Filipina Kurangi Target Ekonomi, Peso Diproyeksi Turun Hingga Akhir Era Bongbong
Filipina Pangkas Target Ekonomi – Dalam upaya menghadapi tantangan ekonomi global, Filipina secara resmi mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi mereka. Pemerintahan Presiden Ferdinand ‘Bongbong’ Marcos Jr. menurunkan target pertumbuhan dari 5-6 persen pada tahun lalu menjadi 3,5-4,5 persen untuk tahun 2026. Revisi ini dipicu oleh berbagai tekanan eksternal seperti konflik antara Iran dan Amerika Serikat, serta dampak cuaca ekstrem El NiƱo, yang menyebabkan ketidakpastian pasar. Selain itu, kinerja ekonomi Filipina dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan perlambatan, dengan pertumbuhan hanya mencapai 2,8 persen pada kuartal pertama 2026.
Penurunan Target Ekonomi dan Risiko Global
Perubahan proyeksi ini dinyatakan dalam memorandum dari Komite Koordinasi Anggaran Pengembangan (DBCC), yang menjadi dasar kebijakan fiskal pemerintah. Kim Robert de Leon, Sekretaris Anggaran Sementara Filipina, mengungkapkan bahwa pemerintah terus memantau risiko penurunan ekonomi, termasuk kemungkinan eskalasi konflik Timur Tengah yang berdampak pada harga energi dan inflasi. Peso juga diperkirakan terus melemah, dengan kurs mencapai 60-62 peso per dolar AS hingga 2030.
“Ketidakpastian global dan tekanan inflasi domestik adalah faktor utama yang memengaruhi proyeksi ini,” jelas de Leon dalam pernyataannya. “Meski demikian, pemerintah tetap optimis bahwa intervensi yang diambil akan membantu stabilisasi perekonomian jangka menengah.”
Pengurangan target pertumbuhan ini terjadi meski pemerintah telah menyiapkan anggaran nasional sebesar 7,2 triliun peso untuk 2027. Namun, tekanan dari kenaikan harga minyak, kepercayaan masyarakat yang menurun, serta konflik geopolitik terus menghantui prospek ekonomi. Dalam konteks ini, Filipina Pangkas Target Ekonomi menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menyesuaikan strategi dengan realitas yang berubah.
Faktor Inflasi dan Kinerja Ekspor-Impor
Pemerintah Filipina juga merevisi asumsi inflasi, yang sebelumnya diperkirakan hanya 2-4 persen, menjadi 6-7 persen pada 2026 dan 4-5 persen pada 2027. Perubahan ini mencerminkan kenaikan biaya kehidupan akibat ketergantungan pada impor energi. Khususnya, krisis energi di Timur Tengah berdampak langsung pada harga bahan bakar dan listrik di Filipina, yang menjadi beban bagi masyarakat menengah dan rendah.
“Perlambatan ekspor dan kenaikan impor juga menjadi isu yang perlu diperhatikan,” tambah de Leon. “Proyeksi ekspor barang naik 3 persen pada 2026, tetapi impor diperkirakan tumbuh 5 persen, menyebabkan tekanan pada neraca perdagangan.”
Dalam upaya mengatasi keadaan ini, pemerintah menyesuaikan pola pengeluaran, memprioritaskan sektor-sektor yang menunjukkan potensi pertumbuhan, dan mendorong investasi lokal. Namun, Filipina Pangkas Target Ekonomi tetap menjadi tantangan utama, terutama dalam menjaga pertumbuhan yang sehat tanpa menurunkan kualitas kehidupan rakyat.
Pada periode 2027-2030, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5-6 persen, dengan ekspor barang meningkat 4 persen dan impor menurun menjadi 4 persen. Proyeksi ini menunjukkan harapan untuk memperbaiki kinerja ekonomi, meski tantangan seperti kemacetan logistik, kenaikan biaya bahan baku, dan kebijakan moneter tetap menjadi faktor penghambat. Filipina Pangkas Target Ekonomi menjadi salah satu langkah kunci dalam upaya mencapai proyeksi ini.
