Barantin Bangun 2 Laboratorium Karantina untuk Perkuat Sistem Biosekuriti Nasional
Pembangunan Fasilitas Laboratorium di Dua Wilayah Strategis
Kabarnusantaraku.com – Badan Karantina Indonesia atau yang dikenal dengan Barantin sedang melakukan langkah signifikan dalam memperkuat infrastruktur karantina nasional. Salah satu inisiatif utama yang sedang dijalankan adalah Barantin Bangun 2 Laboratorium Karantina di Cilacap dan Waingapu. Kedua lokasi ini dipilih karena memiliki posisi strategis dalam mendukung sistem karantina hewan dan tumbuhan di Indonesia. Cilacap yang terletak di Jawa Tengah serta Waingapu di Nusa Tenggara Timur menjadi titik penting untuk pengembangan fasilitas laboratorium modern.
Abdul Kadir Karding, Kepala Barantin, menjelaskan bahwa pembangunan ini merupakan bagian dari program prioritas kepemimpinannya. Selain membangun fasilitas baru, pihaknya juga aktif mengusulkan anggaran untuk revitalisasi laboratorium yang sudah ada di berbagai daerah. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh laboratorium karantina di Indonesia memiliki standar yang memadai dalam melakukan pengujian dan analisis.
Sekarang kita sedang proses pembangunan laboratorium di dua provinsi, di Jawa Tengah di Cilacap, dan di NTT di Waingapu, sedang di sedang proses pembangunan. Untuk revitalisasi sedang kita juga usahakan anggarannya.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Karding pada Rabu (22/7) saat berada di kawasan PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI), Bogor, Jawa Barat. Ia menegaskan bahwa pembangunan maupun revitalisasi laboratorium menjadi salah satu fokus utama dalam program prioritas kepemimpinannya. Berbagai langkah telah dilakukan untuk memastikan rencana tersebut berjalan sesuai target yang telah ditetapkan.
Kolaborasi Internasional untuk Penguatan Sistem Karantina
Sebelumnya, Barantin telah menjalin kemitraan dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO). Kolaborasi ini bertujuan memperkuat sistem biosekuriti nasional melalui pendekatan manajemen risiko karantina hewan yang terintegrasi. Langkah strategis ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan negara dalam menghadapi ancaman penyakit hewan yang dapat melintasi batas wilayah.
Kerja sama tersebut mencakup penguatan sistem karantina berbasis manajemen risiko. Salah satu komponen utamanya adalah pengembangan peta hama dan penyakit yang terintegrasi dengan sistem peringatan dini atau early warning system. Program yang diberi nama Strengthening Animal Quarantine Risk Management through Integrated Assessment and Response Toward Agri-Threats ini dijadwalkan berlangsung selama dua tahun, tepatnya dari 1 Juli 2026 hingga 30 Juni 2028.
Dukungan finansial untuk program ini berasal dari hibah FAO sebesar 200 ribu dolar AS atau setara dengan Rp 3,59 miliar. Karding menekankan bahwa penguatan biosekuriti merupakan hal krusial mengingat adanya berbagai ancaman seperti penyakit hewan lintas batas, zoonosis, hingga spesies invasif. Faktor-faktor tersebut berpotensi mengganggu ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, serta kelancaran perdagangan internasional.
Karena itu, kami terus membangun sistem karantina yang modern, berbasis risiko, berbasis data, dan selaras dengan standar internasional agar mampu melindungi ketahanan pangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Upaya ini sejalan dengan komitmen Barantin untuk menciptakan infrastruktur karantina yang handal dan adaptif terhadap tantangan global. Dengan sistem yang modern dan berbasis data, diharapkan Indonesia dapat lebih siap menghadapi berbagai risiko kesehatan dan pertanian di masa depan. Pembangunan laboratorium di Cilacap dan Waingapu menjadi bagian dari visi besar tersebut untuk memastikan keamanan hayati nasional tetap terjaga.
