Solving Problems: Perjuangan Ayah Menjadi Ibu di Hari Pertama Sekolah Anak
Solving Problems adalah tantangan yang dihadapi Satiri Ahmad, seorang ayah yang mengambil alih peran ibu dalam mengurus kebutuhan anaknya, Deli Saputri, di hari pertama sekolah. Senin pagi (13/7) menjadi momen penting bagi Deli, yang akan memasuki kelas 1 SD di SDN Kalibaru III, Kota Bekasi. Sejak meninggalnya ibunya sekitar setahun lalu, Satiri menjadi tulang punggung keluarga yang harus menyelesaikan berbagai masalah, mulai dari persiapan seragam hingga sarapan, tanpa bantuan ibu yang dulu selalu ada.
Peran Ayah dalam Membangun Kebiasaan Anak
Deli menunjukkan kebiasaan baik sejak kecil. Ia terbiasa bangun pagi dan tidak perlu dibujuk lama. “Kalau saya bangun setengah lima, anak bangun setengah enam. Sudah mandi, terus berangkat,” kata Satiri. Proses persiapan ini bukan hanya tentang fisik, tapi juga mental. Satiri berusaha mengajarkan Deli untuk beradaptasi dengan lingkungan baru sambil menjaga semangatnya. Dengan pengorbanan penuh, ia berupaya memecahkan masalah sehari-hari agar putrinya bisa melangkah dengan percaya diri.
“Yang pertama, memang istri saya sudah nggak ada, udah meninggal. Jadi saya ngurusin anak kan dua, ini yang bontot,” jelas Satiri sambil menatap Deli.
Menjadi ayah yang menggantikan peran ibu adalah perjuangan pribadi. Dengan keterbatasan waktu dan tenaga, Satiri memutar otak untuk menyelesaikan berbagai masalah, termasuk mengurus kebutuhan Deli sebelum memulai hari pertama sekolah.
Menyesuaikan Diri dengan Perubahan Struktur Keluarga
Satiri juga harus menyesuaikan diri dengan sistem komunikasi baru, seperti grup WhatsApp dan barcode, yang sekarang menjadi alat utama dalam proses pendaftaran dan pembelajaran. Perubahan ini membutuhkan adaptasi, tetapi ia tidak menyerah. “Saya biasa aja, asal anak bisa masuk sekolah,” ujarnya. Dengan semangat, ia berjuang menghadapi tantangan menjadi ayah yang sekaligus menjadi ibu, menciptakan harmoni dalam keluarga sekaligus memecahkan masalah yang timbul.
Proses pendaftaran sekolah menjadi pengalaman yang berbeda bagi Satiri. Meski awalnya merasa kewalahan, ia berusaha mengatasi rasa cemas dengan menyiapkan segala sesuatu secara rapi. Deli, yang awalnya kewalahan, kini lebih tenang karena bisa bertemu teman-temannya, Abiba, di SDN Kalibaru III. “Masuk sini juga. Akhirnya bareng, jadi satu bangku,” tambah Satiri. Ini adalah solusi kecil yang ia berikan untuk menyelesaikan masalah keterasingan Deli di lingkungan baru.
Pengalaman Seorang Ayah yang Menjadi Ibu
Menjadi ayah yang juga ibu adalah peran yang sangat berat. Satiri mengakui bahwa hari pertama sekolah tidak hanya tentang memenuhi kebutuhan fisik, tapi juga emosional. Ia berusaha memberikan dukungan tanpa perlu merasa bersalah. “Anak saya sudah emang sudah terbiasa bangun pagi ya. Jadi, enggak susah lah kalau dibangunin gitu,” tambahnya. Kebiasaan ini adalah bagian dari strategi yang ia terapkan untuk mengatasi rasa takut Deli terhadap lingkungan sekolah.
Deli menunjukkan keberaniannya dengan berani memasuki gerbang SDN Kalibaru III. Meski seorang ayah yang menjadi ibu, Satiri tetap menjaga kehangatan dan kepercayaan diri Deli. “Saya bilang, ‘Dede sekarang sudah masuk SD, jangan takut, pokoknya biasa aja,’ saya kasih tahu gitulah, saya ajari semua,” tuturnya. Dengan begitu, ia membantu Deli menghadapi hari pertama sekolah sebagai bagian dari perjuangan menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadi saya ngurusin anak kan dua, ini yang bontot,” jelas Satiri.
Peran ayah yang menjadi ibu tidak hanya tentang tugas sehari-hari, tetapi juga tentang keputusan besar yang diambil. Dengan semangat dan konsistensi, Satiri terus berjuang agar Deli bisa melangkah dengan percaya diri. Ini adalah contoh nyata dari solving problems dalam kehidupan seorang ayah yang mengambil alih tanggung jawab ibu.
