Airlangga: Lonjakan Impor Migas Picu Defisit Neraca Dagang RI
Topics Covered: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa defisit neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 utamanya disebabkan oleh peningkatan impor minyak dan gas bumi. Peningkatan ini dikaitkan dengan kenaikan harga minyak global yang berdampak langsung pada biaya impor. Menurut data terbaru, neraca perdagangan barang Indonesia mencatatkan defisit USD 1,61 miliar di Mei 2026, yang merupakan defisit pertama setelah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut.
Mengapa Impor Migas Menjadi Fokus
“Lonjakan impor migas adalah faktor utama yang menyebabkan defisit neraca dagang saat ini. Meskipun ekspor komoditas utama seperti CPO, batu bara, dan ferroaloy tetap stabil, kenaikan harga minyak dunia memaksa pemerintah untuk menyesuaikan anggaran,” jelas Airlangga saat diwawancarai di Jakarta Pusat, Rabu (1/7).
Menteri Airlangga menyoroti bahwa impor minyak dan gas menyumbang sekitar USD 2 miliar dalam defisit neraca dagang, yang menunjukkan dampak signifikan dari kenaikan harga komoditas global. Ia menyatakan, harga minyak yang melonjak menciptakan tekanan pada kebijakan fiskal, terutama karena Indonesia kini mengandalkan impor migas untuk memenuhi kebutuhan domestik. “Kita masih optimis bahwa mekanisme ceasefire perdamaian akan membantu stabilitas harga, tetapi kebutuhan bahan bakar memaksa kita untuk mengalokasikan dana tambahan,” tambahnya.
Langkah Pemerintah untuk Stabilkan Ekonomi
Untuk mengurangi tekanan inflasi dan menopang daya beli masyarakat, pemerintah telah mengambil langkah strategis dalam beberapa sektor. Salah satunya adalah kebijakan pembebasan bea masuk sementara bagi produk petrokimia, yang akan berlaku selama 6 bulan dan menunggu penerbitan PMK. Kebijakan ini dirancang untuk memastikan pasokan bahan baku industri tetap lancar, terutama bagi sektor yang terdampak lonjakan harga energi.
Di sisi lain, stimulus ekonomi yang diberikan pemerintah mencakup penyaluran bantuan beras 10 kilogram selama tiga bulan kepada kelompok desil keempat, serta insentif pajak penghasilan (PPh) bagi pekerja dengan penghasilan hingga Rp 10 juta per bulan. “Kebijakan ini tidak hanya meringankan beban rakyat, tetapi juga berdampak pada perekonomian nasional melalui peningkatan daya beli dan stabilitas pengangguran,” tambah Airlangga. Program bantuan kerja untuk 150 ribu lulusan baru dan pelatihan vokasi bagi 250 ribu orang juga menjadi bagian dari upaya memperkuat struktur ekonomi.
Kebijakan Industri Manufaktur dan Kinerja PMI
Di sisi industri, Airlangga menyebutkan bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia mengalami penurunan signifikan pada Juni 2026. Indeks ini turun ke level 46,9, dari 50,0 di Mei 2026, mengindikasikan bahwa sektor manufaktur memasuki fase kontraksi. “Isu supply chain global menjadi tantangan utama, dengan rantai pasok yang terganggu selama beberapa bulan terakhir,” ujarnya.
Menurut data S&P Global, penurunan PMI manufaktur terjadi setelah indeks rebound ke 50,0 di Mei 2026, setelah menyentuh 49,1 di April 2026. Airlangga menegaskan bahwa meskipun kinerja industri sedang menurun, optimismisme pelaku usaha terhadap prospek 12 bulan ke depan masih tinggi. “Kebijakan pemerintah di bidang energi dan tenaga kerja akan menjadi kunci dalam menjaga pertumbuhan ekonomi,” imbuhnya. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah sedang mengatur langkah-langkah terpadu untuk menangani tantangan ekonomi yang muncul.
Pengaruh Defisit Neraca Dagang terhadap Rupiah dan Ekonomi
Defisit neraca dagang yang mencapai USD 1,61 miliar di Mei 2026 menimbulkan dampak pada nilai tukar rupiah. Airlangga menegaskan bahwa kenaikan impor migas menyebabkan tekanan terhadap kebutuhan devisa, sehingga pemerintah perlu memastikan alur impor tetap terkendali. “Kebijakan fiskal harus berimbang antara kebutuhan pengadaan bahan bakar dan pertumbuhan ekspor non-migas,” jelasnya.
Dalam wawancara terpisah, Airlangga juga menyebutkan bahwa pertumbuhan ekspor non-migas tetap positif, sehingga bisa menjadi sumber daya beli yang stabil. “Pemulihan ekonomi akan tergantung pada efektivitas kebijakan stimulus dan kinerja industri manufaktur, yang menjadi tulang punggung ekspor,” tambahnya. Ia menyoroti bahwa pemerintah sedang memantau dinamika pasar global dan siap mengambil langkah responsif jika defisit neraca dagang berlanjut.
Topics Covered: Kebijakan pembebasan bea masuk dan stimulus ekonomi yang diterapkan pemerintah menunjukkan komitmen untuk menjaga stabilitas perekonomian meskipun menghadapi tekanan dari defisit neraca dagang. Airlangga menekankan bahwa transparansi data ekonomi dan koordinasi antar sektor akan menjadi faktor penentu dalam memperkuat daya tukar rupiah dan menstabilkan inflasi. “Kami akan terus memantau dampak lonjakan impor migas, tetapi yakin bahwa langkah-langkah yang diambil akan membawa efek positif dalam jangka panjang,” pungkasnya.
