Special Plan: Pertamina Percepat Distribusi BBM di Aceh
Special Plan – Dalam rangka mendorong keandalan pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Aceh, Pertamina meluncurkan Special Plan yang fokus pada peningkatan efisiensi distribusi. Langkah ini bertujuan memastikan kelancaran pasokan BBM di tengah tantangan logistik yang terus dihadapi wilayah tersebut. Sebagai bagian dari Special Plan, Pertamina telah memperpanjang jam operasional terminal BBM hingga 14 jam per hari, dengan penyesuaian di dua terminal utama, yaitu Integrated Terminal Lhokseumawe dan Fuel Terminal Krueng Raya.
Perluasan Jam Operasional untuk Meningkatkan Efisiensi
Special Plan yang diterapkan Pertamina mencakup perubahan jadwal kerja terminal BBM. Sebelumnya, waktu penyaluran BBM di terminal hanya sekitar 8 jam sehari, namun kini diperpanjang menjadi 14 jam. Hal ini dilakukan untuk mengoptimalkan kapasitas distribusi dan memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat. “Dengan memperpanjang durasi operasional, kami berharap proses distribusi menjadi lebih cepat dan stabil,” jelas Fahrougi Andriani Sumampouw, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut.
Perluasan jam operasional tidak hanya meningkatkan jumlah BBM yang dapat diistribusikan, tetapi juga mengurangi risiko gangguan pasokan akibat faktor cuaca atau kepadatan lalu lintas. Dalam Special Plan, Pertamina juga mengadopsi teknologi pengelolaan logistik terkini untuk memastikan koordinasi antar unit operasional tetap terjaga. “Kami menyesuaikan sistem distribusi agar selalu responsif terhadap permintaan yang berubah-ubah,” tambah Fahrougi.
Peningkatan Frekuensi Pengiriman Mobil Tangki
Sebagai bagian dari Special Plan, Pertamina meningkatkan frekuensi pengiriman mobil tangki hingga 65 persen. Langkah ini bertujuan mengatasi hambatan dalam distribusi BBM ke area-daerah yang lebih jauh, terutama di Aceh Timur, Aceh Barat, dan wilayah lain yang sering mengalami kekacauan pasokan. “Dengan Special Plan, kami memastikan BBM sampai ke pom bensin dan penyalur dalam waktu lebih singkat,” papar Fahrougi.
Peningkatan kapasitas pengiriman ini didukung oleh penyesuaian jadwal pengoperasian mobil tangki dan penggunaan rute alternatif. Selain itu, Pertamina juga melakukan evaluasi rutin terhadap kebutuhan BBM di setiap daerah, agar distribusi tetap seimbang dan tidak terjadi penumpukan di area tertentu. “Kami bekerja sama dengan pihak terkait untuk memastikan sinergi distribusi berjalan optimal,” lanjutnya.
Sejak 12 Juli 2026, Integrated Terminal Lhokseumawe mulai memasok BBM ke wilayah Langsa dan Aceh Timur dengan volume rata-rata 48.000 liter per hari. Untuk daerah Bireuen dan Pidie, Pertamina mengoptimalkan koordinasi antara dua terminal tersebut. “Special Plan ini juga mengintegrasikan pemanfaatan infrastruktur yang ada, sehingga distribusi bisa lebih terjangkau dan cepat,” kata Fahrougi.
“Dukungan dari seluruh stakeholder menjadi kunci sukses Special Plan. Dengan perubahan ini, kami percaya keandalan pasokan BBM di Aceh akan terus ditingkatkan, baik dari segi volume maupun kecepatan distribusi,” ujarnya.
Langkah-langkah dalam Special Plan juga melibatkan pelatihan petugas dan penguatan sistem pengawasan. Pertamina berkomitmen untuk menjaga kualitas layanan dan kepuasan masyarakat, terutama di tengah kondisi ekonomi dan lingkungan yang dinamis. “Kami mengharapkan Special Plan menjadi jembatan untuk menjawab tantangan distribusi BBM di Aceh,” pungkas Fahrougi. Dengan strategi ini, Pertamina berupaya mewujudkan distribusi BBM yang lebih stabil dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
