IHSG Diproyeksi Lanjut Menguat BI Jadi Penopang
Kabarnusantaraku.com – Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang masih berlangsung, pasar saham Indonesia diperkirakan masih memiliki peluang signifikan untuk melanjutkan tren positifnya. Perdagangan pada Kamis (23/7) diprediksi akan menunjukkan penguatan yang lebih kuat, meskipun investor diminta tetap waspada terhadap kemungkinan koreksi jangka pendek yang bisa terjadi kapan saja. Sentimen internasional yang masih fluktuatif menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan dengan cermat oleh para pelaku pasar.
Analisis Teknis dan Target Harga
MNC Sekuritas menyampaikan bahwa secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase kenaikan yang sehat. Meskipun pada sesi sebelumnya indeks mengalami penurunan sebesar 0,09 persen ke level 6.334 dengan adanya tekanan jual dari investor, koreksi tersebut berhasil ditahan di area rata-rata pergerakan MA60. Berdasarkan posisi terkini, indeks masih memiliki potensi untuk melanjutkan penguatan menuju area 6.441 hingga 6.545. Namun, perlu diwaspadai juga kemungkinan koreksi menuju area 6.202-6.282 jika tekanan jual meningkat.
“Dengan posisi tersebut, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatannya untuk menguji area 6.441 hingga 6.545. Namun, tetap cermati potensi koreksi jangka pendek menuju area 6.202-6.282,” tulis MNC Sekuritas dalam riset hariannya.
Level support yang ditetapkan MNC Sekuritas berada di 6.111 dan 5.839, sementara level resistance terletak di 6.377 dan 6.599. Untuk rekomendasi saham pada perdagangan hari ini, MNC Sekuritas menyebutkan AADI, CUAN, PTBA, dan VKTR sebagai saham yang menarik untuk diperhatikan. Investor juga disarankan untuk memperhatikan volume transaksi yang mendukung pergerakan harga.
Sentimen Bank Indonesia dan Arus Dana Asing
Mirae Asset Sekuritas Indonesia juga memberikan pandangan serupa, yaitu IHSG cenderung bergerak dalam fase konsolidasi sehat setelah reli yang sempat terhambat oleh aksi ambil untung. Secara teknikal, indeks ditutup tepat di MA60 dan membentuk pola bearish doji star. Indikator Stochastic dan RSI masih menunjukkan sinyal positif meskipun volume transaksi mulai menurun secara bertahap.
M. Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menilai keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen menjadi sentimen positif yang kuat. Langkah ini mampu mengurangi ketidakpastian kebijakan moneter serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah volatilitas global.
“Meski demikian, ruang penguatan IHSG diperkirakan belum terlalu agresif karena pasar masih dibayangi arus keluar dana asing,” tulis Nafan.
Data menunjukkan investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp1,11 triliun pada perdagangan sebelumnya. Sepanjang tahun berjalan, nilai jual bersih asing telah mencapai Rp90,52 triliun, sementara IHSG masih terkoreksi 26,74 persen dari puncaknya. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan pasar masih memerlukan waktu dan konsistensi.
Faktor Eksternal dan Prospek Pasar
Perhatian pasar juga tertuju pada konflik Amerika Serikat dan Iran yang terus berlanjut tanpa henti. Ketegangan tersebut mendorong harga minyak Brent menembus USD 95 per barel sehingga memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global dan meningkatnya tekanan inflasi. Di sisi lain, pelaku pasar juga terus mencermati prospek kebijakan suku bunga The Fed serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Kombinasi sentimen tersebut turut menekan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi sekitar 0,16 persen menjadi Rp17.917 per USD. Untuk perdagangan hari ini, Mirae Asset memperkirakan IHSG memiliki level support di 6.261 dan 6.137, sedangkan level resistance berada di 6.416 dan 6.546.
Investor disarankan mengakumulasi saham-saham berfundamental kuat, bervaluasi murah, serta mulai menunjukkan sinyal pembalikan tren dengan tetap menerapkan manajemen risiko yang disiplin. IHSG Diproyeksi Lanjut Menguat BI Jadi sebagai penopang utama di tengah ketidakpastian global saat ini.
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual suatu produk investasi tertentu.
