Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparannews

Special Plan: Viral Pedagang di Deli Serdang Didatangi Pria Minta Uang Proposal, Ngaku dari RT

Daniel Lopez - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Special Plan: Pria Ngaku dari RT Minta Uang Proposal ke Pedagang Deli Serdang Special Plan - Sebuah video beredar di media sosial menggambarkan situasi

Special Plan: Viral Pedagang di Deli Serdang Didatangi Pria Minta Uang Proposal, Ngaku dari RT

Special Plan: Pria Ngaku dari RT Minta Uang Proposal ke Pedagang Deli Serdang

Special Plan – Sebuah video beredar di media sosial menggambarkan situasi menarik di Deli Serdang, Sumatera Utara, dimana seorang pedagang di pinggir jalan diberi uang oleh dua pria yang mengaku sebagai petugas RT. Kegiatan ini terkait dengan program Special Plan yang ditujukan untuk menggalakkan kegiatan gotong royong dan perbaikan infrastruktur lingkungan. Proposal yang dibawa oleh kedua pria tersebut menandatangani oleh Ketua RT setempat, Suherianto, dan mengusulkan bantuan dana partisipasi sebesar Rp 7.355.000 untuk perbaikan lampu gang-gang di area permukiman. Pemilik toko, Siti Khalijah Sipahutar, terkejut karena merasa permintaan dana itu seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah, bukan warga.

Menurut Siti, ia tidak pernah diminta uang sebelumnya selama 12 tahun berjualan. Namun, saat dua pria tiba di toko yang sedang kosong, mereka langsung meminta uang dengan nada ancaman. “Saya kaget karena tidak menyangka mereka akan mengambil uang langsung. Kebetulan ada pelanggan yang sedang membeli, jadi saya beri Rp 50.000,” jelas Siti dalam wawancara pada Selasa (7/7). Meski demikian, kejadian ini memicu perdebatan tentang Special Plan dan transparansi penggunaan dana yang dianggap sebagai kontribusi sukarela warga.

“Selama 12 tahun di sini jualan, enggak pernah sama sekali (dimintai uang), baru kali ini. Makanya saya itu kaget. Biasanya, kalaupun kutipan untuk 17 Agustus, wajar lah itu. Itu pun partisipasi seikhlas hati, mau berapa saja kita kasih, boleh, tidak ada paksaan,”

Penjelasan Kepala Dusun XI dan Tujuan Special Plan

Kepala Dusun XI Desa Bandar Klippa, Jono Santoso, mengonfirmasi bahwa program Special Plan ini adalah bagian dari upaya gotong royong swadaya warga untuk memperbaiki infrastruktur. Ia menegaskan bahwa pengumpulan dana dilakukan secara sukarela dan bersifat fleksibel. “Lampu gang-gang itu kan wajib diperbaiki. Kita memang selalu menggalakkan kegiatan gotong royong, termasuk perbaikan lampu yang rusak atau hilang. Dana partisipasi bisa diberikan warga secara sukarela, tapi harus dijelaskan secara jelas tujuannya,” ujarnya.

Dalam penjelasan lebih lanjut, Jono menyebutkan bahwa toko Siti terletak di wilayah RT 09. Pada hari kejadian, dua pria yang ditugaskan mengunjungi toko tersebut karena rumah belakang sedang kosong. “Mereka datang tanpa menjelaskan terlebih dahulu. Siti bingung karena mengira permintaan uang itu untuk lampu jalan, padahal sebenarnya untuk lampu gang,” tambah Jono. Ia menekankan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan kualitas lingkungan dan melibatkan warga secara aktif, meski ada kesalahpahaman dalam penjelasan awal.

Penyelesaian Masalah dan Respon Masyarakat

Setelah viral di media sosial, Siti melaporkan kejadian tersebut ke pihak aparatur desa. Pada hari Minggu (5/7) sekitar pukul 16.00 WIB, dua pria yang terlibat langsung datang meminta maaf dan mengklarifikasi bahwa mereka mewakili Special Plan sebagai program kolaboratif. “Mereka sudah datang dan meminta maaf. Tahu-tahu saya kaget karena tidak mengetahui permasalahan itu. Tapi mereka mengaku salah dan berjanji tidak mengulangi lagi,” imbuh Siti.

Pelaksanaan Special Plan di Deli Serdang menimbulkan tanggapan bervariasi dari masyarakat. Beberapa warga mengapresiasi inisiatif ini karena memperkuat rasa tanggung jawab bersama, sementara ada yang merasa kewalahan karena tidak mendapat penjelasan. Jono Santoso menegaskan bahwa pihak RT sudah berupaya memperbaiki komunikasi dengan warga. “Kita akan terus sosialisasikan Special Plan agar tidak ada kesalahpahaman lagi, termasuk menjelaskan bahwa dana partisipasi tidak wajib, tapi sukarela,” tutur Jono.

Peristiwa ini juga memicu refleksi tentang peran Special Plan dalam pengelolaan sumber daya lokal. Meski bertujuan meningkatkan partisipasi warga, kejadian di toko Siti menunjukkan bahwa adanya kesalahpahaman dalam penjelasan bisa memengaruhi kesan publik. Jono berharap program ini bisa diterapkan secara lebih transparan dan menghindari kesan pemaksaan. “Selama ini warga sudah aktif, tapi kita harus lebih jelas dalam menyampaikan informasi,” jelasnya.

Dengan adanya Special Plan, Deli Serdang berharap bisa mendorong kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun lingkungan yang lebih baik. Meski terjadi kesalahpahaman, Jono menilai ini sebagai pelajaran penting. “Kejadian ini menunjukkan bahwa kami perlu meningkatkan komunikasi. Tapi saya yakin, Special Plan tetap bisa berjalan lancar karena dukungan warga,” pungkas Jono.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *