Skip to content
Yellow Desk
Agustus 29, 2026
Kumparannews

Saat Ijazah S1 Tak Lagi Jaminan: Cerita Sarjana Jualan Sempol hingga Jaga Toko

Linda Brown - kabarnusantaraku.com 4 mins read

Saat Ijazah S1 Tak Lagi menjadi jaminan masa depan yang pasti bagi banyak lulusan perguruan tinggi. Fenomena overeducated atau kondisi ketika seseorang

Saat Ijazah S1 Tak Lagi Jaminan: Cerita Sarjana Jualan Sempol hingga Jaga Toko

Saat Ijazah S1 Tak Lagi Jaminan: Kisah Lulusan Sarjana Bekerja di Luar Bidang

Kabarnusantaraku.com – Saat Ijazah S1 Tak Lagi menjadi jaminan masa depan yang pasti bagi banyak lulusan perguruan tinggi. Fenomena overeducated atau kondisi ketika seseorang berpendidikan tinggi bekerja di posisi yang berada di bawah kualifikasi akademiknya kini semakin nyata. Gelar sarjana dari perguruan tinggi negeri pun tak lantas membentengi mereka dari terbatasnya lapangan kerja yang tersedia.

Demi menyambung hidup, tak sedikit sarjana yang harus mengesampingkan ijazah dan melakoni berbagai pekerjaan, mulai dari pekerja kasar hingga pekerja lepas harian. Bagi Dwi (34), seorang sarjana filsafat dari salah satu PTN di Jawa, ketidakpastian karier bermula setelah ia mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai jurnalis di sebuah media online di Jakarta pada akhir 2019. Keputusan itu diambil setelah kondisi keuangan perusahaan memburuk.

Perjuangan Dwi Setelah Pandemi Melanda

Tak lama berselang, pandemi COVID-19 melanda. Dwi pun terpaksa pulang ke kampung halamannya di Bandung. Berbagai upayanya untuk mendapatkan pekerjaan formal yang sesuai dengan latar belakang pendidikan S1 tak kunjung membuahkan hasil. Demi bertahan hidup, ia akhirnya menurunkan standar pencarian kerja dan mengambil pekerjaan apa pun yang tersedia.

Ia sempat bekerja sebagai sales dengan kontrak jangka pendek di sejumlah startup yang bergerak di bidang logistik dan kemasan UMKM. Penghasilannya berkisar Rp1 juta hingga Rp 2 juta per bulan. Namun, pekerjaan tersebut tak pernah bertahan lama karena target yang berat dan durasi kontrak yang singkat.

“Saya melamar sedapatnya aja lah, pokoknya apa pun pekerjaannya saya kerjain,” ujar Dwi saat berbincang dengan kumparan, Jumat (14/8).

Kesulitan ekonomi bahkan mendorong Dwi berjualan air mineral kemasan di pinggir jalan dan taman-taman kota dengan modal seadanya. Ia juga sempat berjualan sempol ayam buatan sendiri di depan rumah. Namun, usaha tersebut hanya bertahan sekitar tiga bulan karena sepinya pembeli.

Menjelang momentum politik pada Pilkada 2022 lalu, Dwi kembali mengambil pekerjaan yang jauh dari latar belakang pendidikannya. Ia menjadi tenaga lapangan untuk calon anggota legislatif, termasuk memasang baliho. “Saya pernah jadi pekerja kasar di orang yang mau nyaleg, pasang-pasang baliho. Seminggu saya dikasih Rp 250 ribu, berarti sebulan sejutaan lah,” ungkapnya.

Lia: Sarjana Komunikasi yang Jaga Toko Hijab

Dwi juga sempat mencoba mengadu nasib sebagai pengemudi ojek online. Namun, pekerjaan itu terpaksa ia tinggalkan karena riwayat gangguan tulang belakang membuatnya tak sanggup berkendara dalam waktu lama. Tak berhenti di situ, Dwi bahkan mencoba melamar pekerjaan yang hanya mensyaratkan ijazah Sekolah Menengah Atas (SMA).

Namun, upaya tersebut juga tak membuahkan hasil. Ia menduga persaingan tenaga kerja yang ketat dan batasan usia menjadi penghalang. “Saya pernah melamar OB (Office Boy), melamar barista gitu juga pakai ijazah SMA, tapi enggak ada yang nyangkut. Bursa kerja kan ada kualifikasi usia ya, rata-rata mentok di 30 tahun, sementara saya sekarang sudah mau jalan 34,” tutur Dwi.

Kisah serupa dialami Lia (26)—bukan nama sebenarnya, seorang sarjana komunikasi dan penyiaran islam. Setelah menempuh kuliah selama empat tahun dan mengantongi ijazah S1 pada 2022 lalu, Lia justru bekerja di bidang yang tidak membutuhkan kualifikasi pendidikan tinggi. Lia kini bekerja di sebuah toko hijab dan butik di Banda Aceh.

Di sana, ia menjalankan berbagai peran sekaligus, mulai dari content creator, mengelola administrasi media sosial dan toko online, hingga menjadi SPG (Sales Promotion Girl) yang melayani pembeli secara langsung. “Pekerjaan ini sebenarnya enggak membutuhkan ijazah S1, karena lulusan SMA pun bisa. Teman-teman di toko ada yang S1, ada juga yang SMA, semuanya sejajar,” kata Lia.

Penghasilan Lia pun dihitung berdasarkan shift harian dan berada di bawah standar upah minimum. “Gajinya per shift. Kalau masuk dihitung gaji, kalau enggak masuk ya enggak ada. Mentok-mentok sebulan dapat Rp 1,5 juta. Kalau dibilang cukup ya pas-pasan banget, enggak bisa untuk tabungan. Tapi daripada nganggur, yang penting ada kesempatan ya diambil aja,” tuturnya.

FAQ: Saat Ijazah S1 Tak Lagi Jaminan

Apa itu fenomena overeducated? Fenomena overeducated adalah kondisi ketika seseorang yang berpendidikan tinggi bekerja di posisi yang berada di bawah kualifikasi akademiknya.

Mengapa lulusan S1 kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai bidang? Beberapa faktor meliputi persaingan tenaga kerja yang ketat, batasan usia kerja (rata-rata mentok di 30 tahun), dan terbatasnya lapangan kerja formal.

Bagaimana cara sarjana bertahan saat sulit mendapatkan pekerjaan? Banyak sarjana yang menurunkan standar pencarian kerja, mengambil pekerjaan apa pun yang tersedia, atau mengembangkan keterampilan tambahan seperti digital marketing.

Apakah ijazah S1 masih penting untuk karir? Ijazah S1 tetap penting, namun tidak lagi menjadi jaminan mutlak. Keterampilan praktis dan pengalaman kerja juga menjadi pertimbangan utama perusahaan.

Kini, Dwi telah kembali menetap di Jakarta dan mengandalkan pendapatan sang istri yang bekerja di bidang keuangan sebuah perusahaan swasta. Ia juga menyambi pekerjaan lepas atau freelance di bidang pembuatan konten. Di tengah ketidakpastian pekerjaan, Dwi terus mengasah kemampuan digital marketing secara mandiri melalui sejumlah bootcamp. Ia berharap keterampilan tersebut dapat menjadi modal untuk membangun agensi sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *