Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparanbisnis

Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII

Susan Davis - kabarnusantaraku.com 2 mins read

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto baru-baru ini mengungkapkan bahwa Pulau Dewata Bali menjadi salah satu opsi utama untuk pembangunan

Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII

Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali sebagai Opsi Utama PFII

Kabarnusantaraku.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto baru-baru ini mengungkapkan bahwa Pulau Dewata Bali menjadi salah satu opsi utama untuk pembangunan Private Financial Institution Indonesia (PFII). Dalam pernyataannya, Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali sebagai lokasi potensial yang telah melalui proses peninjauan bersama para pejabat tinggi pemerintah. Kunjungan ini dilakukan secara langsung oleh Airlangga bersama dengan Rosan Roeslani, yang menjabat sebagai CEO Danantara Indonesia serta Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

“Kemarin saya, Pak Rosan, sudah meninjau beberapa tempat di Bali. Jadi salah satunya adalah lahan yang dimiliki oleh BUMN di Bali,” jelas Airlangga di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Rabu (22/7).

Proses Peninjauan dan Pertimbangan Lokasi

Kunjungan ke Bali ini memiliki tujuan ganda, yaitu meninjau beberapa Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang sudah ada serta mengevaluasi lahan-lahan milik perusahaan pelat merah. Airlangga menjelaskan bahwa lahan BUMN di Bali barat dan lahan milik BUMN di dekat bandara menjadi alternatif menarik untuk pendirian PFII. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa keputusan final mengenai lokasi belum diambil. Pemerintah masih membuka berbagai opsi, termasuk lokasi di luar KEK seperti di Kota Denpasar.

Menurut Airlangga, proses penetapan lokasi akan dilakukan setelah pembahasan undang-undang terkait PFII selesai dan laporan disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto. Pemilihan Bali sebagai opsi lokasi didasarkan pada berbagai pertimbangan strategis, mulai dari ketersediaan lahan yang memadai hingga dukungan fasilitas kesehatan yang memadai. Kedua aspek ini dinilai sangat penting untuk menunjang operasional pusat keuangan internasional yang akan datang.

Airlangga menambahkan bahwa keberadaan para manajer investasi dan investor di lokasi PFII memerlukan kenyamanan dan keamanan. “Karena nanti akan ada para manajer investasi, investor, supaya mereka nyaman dan merasa aman. Di Bali kan beberapa lokasi itu tidak jauh,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa kedekatan antarlokasi menjadi salah satu faktor penentu dalam pemilihan Bali.

Regulasi dan Pendanaan PFII

Dalam hal regulasi, Airlangga menjelaskan perbedaan antara lokasi di dalam KEK dengan lokasi yang di-carving menjadi wilayah khusus. “Kalau fasilitasnya itu kan fasilitas financial center. Tapi kalau di-carving wilayahnya, dibuat wilayah khusus, itu namanya KEK,” terangnya. Pemerintah berencana menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) setelah Undang-Undang tentang PFII disahkan untuk memberikan kerangka hukum yang jelas.

Mengenai aspek pendanaan, Airlangga menyatakan bahwa pemerintah masih melakukan perhitungan mengenai besaran investasi yang dapat dihimpun untuk mendukung pembangunan pusat keuangan tersebut. “Nanti kita lihat kira-kira berapa investasi yang bisa ditarik di situ,” tutupnya. Dengan demikian, Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali bukan hanya sebagai opsi lokasi, tetapi juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam membangun infrastruktur keuangan yang kompetitif secara internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *