Ratusan Sopir Bentor Desak Penundaan Malioboro Full Pedestrian
Kabarnusantaraku.com – Kabar terbaru dari Yogyakarta mengabarkan bahwa ratusan pengemudi becak motor atau yang lebih dikenal dengan sebutan bentor telah melakukan aksi menuntut penundaan implementasi kawasan Malioboro sebagai zona full pedestrian. Aksi ini dilakukan dengan cara berkumpul di Kantor Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta yang berlokasi di wilayah Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman. Pertemuan berlangsung pada hari Kamis, tanggal 30 Juli 2024, dengan tujuan utama menyampaikan aspirasi agar kebijakan tersebut ditunda hingga sebagian besar armada mereka berhasil beralih menggunakan becak listrik.
Kondisi Armada Becak Motor Saat Ini
Parmin, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Paguyuban Becak Motor DIY, memberikan gambaran jelas mengenai kondisi armada bentor yang beroperasi di sekitar kawasan Malioboro. Menurut data yang dihimpun, jumlah bentor yang aktif beroperasi mencapai kurang lebih 900 unit. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa proses konversi ke becak listrik masih berjalan sangat lambat. Saat ini, hanya sekitar 50 hingga 80 unit saja yang sudah menggunakan teknologi becak listrik tersebut.
“Bentor di sepanjang Malioboro ada 900 kurang lebihnya. Yang sudah becak listrik baru sedikit, baru sekitar 80 atau 50. Sudah dipakai tapi banyak yang rusak,” kata Parmin kepada wartawan.
Dampak Kebijakan Car Free Day Terhadap Pendapatan
Selain menuntut bantuan berupa becak listrik, para sopir bentor juga menyoroti dampak negatif dari kebijakan Car Free Day yang dilaksanakan setiap akhir pekan. Kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu dan Minggu mulai pukul 05.00 hingga 09.00 WIB. Mereka menilai bahwa pembatasan lalu lintas tersebut secara signifikan mengurangi potensi pendapatan harian para pengemudi becak motor.
“Minggu itu tempat tamu-tamu banyak yang naik becak motor. Otomatis mengurangi ekonomi, bisa merugikan teman-teman becak motor,” ujarnya.
Tuntutan Transisi yang Adil dan Berkeadilan
Parmin berharap pemerintah daerah segera menyalurkan bantuan becak listrik kepada para pengemudi yang membutuhkan. Hal ini sangat penting agar mereka tetap bisa mencari nafkah ketika kebijakan full pedestrian benar-benar diterapkan secara penuh. Ia menekankan bahwa paguyuban tidak menolak kebijakan tersebut, namun menginginkan proses transisi yang matang dan berkeadilan bagi semua pihak.
“Iya. Selama teman-teman kami belum mendapat bantuan betrik dari pemerintah ya kami tolong teman kami bisa mengais rezeki di sepanjang pedestrian. Jangan terus asal menutup,” katanya.
“Kami juga mendukung kebijakan full pedestrian karena demi ketercapaian pemerintah. Tapi jangan kami dikorbankan,” ujarnya.
Respons Resmi dari Dishub DIY
Menanggapi aspirasi para sopir bentor, Kepala Dishub DIY, Chrestina Erni Widyastuti, menyatakan bahwa tuntutan tersebut akan segera diteruskan kepada Pemerintah Kota Yogyakarta. Ia menjelaskan bahwa salah satu harapan utama para pengemudi adalah penggunaan separuh jalan selama Car Free Day pada hari Sabtu dan Minggu. Hal ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi aktivitas ekonomi mereka tetap berjalan.
“Itu memang mengharapkan bahwa pada saat Car Free Day hari Sabtu dan Minggu itu, keinginannya kan, ada separuh jalan digunakan. Nah, ini akan saya komunikasikan dengan Pemerintah Kota,” kata Erni di hadapan massa aksi.
Erni juga menegaskan bahwa Dishub DIY berperan sebagai pelaksana kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Saat ini, pihaknya sedang melakukan koordinasi intensif dengan pimpinan terkait, termasuk Sekretaris Daerah dan Gubernur, untuk menyampaikan aspirasi para sopir bentor agar dihasilkan kebijakan yang berpihak pada kebutuhan mereka di lapangan. Proses ini diharapkan dapat menghasilkan solusi yang tepat dan berkelanjutan bagi semua pihak yang terlibat.
