Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparanbisnis

Meeting Results: 90% Produk RI Bebas Bea Masuk ke Belarusia Kalau Perjanjian Dagang Sudah Diteken

Mary Davis - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Hasil Pertemuan: 90% Produk RI Bebas Bea Masuk ke Belarusia Setelah FTA Ditandatangani Meeting Results - Hasil pertemuan antara Indonesia dan Belarusia dalam

Meeting Results: 90% Produk RI Bebas Bea Masuk ke Belarusia Kalau Perjanjian Dagang Sudah Diteken

Hasil Pertemuan: 90% Produk RI Bebas Bea Masuk ke Belarusia Setelah FTA Ditandatangani

Meeting Results – Hasil pertemuan antara Indonesia dan Belarusia dalam forum ekonomi menunjukkan kemajuan signifikan dalam proses ratifikasi Perjanjian Dagang Bebas Bea Masuk (FTA) dengan Rusia dan negara-negara EAEU. Menurut Kementerian Perekonomian, sebanyak 90% produk Indonesia akan mengalami penghapusan bea masuk saat masuk ke Belarusia setelah kesepakatan ini resmi ditandatangani. Langkah ini menjadi sorotan karena dapat mendorong pertumbuhan ekspor dan meningkatkan akses pasar untuk sektor-sektor strategis. Selain itu, penandatanganan 17 nota kesepahaman di forum tersebut mencerminkan komitmen kedua negara untuk memperkuat kerja sama ekonomi.

Transaksi Ekspor dan Potensi Investasi

Nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Belarusia mencapai USD 220 juta pada tahun lalu, dengan sektor pertanian, energi, dan mineral menjadi komoditas utama. Hasil pertemuan menegaskan bahwa FTA akan mempercepat aliran barang antar kedua negara, terutama produk-produk yang saat ini masih dikenai tarif. Airlangga Hartarto, Menteri Perekonomian, menyatakan bahwa pemerintah Indonesia berharap kerja sama ini bisa meningkatkan volume ekspor, termasuk komoditas seperti bahan baku pupuk dan peralatan pertambangan. Dalam konteks investasi, target nilai transaksi mencapai USD 500 juta dalam waktu dekat diharapkan bisa tercapai melalui peningkatan keterlibatan sektor swasta.

“Kehadiran Belarusia dalam forum ini memberikan sinyal kuat untuk mempercepat ratifikasi FTA. Dengan bea masuk nol, hampir 90% produk Indonesia dapat masuk ke EAEU, termasuk Belarusia, tanpa hambatan tarif. Ini juga menciptakan peluang yang lebih besar untuk ekspor kita,” ujar Airlangga Hartarto usai pertemuan di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Selasa (30/6).

Kemitraan Strategis di Sektor Industri dan Pertanian

Hasil pertemuan menyoroti kerja sama dalam bidang industri dan pertanian sebagai pilar utama pembangunan ekonomi. Belarusia, yang merupakan salah satu produsen alat berat terbesar di EAEU, dianggap sebagai mitra potensial untuk pengembangan teknologi elektrifikasi di sektor pertambangan. Selain itu, Indonesia menawarkan kolaborasi dalam hilirisasi nikel nasional, termasuk pemanfaatan baterai buatan dalam negeri. Airlangga juga menyoroti proyek tambang potas di Belarusia, yang menjadi fokus karena Indonesia membutuhkan bahan baku ini untuk produksi pupuk NPK.

Dalam sesi diskusi, pihak Indonesia mengusulkan peningkatan kepemilikan saham di proyek tambang potas. “Ini penting untuk mengurangi risiko impor yang bisa terganggu jika terjadi perubahan kebijakan,” jelas Airlangga. Langkah ini juga diharapkan meningkatkan stabilitas pasokan bahan baku utama industri pertanian. Selain itu, Indonesia dan Belarusia sepakat untuk mengembangkan bus listrik dan memperbolehkan Belarusia berinvestasi di bidang transportasi berkelanjutan.

Langkah Penguatan Hubungan Ekonomi

Komitmen Belarusia untuk menyelesaikan FTA dengan Indonesia ditegaskan melalui kunjungan Wakil Perdana Menteri Viktor Karankevich ke Jakarta. Hasil pertemuan menunjukkan bahwa negara-negara EAEU, termasuk Belarusia, berupaya mempercepat ratifikasi perjanjian ini guna menghindari hambatan perdagangan yang bisa merugikan kedua belah pihak. Airlangga menekankan bahwa kerja sama ini akan memberikan manfaat jangka panjang, termasuk akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk unggulan Indonesia.

Pertemuan tersebut juga membahas kerja sama teknologi energi, khususnya penyimpanan energi listrik. Belarusia dianggap sebagai mitra yang strategis karena pengalaman industri alat beratnya yang konsisten. Dengan menggabungkan teknologi Indonesia, negara-negara EAEU diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Selain itu, pemerintah Indonesia menyambut baik kebijakan Belarusia yang mendukung hilirisasi nikel nasional melalui integrasi dengan industri baterai.

Potensi Pertumbuhan Ekonomi dan Kebutuhan Pemangku Kepentingan

Kementerian Perekonomian berharap kebijakan bebas bea masuk ini bisa memperkuat pertumbuhan ekonomi bilateral. Dengan memangkas tarif, perusahaan Indonesia diharapkan lebih kompetitif di pasar Belarusia, yang merupakan negara dengan potensi ekspor yang stabil. Namun, Airlangga mengingatkan bahwa keberhasilan FTA bergantung pada koordinasi yang terus menerus antara kedua pihak, termasuk pengawasan terhadap penggunaan kuota impor dan eksportasi.

Hasil pertemuan juga memicu diskusi tentang pembentukan mekanisme perekonomian yang lebih terpadu. Pemerintah Indonesia menyatakan siap mengadakan pertemuan rutin dengan Belarusia untuk memastikan pelaksanaan perjanjian ini berjalan efektif. Dengan dukungan dari sektor swasta dan lembaga internasional, kebijakan ini diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kedua negara sepakat untuk mengoptimalkan potensi kerja sama melalui inisiatif-inisiatif konkret yang diujicobakan dalam forum ini.

“Kita harus menjaga komitmen untuk melaksanakan FTA secara optimal. Dengan bea masuk nol, kita bisa memperkuat daya saing produk Indonesia di EAEU, termasuk Belarusia, dan sekaligus meningkatkan stabilitas ekonomi bilateral,” tutur Airlangga pada sesi penutup pertemuan. Hasil ini menjadi langkah penting dalam upaya memperluas ekspor ke pasar Eropa Timur, yang dianggap sebagai tujuan utama dalam strategi perekonomian nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *