatal-gatal di area pantat. Pihak daycare awalnya menyebutnya mungkin ruam popok, namun setelah diverifikasi di RS Sardjito, diagnosis akhirnya menunjukkan bahwa anak itu terserang scabies.

“Gatal-gatal di pantat anak saya. Dijawab (pihak daycare) mungkin ruam popok berjalannya kasus verifikasi di Sardjito anak saya terkena scabies.”

Kesaksian Ika Lailatul: Dua Kali Dirawat karena Bronkopneumonia

Ika Lailatul, orang tua dari anak berinisial N, menjelaskan bahwa putrinya terdaftar di Daycare Little Aresha pada 14 April 2025. Saat masuk, usia sang anak baru delapan bulan; ketika penggerebekan terjadi, usianya sudah 21 bulan. Selama berada di Little Aresha, putrinya dua kali harus dirawat di rumah sakit dengan diagnosis bronkopneumonia. Selain itu, anak tersebut juga mengalami gangguan sensorik serta gangguan tidur.

“Dua kali rawat saat di LA (Little Aresha) dengan diagnosa bronkopneumonia.”

Frequently Asked Questions

What is Ortu di Sidang Daycare Little Aresha?

Ortu di Sidang Daycare Little Aresha is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ortu di Sidang Daycare Little Aresha matter?

Ortu di Sidang Daycare Little Aresha matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *