Investigasi Polda Sumut Mengungkap Penyebab Ledakan di Grand Polonia
Kabarnusantaraku.com – Tim forensik Polda Sumatera Utara telah menyelesaikan pemeriksaan awal mengenai penyebab ledakan yang melanda kawasan perumahan Grand Polonia di Medan. Berdasarkan temuan sementara, tekanan gas yang sangat kuat dari dapur rumah nomor 3B menjadi penyebab utama peristiwa tersebut.
AKBP Roy Tenno Siburian, Kasubdit Fiskom Bid Labfor Polda Sumut, menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi menunjukkan karakteristik tekanan dari dalam rumah. Hal ini menyebabkan dinding serta berbagai barang di dalam rumah roboh.
“Hasil yang sudah kita temukan bahwa kerusakan yang terjadi itu ciri khas menunjukkan bahwa tekanannya semua dari dalam rumah. Artinya ada di sana tekanan yang kuat yang membuat sampai yang dinding atau barang-barang yang lain itu roboh di sana,” kata Roy saat ditemui di lokasi, Selasa (21/7).
Temuan di Area Dapur
Para investigator menemukan kompor tanam yang terangkat ke atas serta pintu-pintu yang terbuka di dapur. Terminal gas yang digunakan untuk memasak menjadi titik fokus penyelidikan. Kondisi ini mengindikasikan kemungkinan kebakaran gas telah terjadi.
“Nah, di dapur kita temukan di sana ada kompor tanam dan juga pintu-pintu yang terbuka. Di mana kompor ini terangkat ke atas. Itu di sana adalah terminal gas yang digunakan untuk memasak. Jadi artinya, kalau ada tekanan di sana, bisa diartikan bahwa terjadi kebakaran gas,” sambung Roy.
Hasil pengukuran menggunakan detektor gas menunjukkan konsentrasi mencapai 10% lower explosive limit atau batas ledakan di bagian dapur. Titik ini merupakan area kritis di mana ledakan dapat terjadi.
“Hasil pertama yang kita temukan di sana dengan gas detector, kita menemukan ada konsentrasi bervariasi di dapur itu. Ada sekitar paling tidak 10% LEL-nya (Lower Explosive Limit). Jadi itu dalam konsentrasi itu harusnya gas itu bisa terdetonasi,” ucap Roy.
Faktor Pemicu dan Korban
Kebocoran pipa gas yang berada di area tertutup menjadi penyebab ledakan kuat yang mampu merusak bangunan. Ketika gas terkonsentrasi di dalam ruangan tertentu, tekanan yang terbentuk cukup untuk meruntuhkan struktur.
“Bisa (mengakibatkan ledakan besar). Karena ini rumahnya tertutup. Jadi ketika dia terkonsentrasi di dalam ruangan tertentu, nah itu bisa roboh,” imbuh Roy.
Pemicu awal ledakan pipa gas kemungkinan berasal dari arus lampu yang dihidupkan maupun gesekan logam. Dalam ruangan tertutup dengan kandungan gas, sumber api kecil dapat memicu ledakan secara langsung.
“Kalau sudah ada gas di dalam suatu ruangan tertutup, lalu ada di sana contoh pemantik, seperti itu. Atau misalnya orang menghidupkan lampu, itu bisa terjadi langsung. Karena itu sangat mudah terpantik ya,” ucap Roy.
Tim forensik belum dapat memastikan berapa lama konsentrasi gas bertahan di dalam rumah. Namun, kondisi kerusakan bangunan menunjukkan bahwa konsentrasi gas cukup untuk menghasilkan ledakan yang merusak.
“Kalau melihat kerusakan itu, pasti di sana memang konsentrasinya cukup. Berarti ada maksudnya gini, kan untuk bisa meruntuhkan suatu gedung, tenaga yang diperlukan cukup. Tenaga itu darimana? Ya dari ada sesuatu yang terbakar di sana kira-kira begitu. Jadi artinya, kekuatan yang terjadi, dampak seperti ini berarti langsung berkolerasi dengan jumlah yang ada di sana yang bisa terbakar itu,” jelas Roy.
Tanda-tanda area terbakar memang ditemukan di dalam rumah, namun material bangunan yang terbakar hingga menjadi arang tidak ada. Hal ini mengindikasikan bahwa proses pembakaran terjadi secara cepat dan serta-merta.
“Tentang itu ada (tanda-tanda terbakar). Maksudnya, kalau misalnya seperti arang tidak. Tidak mungkin, karena ini kan hanya serta-merta saja, gitu,” ujar Roy.
Pihak forensik juga belum memastikan getaran yang terjadi akibat ledakan pipa gas. Beberapa sampel telah dibawa untuk penyelidikan lebih lanjut.
“Sampel awal ada. Ada yang kita bawa,” imbuh Roy.
Sebelumnya, ledakan terjadi di Perumahan Grand Polonia, Kota Medan, pada Senin (20/7) sekitar pukul 15.30 WIB. Diduga ledakan itu disebabkan kebocoran gas tanam yang berada di perumahan tersebut. Terdapat tujuh korban dalam peristiwa tersebut. Rinciannya, empat korban selamat dan tiga orang tewas. Seluruh korban telah dievakuasi.
