Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparanbisnis

Harga Komoditas: Minyak Mentah Melesat 2 Persen, CPO Turun Tipis

Robert Hernandez - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Harga Komoditas mengalami pergerakan signifikan pada sesi perdagangan Selasa, 21 Juli 2024. Pasar komoditas global menunjukkan respons terhadap berbagai

Harga Komoditas: Minyak Mentah Melesat 2 Persen, CPO Turun Tipis

Harga Komoditas Hari Ini: Minyak Mentah Melesat 2 Persen, CPO Turun Tipis di Tengah Kekhawatiran Rute Pelayaran Global

Kabarnusantaraku.com – Harga Komoditas mengalami pergerakan signifikan pada sesi perdagangan Selasa, 21 Juli 2024. Pasar komoditas global menunjukkan respons terhadap berbagai faktor fundamental, dengan minyak mentah menjadi komoditas paling menonjol setelah menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Juni. Peningkatan ini didorong oleh kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pada jalur pelayaran internasional yang vital bagi distribusi energi dunia.

Minyak Mentah Mencapai Puncak Baru Didorong Kekhawatiran Rute Pelayaran

Pergerakan harga komoditas energi kali ini tidak terlepas dari ketegangan geopolitik yang mempengaruhi jalur transportasi maritim global. Ancaman terhadap stabilitas pasokan minyak berasal dari beberapa wilayah strategis, termasuk Selat Hormuz yang merupakan choke point penting untuk ekspor minyak Timur Tengah, Laut Merah yang menghubungkan Asia dengan Eropa, serta terminal ekspor milik Kazakhstan yang terletak di sepanjang garis pantai Rusia.

Menurut data Bloomberg yang dihimpun, kontrak minyak Brent untuk pengiriman September mencatat kenaikan sebesar 2 persen. Penutupan perdagangan di bursa New York (NYMEX) menempatkan harga Brent pada level USD 91,01 per barel. Angka ini mencerminkan sentimen bullish yang kuat di kalangan trader minyak mentah yang mengantisipasi potensi kelangkaan pasokan di masa depan.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) versi September juga menunjukkan performa positif yang konsisten. Kenaikan sebesar 2,3 persen membawa harga WTI ke level USD 84,34 per barel. Perbedaan antara Brent dan WTI yang semakin menyempit menunjukkan bahwa faktor-faktor global mempengaruhi kedua benchmark minyak utama secara bersamaan.

Batu Bara dan Logam Juga Menguat di Pasar Global

Di sektor energi lain, batu bara turut merasakan sentimen positif yang sama. Berdasarkan informasi dari situs Barchart, harga batu bara ICE Newcastle untuk kontrak Juli 2026 mengalami penguatan tipis sebesar 0,38 persen. Penutupan pada level USD 130,90 per ton ini mengindikasikan permintaan yang stabil dari sektor pembangkit listrik di berbagai negara Asia.

Pergerakan harga komoditas tidak hanya terbatas pada sektor energi. Di pasar logam, nikel tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,92 persen menurut data London Metal Exchange (LME). Penutupan di posisi USD 17.085 per ton ini didorong oleh permintaan dari industri baterai kendaraan listrik yang terus berkembang pesat.

Timah juga menunjukkan tren naik yang konsisten dengan peningkatan 1,9 persen. Harga menetap di USD 53.885 per ton, mencerminkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas pasokan dari produsen utama seperti Indonesia dan Tiongkok. Penguatan ini sejalan dengan pemulihan permintaan dari sektor elektronik global.

Minyak Kelapa Sawit Cenderung Melemah

Berbeda dengan logam dan energi, minyak kelapa sawit (CPO) justru mencatat penurunan pada perdagangan hari itu. Mengutip tradingeconomics.com, harga CPO turun 0,71 persen menjadi MYR 4.610 per ton. Penurunan ini mungkin dipengaruhi oleh faktor musiman dan peningkatan produksi dari negara-negara produsen utama.

Para pedagang menimbang ancaman terhadap lalu lintas maritim yang membentang dari Selat Hormuz dan Laut Merah ke terminal ekspor utama Kazakh di pantai Rusia. Ketegangan ini berpotensi mempengaruhi harga komoditas dalam jangka menengah hingga panjang.

Secara keseluruhan, dinamika harga komoditas hari ini mencerminkan ketidakpastian pasar yang dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan fundamental permintaan global. Investor disarankan untuk memantau perkembangan situasi di jalur pelayaran strategis serta data inventori minyak dari berbagai negara konsumen utama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *