Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparanbisnis

RI Ekspor 38,4 Ton Kopi ke China dan Maroko – Nilainya USD 227 Ribu

Sandra Davis - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Indonesia Ekspor 38,4 Ton Kopi ke China dan Maroko, Nilainya Capai USD 227.443,2 RI Ekspor 38 4 Ton Kopi - Ekspor kopi dari Indonesia kembali mencatatkan

RI Ekspor 38,4 Ton Kopi ke China dan Maroko – Nilainya USD 227 Ribu

Indonesia Ekspor 38,4 Ton Kopi ke China dan Maroko, Nilainya Capai USD 227.443,2

RI Ekspor 38 4 Ton Kopi – Ekspor kopi dari Indonesia kembali mencatatkan prestasi signifikan, dengan total volume mencapai 38,4 ton yang dikirim ke dua pasar utama, yaitu Tiongkok dan Maroko. Angka ini dianggap sebagai bukti kuat kemajuan sektor pertanian kopi nasional, terutama melalui penggunaan Sistem Resi Gudang (SRG) yang menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan ekspor. RI Ekspor 38,4 Ton Kopi ini dilakukan dalam dua kontainer, dengan nilai total USD 227.443,2, yang menunjukkan potensi ekonomi dari produk pertanian ini.

Kepala Badan Pengelola Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tirta Karma Senjaya mengungkapkan bahwa SRG tidak hanya mempercepat proses ekspor tetapi juga meningkatkan kualitas dan daya saing produk Indonesia di pasar internasional. Sistem ini memberikan akses pembiayaan yang lebih mudah bagi para petani, serta menjamin konsistensi kuantitas dan kualitas kopi selama penyimpanan. “Penerapan SRG secara optimal dapat meningkatkan nilai tambah kopi Indonesia dan membuka peluang ekspor yang lebih luas,” jelasnya, seperti dilaporkan Minggu (19/7).

Pengembangan Pasar Ekspor Kopi

Kopi yang diekspor ini terdiri dari dua jenis, yaitu Robusta Grade 2 dan Arabica Semi Wash. Kontainer pertama berisi 19,2 ton Robusta Grade 2 yang dikirim ke Maroko, sementara kontainer kedua berisi 19,2 ton Arabica Semi Wash yang tujuannya ke Tiongkok. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa RI Ekspor 38,4 Ton Kopi tidak hanya fokus pada pasar tradisional tetapi juga terus menggarap pasar baru yang menjanjikan pertumbuhan ekonomi.

Pasar Tiongkok dan Maroko dikenal sebagai dua negara dengan permintaan tinggi terhadap produk kopi berkualitas. Ekspor ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu memenuhi standar kualitas yang diterapkan oleh negara-negara tersebut, sekaligus memperkuat posisi sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar dunia. Tirta juga menyoroti bahwa kopi yang diekspor berasal dari Gudang SRG KAI-ASLI Gedebage, yang dikelola secara profesional untuk memastikan konsistensi produk selama distribusi.

Potensi Ekspor dan Dukungan Pemerintah

Menurut Tirta Karma Senjaya, ekspor kopi Indonesia ke Tiongkok dan Maroko merupakan bagian dari strategi pengembangan ekosistem logistik nasional. Sistem ini memberikan manfaat ganda, baik bagi para petani maupun pengusaha, dengan memungkinkan mereka menikmati insentif pembiayaan dan menjaga kualitas produk hingga ke konsumen. “SRG juga berperan sebagai jembatan antara produsen lokal dan pasar global, sehingga mempercepat proses ekspor,” tambahnya.

Bappebti terus berupaya mengoptimalkan pemanfaatan SRG sebagai alat pengembangan ekonomi sektor kopi. Tirta menyatakan bahwa selain ekspor kopi ke Tiongkok dan Maroko, akan ada rencana ekspor lanjutan berupa delapan kontainer kopi Arabica Semi Wash, dengan total volume 153,6 ton dan nilai USD 1.251.225,60. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung industri kopi nasional, terutama melalui inisiatif seperti RI Ekspor 38,4 Ton Kopi yang berdampak langsung pada pendapatan petani.

Dalam konteks global, ekspor kopi Indonesia terus menjadi salah satu komoditas utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan SRG, eksportir kopi dapat menjangkau pasar internasional lebih mudah, karena sistem ini memberikan jaminan kualitas dan kepastian dalam penyaluran. Selain itu, Tirta menekankan pentingnya kebijakan pemerintah dalam menstabilkan harga kopi nasional dan meningkatkan daya saing produk di pasar global.

Kopi Indonesia, terutama jenis Arabica, semakin diminati oleh konsumen di berbagai belahan dunia. Nilai USD 227.443,2 dari RI Ekspor 38,4 Ton Kopi ini tidak hanya menguntungkan sektor pertanian, tetapi juga mendorong keberlanjutan usaha kopi di tingkat hilir. Pemanfaatan SRG diharapkan mampu mempercepat proses ekspor serta mendorong inovasi dalam pengemasan dan pemasaran produk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *