Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparanbisnis

Purbaya Tepis Isu Dana Panda Bond untuk Bayar Utang Whoosh

Susan Davis - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara tegas membantah kabar yang beredar bahwa hasil penerbitan Panda Bond akan disalurkan untuk melunasi kewajiban

Purbaya Tepis Isu Dana Panda Bond untuk Bayar Utang Whoosh

Purbaya Yudhi Sadewa Klarifikasi Fungsi Panda Bond untuk Defisit Anggaran

Kabarnusantaraku.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara tegas membantah kabar yang beredar bahwa hasil penerbitan Panda Bond akan disalurkan untuk melunasi kewajiban proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh. Pejabat tersebut menjelaskan bahwa instrumen keuangan ini merupakan salah satu alternatif pembiayaan pemerintah yang bertujuan menutup kesenjangan anggaran, bukan untuk membayar utang proyek Whoosh. Pernyataan ini penting untuk meluruskan persepsi publik mengenai penggunaan dana yang berasal dari pasar keuangan China tersebut.

“Ini (Panda Bond -red) untuk nutup defisit kita. Nanti ke depan apakah pakai itu, nanti kita lihat seperti apa,” kata Purbaya ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (23/7).

Mekanisme Pembayaran Utang Whoosh

Menurut Purbaya, skema yang akan diterapkan untuk menangani utang Whoosh masih dalam proses penyusunan. Ia belum memberikan rincian mekanisme yang akan dijalankan. Namun, ia memastikan bahwa pemerintah akan berusaha meminimalkan penggunaan dana APBN untuk keperluan tersebut. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas fiskal negara dan memastikan bahwa anggaran pemerintah tidak terbebani secara berlebihan.

“Walaupun di pemerintah, tapi akan kita kecilkan semaksimal mungkin dana APBN yang dipakai untuk bayar Whoosh,” ucapnya.

Purbaya juga menyebutkan bahwa pemerintah memiliki beberapa pilihan pembiayaan, antara lain Special Mission Vehicle (SMV), Badan Layanan Umum (BLU), maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dibentuk untuk menjalankan misi pembangunan nasional. Setiap opsi ini memiliki karakteristik dan potensi pendanaan yang berbeda-beda, sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan proyek.

“Karena saya punya banyak SMV, Special Mission Vehicle. Potensial dana terbesar, nanti kita kasih tahu. Tapi kalau kita hitung untuk segera mengurangi beban APBN jadi anggaran APBN-nya tidak terganggu,” kata Purbaya.

Detail Penerbitan Panda Bond

Panda Bond adalah surat utang yang diterbitkan dalam mata uang yuan di pasar keuangan China. Pemerintah menargetkan penerbitan senilai USD 1 miliar sebagai bagian dari strategi memperluas sumber pembiayaan negara. Rencana issuance dijadwalkan pada 23 Juli dengan target USD 1 miliar. Jumlah ini dipilih karena pasar baru dan pemerintah ingin melakukan uji coba terlebih dahulu sebelum meningkatkan volume penerbitan di masa mendatang.

“Rencana issuance ini 23 Juli. Targetnya USD 1 miliar. Karena ini pasar baru, kita jajaki dulu. Walaupun mungkin offering-nya atau bid-nya besar sekali, kita batasi dulu USD 1 miliar,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di kantor Kementerian Keuangan, Selasa (22/7).

Penerbitan Panda Bond dianggap sebagai langkah strategis untuk mendiversifikasi sumber pembiayaan dan memperluas basis investor global. Selain itu, instrumen ini diharapkan dapat mempererat hubungan ekonomi Indonesia dan China, mendukung implementasi transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT), serta memperdalam kerja sama sektor keuangan kedua negara. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya bergantung pada pasar keuangan tradisional seperti Amerika Serikat dan Eropa.

Implikasi bagi Ekonomi Indonesia

Klarifikasi yang disampaikan Purbaya ini memberikan kejelasan bagi pasar dan masyarakat mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah. Penggunaan Panda Bond untuk menutup defisit anggaran menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengelola keuangan negara secara efisien. Di sisi lain, upaya meminimalkan penggunaan APBN untuk utang Whoosh mencerminkan kehati-hatian dalam mengalokasikan sumber daya publik.

Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kepercayaan investor internasional terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Dengan diversifikasi sumber pembiayaan, Indonesia dapat mengurangi risiko ketergantungan pada satu pasar keuangan tertentu. Hal ini penting dalam konteks ketidakpastian ekonomi global yang masih berlanjut hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *