Main Agenda: Emas Global Naik, Tapi Ketegangan Politik Membayangi Pasar
Main Agenda – Harga emas global mulai bergerak naik setelah beberapa hari yang melemah, dengan investor kembali memperhatikan logam mulia sebagai aset aman di tengah ketegangan geopolitik yang masih menghantui pasar keuangan. Meski nilai emas turun di bawah USD 4.000 per ons, momentum pembelian berlanjut karena ketidakpastian politik dan ekonomi yang memicu permintaan akan instrumen berjangka. Di sisi lain, konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memasuki bulan kelima terakhir memengaruhi persepsi investor, meski harapan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) tetap terbuka.
Konflik AS-Iran Memicu Fluktuasi Harga Emas
Konflik antara AS dan Iran, yang berlangsung selama lebih dari satu bulan, berdampak signifikan terhadap volatilitas harga emas. Menurut Bloomberg, harga emas spot sempat melonjak hingga 1,2 persen, lalu stabil di sekitar USD 4.000 per ons setelah fluktuasi. Namun, secara mingguan, logam mulia ini mencatat penurunan lebih dari 2 persen, mencerminkan kecemasan pasar yang tertahan oleh risiko eskalasi konflik. Saat ini, pasar masih memantau dampak dari perang dagang dan krisis politik yang mengganggu keterjangkauan energi dan bahan baku industri.
Pada awal Juli, sentimen konsumen AS berangsur membaik ke level tertinggi dalam lima bulan terakhir, dipicu oleh penurunan harga bensin. Meski inflasi untuk 12 bulan ke depan hanya mencapai 4,2 persen, lebih rendah dari 4,6 persen di Juni, ketegangan geopolitik tetap menghambat pertumbuhan harga. Analisis Main Agenda menunjukkan bahwa investor cenderung mengalihkan dana ke emas sebagai perlindungan terhadap fluktuasi pasar, terutama saat risiko kenaikan suku bunga The Fed terus menjadi faktor pengaruh.
Kinerja Emas dalam Rentang Waktu Terburuk Sejak 2013
Dalam beberapa minggu terakhir, harga emas mengalami penguatan moderat, tetapi performa kuartal II 2026 menunjukkan penurunan 14 persen, menjadi yang terburuk sejak 2013. Pada Juni lalu, harga emas juga mencatat penurunan bulanan terbesar sejak krisis keuangan global 2008, yang mencerminkan ketidakstabilan pasar. Main Agenda melaporkan bahwa harga emas spot mencapai USD 4.009,50 per ons di akhir pekan 14 Juli, sedangkan harga perak naik 0,7 persen ke USD 55,90 per ons. Meski demikian, volatilitas ini terjadi di tengah indeks dolar yang tumbuh 0,06 persen, menunjukkan aliran dana ke aset berisiko.
“Ketegangan geopolitik masih menjadi penghalang utama bagi pertumbuhan harga emas, meski ada aktivitas pembelian signifikan saat harga turun di bawah USD 4.000 per ons,” kata Ryan McKay, Senior Commodity Strategist di TD Securities. “Pengaruh inflasi yang melunak akibat penurunan harga energi di Juni bisa mencegah penurunan lebih lanjut, menjaga peluang kenaikan suku bunga The Fed tetap terbuka,” tambahnya. Analisis Main Agenda menegaskan bahwa dinamika pasar ini dipengaruhi oleh kombinasi antara kebijakan moneter dan faktor eksternal seperti konflik internasional.
Di tengah ketegangan AS-Iran, pasar keuangan global terus berupaya untuk mencari keseimbangan antara inflasi dan kebijakan moneter. Main Agenda mencatat bahwa kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli sebesar 12 persen, namun investor masih menilai ada kemungkinan setidaknya satu kenaikan bunga sebelum akhir tahun. Perkembangan ini sejalan dengan pernyataan pejabat The Fed yang menekankan bahwa inflasi belum mencapai titik stabil, sehingga kebijakan moneter yang lebih ketat tetap menjadi alternatif.
Main Agenda juga mengamati bahwa pergerakan harga emas terkait erat dengan fluktuasi kurs dolar. Dengan indeks dolar yang naik 0,06 persen, nilai emas cenderung bergerak melawan tren tersebut, menunjukkan aksi spekulasi yang dipengaruhi oleh kecemasan politik. Meski ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda pemulihan, faktor geopolitik terus menekan investor, sehingga emas tetap menjadi pilihan utama dalam portofolio. Fluktuasi harga emas dan perak yang terjadi akhir pekan ini menegaskan bahwa pasar masih mengalami tekanan dari berbagai sumber.
Analisis Main Agenda menunjukkan bahwa keadaan pasar keuangan global kini bergantung pada dua faktor utama: kebijakan moneter The Fed dan ketegangan geopolitik. Dengan suku bunga yang diproyeksikan naik, pelaku pasar perlu memantau pertumbuhan inflasi dan respons dari berbagai negara. Namun, konflik antara AS dan Iran yang belum mereda berpotensi memperpanjang keadaan ketidakstabilan, menjaga emas sebagai aset berdaya tahan. Dengan demikian, Main Agenda memprediksi bahwa pasar akan tetap rentan terhadap perubahan politik dan ekonomi hingga akhir tahun 2026.
