Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparannews

Key Discussion: Wamendagri Bima: Sistem yang Kuat, Fondasi Kota Tangguh Hadapi Bencana

Joseph Garcia - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Key Discussion: Bima Arya Soroti Pentingnya Sistem Kuat dalam Membangun Kota Tangguh Key Discussion - Dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi

Key Discussion: Wamendagri Bima: Sistem yang Kuat, Fondasi Kota Tangguh Hadapi Bencana

Key Discussion: Bima Arya Soroti Pentingnya Sistem Kuat dalam Membangun Kota Tangguh

Key Discussion – Dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026, Key Discussion menjadi topik utama yang dipaparkan oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto. Acara yang berlangsung di Ballroom Kartini, Hotel Le Polonia, Medan, Sumatera Utara, pada Minggu (28/6/2026), mengusung tema “Inspirasi Kota Tangguh” sebagai bagian dari Youth City Changers (YCC). Bima menegaskan bahwa Key Discussion ini bertujuan untuk menggali strategi dan inovasi yang dapat menguatkan fondasi tata kelola pemerintahan lokal agar lebih siap menghadapi bencana.

Kebersamaan dan Sistem Pemerintahan Lokal

Bima Arya Sugiarto menggarisbawahi bahwa bencana bukan hanya tantangan fisik, tetapi juga ujian bagi kemampuan sistem pemerintahan lokal. “Kota yang memiliki sistem yang kuat akan lebih tangguh dalam menghadapi krisis,” ujarnya dalam sesi Key Discussion. Menurut Bima, kota tangguh tidak bisa terbangun tanpa kebersamaan masyarakat, kepemimpinan yang kompeten, komunikasi yang efektif, dan data yang akurat. Ia mencontohkan bahwa dalam keadaan darurat, data yang up-to-date bisa mempercepat respons pemerintah dan mengurangi risiko kesalahan keputusan.

“Bencana adalah ujian bagi sistem. Barang siapa kota yang pemimpinnya mampu membangun sistem, maka akan lebih tangguh terhadap bencana. Bencana juga menguji kebersamaan, kepemimpinan, komunikasi, serta pada akhirnya kualitas data,” kata Bima Arya dalam Key Discussion tersebut.

Menurut Bima, pembangunan sistem yang kuat dimulai dari kesiapan dalam mengidentifikasi risiko bencana sejak dini. Ia menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga kebencanaan, dan masyarakat. “Sistem yang tangguh adalah fondasi yang menentukan keberhasilan kota dalam menghadapi bencana,” tambahnya. Dalam Key Discussion, ia juga membahas peran lembaga daerah dalam merancang kebijakan yang berkelanjutan dan responsif terhadap perubahan iklim.

Keterlibatan Generasi Muda dalam Pembangunan Kota Tangguh

Selain sistem, Bima menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam upaya membangun kota yang tangguh. Ia mengatakan bahwa partisipasi masyarakat muda bukan hanya sekadar penyaluran bantuan, tetapi juga perlu melibatkan mereka dalam proses perencanaan dan pendampingan kelompok rentan. “Generasi muda harus menjadi bagian dari solusi bencana, karena mereka adalah harapan masa depan,” ujarnya dalam sesi Key Discussion.

“Kondisi di lokasi pengungsian sering kali menyisakan persoalan yang luput dari perhatian. Trauma healing, konseling, serta langkah preventif untuk kekerasan seksual dan pelecehan berbasis gender, sering kali tidak jadi bagian dari rehabilitasi bencana,” tambah Bima Arya dalam Key Discussion terkait peran masyarakat.

Bima juga menyoroti kebutuhan pendidikan dan pelatihan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana. Ia menilai bahwa Key Discussion ini harus menjadi wadah untuk berbagi pengalaman dan membangun kemitraan yang lebih solid. “Kota tangguh adalah hasil dari komitmen bersama, dan Key Discussion menjadi platform untuk mendorong kolaborasi tersebut,” tuturnya. Ia menekankan bahwa keterlibatan generasi muda harus ditingkatkan agar kebijakan bencana dapat lebih inklusif dan efektif.

Dalam Key Discussion, Bima juga menyoroti kebutuhan pembaruan data kebencanaan sebagai bagian dari sistem yang kuat. Ia menyebut bahwa data yang lengkap dan terkini bisa menjadi alat untuk mengantisipasi bencana sebelum terjadi. “Tanpa data yang akurat, kita tidak bisa merancang sistem yang mampu meminimalkan dampak bencana,” ujarnya. Ia mencontohkan beberapa kota yang berhasil membangun sistem mitigasi bencana melalui penggunaan data secara optimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *