Cari Nadira, Keluarga Upayakan Pelacakan Nomor dan Riwayat Ojek Online
Cari Nadira – Keluarga Nadira Az-Zahra (21), mahasiswi Telkom University, terus berupaya mencari individu tersebut yang dilaporkan menghilang sejak Selasa, 30 Juni 2026. Dalam upayanya menemukan keberadaan Nadira, keluarga bekerja sama dengan pihak berwajib, penyedia layanan transportasi daring, dan operator telekomunikasi untuk memperoleh data lebih lanjut. Budhi Purwa, paman Nadira, menjelaskan bahwa proses pencarian ini melibatkan pemeriksaan riwayat aktivitas dan lokasi terakhir korban. “Keluarga terus mengeksplorasi berbagai kemungkinan guna mengungkap lokasi terakhir Nadira,” ujarnya.
Strategi Pelacakan Berdasarkan Data Digital
Dalam usaha mencari Nadira, keluarga mengandalkan informasi yang diperoleh dari jalur digital. Mereka berkoordinasi dengan penyedia jasa ojek online dan operator telekomunikasi untuk melacak nomor ponsel serta aktivitas terakhir korban. Budhi menyebut bahwa Nadira memang menggunakan layanan ojek online untuk pergi ke kampus Telkom University. “Keluarga sedang fokus pada pelacakan melalui provider telepon dan vendor ojol yang diduga sering digunakan Nadira,” tutur Budhi.
Menurut Budhi, data dari layanan ojek online dan nomor ponsel korban menjadi kunci utama dalam mencari Nadira. Sebab, dari informasi yang dikumpulkan, Nadira sempat memberi tahu ibunya bahwa sudah tiba di area kampus Telkom University sebelum menghilang kontak. Namun, setelah itu, nomor ponselnya tidak aktif. “Kami mencoba menelusuri jejak Nadira dari titik terakhir penjemputan di kampus,” jelasnya.
Dengan adanya data dari CCTV, pelacakan diri Nadira semakin mengarah pada peristiwa terakhir yang tercatat. Namun, jejak setelah dijemput di kampus masih belum jelas. Untuk itu, keluarga berharap informasi dari penyedia layanan transportasi daring dan operator telekomunikasi bisa memberikan petunjuk tambahan. “Kami sangat berharap dukungan dari masyarakat untuk membantu menemukan Nadira,” imbuh Budhi.
Peran Teknologi dalam Pencarian Nadira
Kelompok kerja siber dan unit penyelidikan kepolisian juga terlibat dalam proses pencarian Nadira. Mereka menggunakan teknologi dan analisis data untuk menelusuri jejak digital korban. “Pihak kepolisian bergerak aktif dengan tim cyber-nya dan berbagai unit lainnya. Semuanya berjalan, tapi hingga saat ini belum ada kepastian,” kata Budhi.
“Kami sedang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber. Pihak kepolisian juga terus bergerak ya dengan tim cyber-nya dan lain-lainnya. Semua proses sedang berlangsung, tapi sampai saat ini belum ada titik terang,” tutur Budhi.
Beberapa teknik pelacakan seperti analisis riwayat panggilan, data lokasi, dan aktivitas penggunaan aplikasi ojek online menjadi fokus utama dalam pencarian Nadira. Selain itu, keluarga juga memanfaatkan media sosial dan warga sekitar untuk menyebarluaskan informasi dan menerima bantuan. “Dengan memanfaatkan teknologi, kami berharap bisa mempercepat proses penemuan Nadira,” pungkas Budhi.
Penelusuran terhadap data digital ini semakin kompleks, terutama karena Nadira menghilang tanpa meninggalkan jejak yang jelas. Keluarga juga memperhatikan setiap detail yang diperoleh, seperti rekaman suara, pesan teks, dan riwayat aktivitas. “Kami harus memilah informasi yang masuk dari masyarakat agar tidak mengganggu proses pencarian,” tambahnya.
Keluarga Nadira telah meminta bantuan berbagai pihak, termasuk penyedia layanan transportasi daring dan operator telekomunikasi. Mereka yakin bahwa data dari pihak-pihak tersebut bisa memberikan petunjuk penting tentang keberadaan Nadira. “Semoga dengan upaya yang dilakukan, Nadira bisa ditemukan dalam keadaan selamat,” harap Budhi.
