Insiden Main HP Saat Rapat Daring Pemicu Mutasi Pegawai BGN
Kabarnusantaraku.com – Ketika mengikuti sesi Zoom bersama, seorang pegawai Badan Gizi Nasional (BGN) terdeteksi sedang asyik memegang smartphone. Video momen tersebut kemudian menyebar luas di berbagai platform media sosial. Pegawai yang dimaksud adalah Adi Afrianto, yang menjabat sebagai Koordinator Wilayah BGN untuk Kabupaten Kayong Utara di Kalimantan Barat.
Kepala BGN, Sudaryono, saat itu langsung memberikan teguran kepada Adi. Dalam rekaman yang viral, Sudaryono terlihat menyampaikan peringatan keras kepada bawahannya. Tak hanya berhenti di teguran lisan, Sudaryono juga mengumumkan rencana pemindahan Adi ke wilayah Papua.
Perubahan Rencana Pemindahan ke Sulawesi Selatan
Awalnya, keputusan untuk memindahkan Adi ke Papua telah disampaikan secara resmi. Namun, setelah dilakukan pengecekan lebih lanjut, rencana tersebut berubah. Sudaryono menjelaskan bahwa kondisi di Papua justru memiliki kelebihan tenaga kerja.
“Setelah kami cek, ternyata di Papua itu tenaga SPPG atau tenaga SPPI-nya itu ternyata over supply, artinya tenaga SPPI dengan dapurnya, dapurnya belum begitu banyak sehingga tenaganya over supply, sehingga kami tidak pindah ke Papua tapi kami pindahkan ke daerah lain,” jelasnya.
SPPG merupakan singkatan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, sementara SPPI adalah Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia. Kedua jenis tenaga ini memang menjadi fokus BGN dalam operasional program gizi nasional. Karena jumlah dapur yang tersedia di Papua belum sebanyak jumlah tenaga yang ada, maka pemindahan Adi tidak lagi relevan.
Sebagai alternatif, Sudaryono memutuskan untuk memindahkan Adi Afrianto ke Sulawesi Selatan. Wilayah tersebut dinilai membutuhkan penambahan tenaga SPPI untuk mendukung operasional program gizi di daerah tersebut.
“Jadi begini, jadi yang bersangkutan betul itu memang saya memberikan Zoom kemudian di layar pegang handphone ya, kemudian saya beri teguran, dan memang di situ saya sampaikan untuk dipindahkan ke Papua,” kata Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor BGN, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (31/7).
Fokus BGN pada Wilayah 3T dan Daerah Stunting Tinggi
Selain menangani kasus mutasi pegawai, Sudaryono juga menguraikan strategi BGN dalam memprioritaskan wilayah-wilayah tertentu. Badan Gizi Nasional saat ini sedang melakukan peninjauan menyeluruh terhadap wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau yang dikenal sebagai 3T.
Penyisiran wilayah 3T ini dilakukan dengan menggunakan data resmi dari Kementerian Kesehatan. Informasi tersebut kemudian disinkronkan untuk menentukan prioritas penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sudaryono menekankan bahwa penentuan wilayah prioritas tidak hanya melihat status 3T, tetapi juga angka stunting.
“3T ini kemudian kami sisir dari data Kementerian Kesehatan, itu sudah ada wilayahnya, provinsi mana, kabupaten mana, kecamatan mana, desa mananya sudah ada, dan ini sedang kita sinkronkan data sehingga mana yang prioritas, kita memang dari yang antre yang belum ada ini, kita fokuskan dulu memang nanti yang daerah yang memang stuntingnya tinggi,” jelasnya.
Menurut Sudaryono, wilayah dengan tingkat stunting tinggi tidak terbatas pada Papua saja. Nusa Tenggara Timur (NTT) juga menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian khusus dari BGN. Selain itu, beberapa kabupaten di Pulau Jawa juga ditemukan memiliki angka stunting yang cukup signifikan.
“3T ini sama dengan angka stuntingnya tinggi, nggak hanya di Papua tapi juga di NTT, di beberapa wilayah yang lain, termasuk ada beberapa temuan di beberapa kabupaten di Jawa, ada yang memang angka stuntingnya juga cukup tinggi gitu,” pungkas dia.
Keputusan untuk memindahkan Adi Afrianto ke Sulawesi Selatan ini mencerminkan pendekatan BGN yang berbasis data dan kebutuhan riil di lapangan. Program MBG yang sedang digulirkan memerlukan distribusi tenaga yang tepat sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
