Pramono Anung: Haul Akbar Ulama dan Habaib Betawi Dijadikan Acara Rutin Tahunan Berdasarkan New Policy
New Policy memicu perubahan strategis dalam penyelenggaraan tradisi budaya Betawi di Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam acara Haul Akbar Ulama dan Habaib Betawi di Plaza Selatan Monas, Jakarta Pusat, Jumat (19/6), mengungkapkan rencana menjadikan kegiatan ini sebagai acara rutin tahunan. “Tahun depan, kita rencanakan mengadakan acara serupa dengan harapan lebih baik, lebih aman, dan lebih meriah,” ujarnya. Keputusan ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah memperkuat identitas budaya Betawi sebagai bagian integral dari Jakarta, serta menghadirkan New Policy sebagai dasar pengembangan tradisi lokal secara lebih sistematis.
Penguatan Budaya Betawi Sebagai Identitas Kota
Pramono menekankan bahwa New Policy menjadi alat untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat Betawi dalam menjaga kehidupan budaya mereka. Ia menjelaskan bahwa Haul Akbar, sebagai tradisi yang sudah berlangsung sejak lama, akan diintegrasikan ke dalam agenda rutin sebagai bentuk pengakuan terhadap peran tokoh ulama dan habaib dalam membentuk kehidupan masyarakat Betawi. “Haul Akbar ini memiliki makna besar dalam melestarikan nilai-nilai keagamaan dan sosial yang diwariskan generasi sebelumnya,” lanjut Pramono. Hal ini juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta, yang memberikan ruang lebih luas bagi pengembangan budaya lokal sebagai bagian dari visi kota metropolis.
“Dengan New Policy, kita bisa mengembangkan tradisi ini dengan lebih terorganisir dan berkelanjutan. Betawi harus tetap menjadi bagian dari identitas Jakarta,” ujarnya.
Langkah Konkret untuk Melestarikan Budaya
Berdasarkan New Policy, Pemprov DKI telah mengambil sejumlah langkah konkret untuk memperkuat pengaruh Haul Akbar dalam kehidupan masyarakat. Selain menjadikannya acara tahunan, pemerintah juga berencana menghadirkan lebih banyak pengelolaan yang modern, seperti penggunaan teknologi digital dalam promosi acara, serta kolaborasi dengan desainer lokal untuk menciptakan inovasi dalam kostum dan hiasan tradisional. “Kita ingin Haul Akbar ini tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda,” kata Pramono.
“Dengan New Policy, perayaan Haul Akbar akan lebih berkesan dan mencerminkan kegembiraan warga Betawi. Ini adalah langkah awal menuju kehidupan budaya yang lebih dinamis,” ujarnya.
Manfaat untuk Masyarakat dan Ekonomi
Menurut Pramono, kebijakan menjadikan Haul Akbar sebagai acara rutin tidak hanya memperkaya kehidupan budaya, tetapi juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Ia menjelaskan bahwa kehadiran desainer ternama dalam menampilkan 500 ondel-ondel di acara perayaan 500 tahun Jakarta tahun depan menjadi salah satu contoh kolaborasi yang akan dilakukan. “Ini akan menciptakan peluang bagi para pengrajin dan kreator lokal untuk menjangkau audiens lebih luas,” katanya. Selain itu, kegiatan rutin ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi komunitas Betawi untuk memperkuat persatuan dan kebanggaan budaya.
Apresiasi dari Pihak Lain
Kebijakan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin. Menurutnya, Haul Akbar merupakan tradisi yang tidak hanya memperkuat nilai-nilai perjuangan, tetapi juga menjadi wujud peninggalan sejarah yang berharga. “Ini adalah New Policy yang tepat untuk menggabungkan tradisi dengan inovasi,” kata Cak Imin. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah daerah telah berkomitmen untuk melindungi dan mengembangkan budaya Betawi sebagai bagian dari keberagaman Indonesia.
“Dengan New Policy ini, kita bisa memastikan bahwa tradisi seperti Haul Akbar tetap relevan di tengah perubahan sosial dan teknologi,” ujarnya.
Langkah Terkoordinasi dengan Masyarakat Betawi
Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi, Fauzi Bowo atau Foke, mengapresiasi inisiatif Pramono dalam menjadikan Haul Akbar sebagai acara rutin. Ia menambahkan bahwa ide ini muncul dari hasil diskusi yang dilakukan dalam Kongres Masyarakat Betawi pada Februari lalu. “Kita berharap New Policy ini bisa menjadi pedoman dalam menjaga keberlanjutan tradisi Betawi di masa depan,” kata Foke. Ia juga mengungkapkan bahwa kegiatan Haul Akbar akan menjadi sarana untuk mengajarkan sejarah dan nilai-nilai keagamaan kepada generasi muda.
“Dengan New Policy, Haul Akbar tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga alat komunikasi budaya yang efektif. Ini adalah langkah maju yang sejalan dengan keinginan warga Betawi,” pungkas Foke.
