Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Kumparannews

Key Issue: Warga Kunjorowesi Mojokerto Krisis Air Bersih, Tempuh 7 KM Demi Sumber Air

Lisa Johnson - kabarnusantaraku.com 3 mins read

Key Issue: Warga Mojokerto Krisis Air Bersih, Tempuh 7 KM Demi Sumber Air Krisis Air di Dusun Kandangan Key Issue - Krisis air minum di Dusun Kandangan, Desa

Key Issue: Warga Kunjorowesi Mojokerto Krisis Air Bersih, Tempuh 7 KM Demi Sumber Air

Key Issue: Warga Mojokerto Krisis Air Bersih, Tempuh 7 KM Demi Sumber Air

Krisis Air di Dusun Kandangan

Key Issue – Krisis air minum di Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, menjadi Key Issue utama dalam kehidupan masyarakat setempat. Setelah empat bulan kekeringan mengancam wilayah lereng Gunung Penanggungan, warga kini terbiasa mengakses air secara tidak rutin. Sumber air utama yang biasa digunakan, seperti mata air alami dan sumur, kini hampir habis. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka terpaksa mengumpulkan air hujan di kolam penampungan atau tangki pribadi. Key Issue ini menggambarkan ketidaknyamanan yang dihadapi seluruh keluarga, termasuk anak-anak dan lansia, yang harus memperjuangkan akses air bersih.

Upaya dan Tantangan Masyarakat

Krisis air di Desa Kunjorowesi mulai terasa sejak April 2026, menurut pengakuan Mahfud (43), warga setempat. “Setiap tahun, kita selalu mengalami Key Issue air bersih karena musim kemarau yang semakin ekstrem,” katanya, Sabtu (18/7). Meski air hujan bisa digunakan selama sekitar satu bulan, persediaan kini semakin terbatas. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah desa mengalirkan air melalui pipa bantuan dari Trawas, tetapi sistemnya hanya berlaku secara bergiliran. Dengan 12 RT di wilayah tersebut, setiap RT hanya bisa menikmati air selama 12 hari, sebelum giliran berpindah ke RT berikutnya.

“Kami sudah menunggu bantuan selama beberapa bulan, tapi belum ada yang memenuhi kebutuhan. RT kami, yang ke-12, harus menunggu 12 hari sebelum air kembali mengalir. Dalam waktu tersebut, warga hanya bisa mengandalkan air hujan dan tabungan,” pungkas Mahfud. Key Issue ini juga memaksa masyarakat mengalokasikan waktu tambahan untuk mengebor sumur di tanah mereka, meski hasilnya tidak optimal. Tanah kering dan rendahnya volume air menyulitkan proses pengeboran, bahkan dengan bantuan ahli.

Sumber Alternatif di Wilayah Lain

Mengingat Key Issue air bersih yang menghimpit, warga harus rela bepergian jarak jauh untuk mendapatkan air. Mereka mengambil air dari Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, yang berjarak tujuh kilometer. Wilayah Sumber Tetek menjadi sumber air alternatif yang kini diandalkan oleh sekitar 200 kepala keluarga. Beberapa warga mengangkut air menggunakan sepeda motor, sementara yang tidak punya kendaraan biasanya menyewa pikap secara bersama. Proses pengambilan ini memakan waktu hingga 2-3 jam sehari, menguras tenaga dan energi.

Kondisi Ekonomi dan Kesehatan

Key Issue krisis air bukan hanya memengaruhi ketersediaan, tetapi juga mengancam kesehatan dan ekonomi warga. Anak-anak yang tidak bisa minum air bersih secara teratur rentan terhadap penyakit menular, sementara para petani mengalami kesulitan menyiram tanaman. “Kami harus mengorbankan kebutuhan sehari-hari untuk memprioritaskan air. Ini membuat pengeluaran semakin mahal, karena harus membeli air dari luar,” jelas salah satu warga. Kebutuhan masyarakat terhadap air juga meningkat, terutama saat suhu panas dan makanan membutuhkan air yang lebih banyak.

Analisis Dampak Kekeringan

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, tiga desa di wilayah lereng Gunung Penanggungan, termasuk Desa Kunjorowesi, terkena dampak kekeringan yang parah. Dalam data terbaru, Desa Kunjorowesi mencatatkan 1.499 kepala keluarga (KK) atau sekitar 3.053 jiwa yang kesulitan akses air bersih. Wilayah tersebut adalah salah satu dari tiga desa yang diterjang krisis, bersama Desa Manduro Manggung Gajah dan Desa Duyung. Key Issue ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan dan pengelolaan sumber daya air menjadi tantangan utama.

Solusi dan Harapan

Warga Desa Kunjorowesi berharap pemerintah setempat segera menyelesaikan Key Issue ini. Mereka meminta bantuan dalam bentuk pompa air, tabung penyimpanan, atau sumur bor yang lebih efektif. “Kami ingin solusi jangka panjang, bukan hanya bantuan sementara. Selama ini, kita hanya berharap mendapatkan air dari desa lain,” kata Mahfud. BPBD Mojokerto telah mengirimkan tim evaluasi untuk menilai kondisi, tetapi warga masih menunggu adanya pasokan air yang lebih stabil. Key Issue ini juga memicu diskusi tentang keberlanjutan sumber air di wilayah kering, terutama dalam konteks perubahan iklim yang semakin sering memengaruhi pola hujan.

Peran Pemerintah Daerah

Pemerintah Kabupaten Mojokerto sedang berupaya memperbaiki sistem distribusi air bersih, tetapi Key Issue yang terjadi memperlihatkan keterbatasan infrastruktur. Di sisi lain, masyarakat secara aktif mengambil langkah mitigasi, seperti menghemat penggunaan air dan berbagi sumber daya. Warga juga mengeluhkan lambatnya respons dari pihak berwenang, terutama karena jarak yang jauh dan kurangnya anggaran. “Kami ingin kebutuhan air tidak lagi menjadi Key Issue yang membebani. Ini harus menjadi prioritas,” harap salah seorang perwakilan warga. Dengan kondisi yang terus memburuk, kebutuhan akan solusi inovatif menjadi semakin mendesak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *