Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparannews

Meeting Results: Teror Tetangga Hantui Warga Depok

Joseph Garcia - kabarnusantaraku.com 4 mins read

angga Hantui Warga Depok Meeting Results - Dalam sebuah meeting results yang diadakan oleh RT 05/RW 02, warga Kota Depok mengungkapkan adanya serangkaian aksi

Meeting Results: Teror Tetangga Hantui Warga Depok

Teror Tetangga Hantui Warga Depok

Meeting Results – Dalam sebuah meeting results yang diadakan oleh RT 05/RW 02, warga Kota Depok mengungkapkan adanya serangkaian aksi teror yang dilakukan oleh tetangga mereka. Azis Suraji, seorang warga dari Gang At-Taufik, Rangkapan Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, telah mengalami sejumlah kejadian yang menimbulkan ketakutan sejak tahun 2024. Mulai dari lemparan telur dan sampah, hingga kerusakan pada pagar rumahnya, semua aksi tersebut dicurigai terkait dengan konflik antar tetangga. Bukti visual dari kejadian tersebut tersimpan dalam rekaman kamera pengawas (CCTV), yang menangkap dua pria yang diduga tetangganya melakukan pelemparan benda ke arah rumah Azis. Dalam video lainnya, salah satu pelaku terlihat mendekati rumah dan melakukan perusakan, menambah ketegangan yang sudah ada.

Proses Pelaporan dan Pemeriksaan oleh Polisi

Azis mengatakan ia tidak tahu secara pasti apa penyebab tetangganya terus-menerus melakukan aksi tersebut. “Mungkin pemicunya saja, Pak. Kalau kronologinya sudah ada di media sosial. Tapi soal penyebabnya, kita masih belum tahu,” tuturnya kepada wartawan pada Kamis (16/7). Ia menjelaskan bahwa kejadian terakhir terjadi ketika ia baru pulang bekerja dan sedang berbincang dengan teman di tikungan dekat area pemakaman, tak jauh dari rumahnya. “Tiba-tiba orang itu lewat, lalu langsung menghina saya dengan kata-kata yang menyakitkan. Saya tidak merespons apa-apa,” katanya.

“Saya pulang, ternyata dia malah ngejar. Kejadian selanjutnya sudah ada di video semua,”

Menurut Azis, intimidasi ini tidak hanya mengenai dirinya, tetapi juga seluruh keluarga. “Semua satu keluarga, mulai dari saya, istri, anak-anak hingga cucu. Bahkan cucu saya kini takut keluar rumah,” ujarnya. Selain itu, sepeda motor milik Azis juga diduga rusak karena dilempar helm oleh pelaku. Ia sering menerima ancaman verbal dan ajakan berkelahi. “Ada ancaman macam-macam, termasuk soal santet,” tambah Azis.

Dalam meeting results yang diadakan oleh RT setempat, para warga menyampaikan keluhan mereka terkait konflik ini. Para tetangga menyatakan bahwa meeting results tersebut menjadi ajang untuk membahas solusi, meski hasilnya belum memuaskan. Dalam proses meeting results, para pihak sepakat mencari titik temu, tetapi aksi teror tetap berlanjut. Kasi Humas Polres Metro Depok, AKP Hendra, mengatakan bahwa laporan ini sedang diproses. “Sekarang sedang dilakukan pemeriksaan dan cek TKP. LP sudah dibuat di Polres Metro,” kata Hendra kepada wartawan pada Jumat (17/7).

Kasus Diduga Masuk Ranah Pidana

Ia menjelaskan, kasus ini diduga telah memasuki ranah pidana karena melibatkan perusakan. “Terjadi perselisihan dan diduga tindak pidana perusakan,”

Polisi juga masih menyelidiki penyebab teror tersebut. Dugaan awal menyebutkan mungkin karena kesalahpahaman terkait masalah bahasa. “Salah paham, masalah bahasa aja,” tutur Hendra. Dalam meeting results yang dilakukan oleh polisi, beberapa poin penting diungkapkan, termasuk bahwa pelaku melakukan aksi teror setelah perdebatan yang berlarut-larut. Selain itu, pihak kepolisian juga mengusulkan penyelesaian melalui mediasi untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

“Kami sudah mencoba mendamaikan mereka, bahkan sampai berpelukan. Tapi besoknya kejadian lagi,”

Ketua RW setempat, Supriyatla, menambahkan bahwa ia sudah dua kali memediasi antara Azis dan tetangganya. “Kami sudah mencoba mendamaikan mereka, bahkan sampai berpelukan. Tapi besoknya kejadian lagi,” katanya. Meski ada perjanjian tertulis, keadaan tetap tidak stabil. Dalam meeting results yang diadakan oleh RT, para warga menyampaikan bahwa konflik ini tidak hanya memengaruhi Azis, tetapi juga menciptakan ketakutan di lingkungan sekitar. Supriyatla menyebutkan bahwa aksi teror ini mengganggu keharmonisan warga dan memicu kecurigaan akan permasalahan lebih dalam.

Masalah Suara Musik Jadi Pemicu

Ketua RW setempat, Supriyatla, mengungkapkan bahwa awal mula konflik Azis bermula dari ucapan yang diduga menyakitkan. “Azis pernah menegur tetangganya karena musik yang terlalu keras,” ujarnya. Dalam mediasi awal, pelaku mengakui bahwa suara musik yang diputarnya tidak terlalu keras. Namun, kata-kata ‘stres’ yang sempat diucapkan Azis ternyata masih melekat di benak tetangganya.

“Rupanya sampai saat ini, kata ‘stres’ itu masih terus diingat. Jadi seperti menjadi alasan untuk menyimpan dendam,”

Supriyatla menyebutkan bahwa ia sudah dua kali memediasi antara Azis dan tetangganya. “Kami sudah mencoba mendamaikan mereka, bahkan sampai berpelukan. Tapi besoknya kejadian lagi,” katanya. Meski ada perjanjian tertulis, keadaan tetap tidak stabil. Akhirnya, Azis memutuskan menjual rumahnya untuk menghindari konflik lebih lanjut. Menurut anaknya, Ashyfa, keputusan itu diambil karena orang tua mengalami tekanan psikis.

“Pindah dari Kebagusan Megawati, area yang rame, dikelilingi saudara. Belah-belahin jauh ke sini biar hidup tenang, nggak diusik atau diganggu,”

Dalam meeting results yang dilakukan oleh RT, para warga menyatakan bahwa konflik ini menggambarkan bagaimana perselisihan kecil bisa berkembang menjadi tindakan teror. Dengan hasil meeting results tersebut, para pihak sepakat untuk membuat laporan resmi ke polisi. Namun, hingga saat ini, permasalahan belum sepenuhnya selesai. Azis dan keluarganya terus mengharapkan tindakan tegas dari pihak berwajib untuk mengakhiri ketidaknyamanan yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Dalam meeting results yang diadakan setelah kejadian teror, para warga menyatakan bahwa solusi sementara adalah memindahkan rumah ke daerah yang lebih tenang, sementara pihak kepolisian terus memburu pelaku yang diduga bertanggung jawab atas aksi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *