Minyak Mentah Melonjak 3 Persen di Tengah Ketegangan Iran-AS
Kabarnusantaraku.com – Harga Minyak Mentah Melesat 3 Persen pada perdagangan Rabu, 22 Juli 2025, menandai momentum positif bagi sektor energi global. Pergerakan naik ini didorong oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap gangguan pasokan akibat eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Selain minyak, komoditas lain seperti timah dan nikel juga mencatatkan kenaikan, sementara batu bara menjadi pengecualian dengan penurunan tipis.
Eskalasi Konflik Iran-AS Dorong Kenaikan Harga
Kenaikan harga minyak mentah kali ini bukan tanpa alasan. Pasar global merespons dengan cemas terhadap potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah. Konflik antara AS dan Iran yang kembali memanas menjadi katalis utama yang mendorong harga minyak mencapai level tertinggi sejak pertengahan Juni. Selain itu, ancaman dari kelompok milisi Houthi di Yaman terhadap jalur pelayaran internasional turut memperkuat sentimen bullish di pasar minyak.
Menurut data Reuters, minyak mentah berjangka Brent ditutup menguat sebesar USD 3,06 atau setara dengan 3,36 persen. Penutupan terjadi pada level USD 94,07 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mencatatkan kenaikan sebesar USD 2,49 atau 2,95 persen menjadi USD 86,83 per barel. Angka-angka ini menunjukkan kepercayaan pasar yang semakin kuat terhadap prospek harga minyak jangka pendek.
Harga Brent berhasil menjadi yang tertinggi dalam hampir enam pekan terakhir. Sebelumnya, harga sempat menyentuh level tertinggi intraday sebesar USD 95,47 per barel.
Analisis Komoditas Lainnya pada Sesi Perdagangan Rabu
Sementara minyak mentah menunjukkan kekuatan, batu bara terpantau mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Rabu. Berdasarkan data dari ICE Newcastle, harga batu bara turun tipis sebesar 0,04 persen untuk pengiriman Juli 2026 menjadi USD 30,85 per ton. Penurunan ini mungkin disebabkan oleh faktor musiman atau perubahan permintaan dari negara-negara konsumen utama.
Di sisi lain, harga minyak kelapa sawit (CPO) justru mencatatkan kenaikan yang menggembirakan. Menurut situs Trading Economics, harga CPO naik 0,26 persen dan berada di level MYR 4.622 per ton. Kenaikan ini mencerminkan permintaan yang stabil dari pasar global, terutama dari Tiongkok dan India sebagai konsumen terbesar minyak sawit dunia.
Harga nikel juga menunjukkan tren positif pada penutupan perdagangan Rabu. Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga nikel naik 0,87 persen menjadi USD 17.234 per ton. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya permintaan dari sektor baterai kendaraan listrik yang terus berkembang pesat.
Sementara itu, harga timah pun mengalami kenaikan meskipun dalam tingkat yang lebih kecil. Berdasarkan situs LME, harga timah naik tipis sebesar 0,07 persen menjadi USD 53.922 per ton. Kenaikan ini sejalan dengan tren positif yang dialami oleh sebagian besar logam dasar lainnya.
Secara keseluruhan, pergerakan harga komoditas pada Rabu ini mencerminkan dinamika pasar yang kompleks. Investor perlu terus memantau perkembangan konflik Iran-AS serta faktor-faktor fundamental lainnya yang dapat mempengaruhi harga minyak mentah dan komoditas terkait di masa mendatang.
